
"Heh ... jadi kamu tersesat, ya ..." ucap seorang gadis yang membawa keranjang sayur.
Aku mengangguk.
Namaku Reynald, Sonne Reynald Einzel. Aku baru saja dipindahkan ke dunia baru, sebuah dunia yang aku tidak tahu bagaimana sistemnya, kepercayaannya, seberapa modern teknologi, dan seberapa maju peradabannya.
Aku yang duduk bertongkat tangan di bawah pohon yang rimbun, tanpa sengaja bertemu seorang gadis berambut pirang dengan mata biru yang indah.
"Ah, namaku Lacheln. Namamu siapa?" ucap sang gadis mengulurkan tangan yang tak memegang keranjang.
Reynald melihat sejenak tangan sang gadis. Reynald kemudian menoleh ke wajah Lacheln. Senyuman Lacheln yang tulus membuat keraguannya menghilang.
"Reynald, namaku Reynald. Senang bertemu denganmu, Lacheln." Reynald menjabat tangan Lacheln.
***
Keduanya berjalan menuruni bukit, menuju ke desa tempat Lacheln tinggal.
"Eh, Reynald, kamu berasal dari mana?" tanya Lacheln.
"Ah, aku dari ... suatu negeri yang jauh dari sini."
Lacheln yang mendengar jawaban tersebut langsung memasang wajah bingung. "Kamu bilang kamu tersesat. Tapi kamu dari negeri yang jauh? Lalu, kamu kok bisa kesasar sampai sini?" Lacheln yang polos dan blak-blakan langsung bertanya sesuai apa yang terlintas di kepalanya.
Sebuah tombak raksasa seperti menusuk tepat di jantung Reynald.
"Ya ... kalau itu ...."
"Kak Lacheln!" panggil seorang gadis kecil.
Lacheln langsung melihat ke arah orang yang memanggilnya. "Ah, Ruhi!" jawab Lacheln dengan melambaikan tangannya.
Ruhi berniat menghampiri Lacheln, tapi begitu melihat sosok Reynald di samping Lacheln, ia mengurungkan niatnya. Ia menunggu di depan gapura pintu masuk desa.
"Ruhi, kenalkan, namanya Reynald." Lacheln mengangkat tangannya sedikit ke arah Reynald. Reynald sedikit mengangkat tangan kirinya, berniat untuk menyapa.
Ruhi dengan cepat langsung ke samping Lacheln dan memeluknya. Ia bersembunyi di balik Lacheln dan mengintip Reynald.
"Tenang saja, Ruhi. Kakak ini baik kok."
Ruhi kembali menutupi wajahnya. Lacheln sedikit menghela napas dan tersenyum lembut. Ia kemudian mengelus kepala Ruhi dan berkata kepada Reynald, "Maaf, dia memang sedikit pemalu. Tapi aslinya dia anak yang sangat ceria kok."
Reynald tersenyum mendengar ucapan menenangkan Lacheln. Ia kemudian berlutut dan berkata, "Namaku Reynald. Siapa namamu?"
Ruhi masih bersembunyi, namun kepalanya sedikit keluar. "Ru-Ruhi ..."
"Ruhi, ya ... nama yang indah."
Mendengar pujian tersebut, mata Ruhi langsung berbinar. Ia yang semula malu-malu, langsung keluar dari persembunyiannya. "Ya kan, ya kan?! Ibuku yang memberi nama itu!"
Reynald tersenyum dan tertawa kecil. Ruhi kemudian mendekati Reynald dengan bersemangat dan bertanya, "Kakak, apa Kakak pacarnya Kak Lacheln?"
Pertanyaan Ruhi membuat Lacheln terkejut dan tersipu malu. "Ru-Ruhi!"
"Hm? Kan, kata ibu, Kakak sudah boleh menikah."
"Hanya karena boleh menikah bukan berarti Kakak akan langsung menikah!" balas Lacheln yang kemudian sedikit menepuk kepala Ruhi.
Ruhi mengelus kepalanya yang sehabis ditepuk oleh Lacheln. "Kakak, Kakak! Jangan mau menikah dengan orang galak seperti dia!" ucap Ruhi menarik-narik lengan Reynald.
"Ruuhi!"
***
Di dalam sebuah rumah kayu, Reynald sedang duduk berhadapan dengan seorang kakek-kakek di ruang tengah. Rambutnya botak, putih sepenuhnya. Kedua tangannya bertopang pada tongkat walaupun sedang dalam posisi duduk.
__ADS_1
"Jadi, namamu ...."
"Reynald, Kek."
"Reynald .... Berdasarkan cerita Lacheln, kamu tersesat, ya."
Reynald mengangguk.
"Kalau begitu, bagaimana dengan tinggal di desa ini sesaat?"
Tawaran sang Kakek sedikit mengejutkan Reynald. Ia yang merupakan orang asing, tiba-tiba ditawari untuk tinggal sesaat.
"Bo-bolehkah?"
Sang Kakek tersenyum. "Ya, tentu boleh. Lacheln-lah yang membawamu ke desa ini. Akan sangat tidak sopan bagi kami jikalau membiarkanmu pergi begitu saja."
Reynald tersenyum dan menjawab, "Baiklah, dengan senang hati saya terima tawarannya."
Sang Kakek memandang lurus wajah Reynald. Ia kemudian sedikit memiringkan kepalanya. Reynald yang sedikit risih bertanya, "A-ada apa, Kek?"
"Oh, maaf-maaf .... Hanya saja, kamu mengingatkanku dengan cucuku yang sudah lama meninggal."
Ucapan sang kakek membuat Reynald sedikit merasa bersalah. "Maaf, turut berduka atasnya."
"Terima kasih, tapi kamu tak perlu meminta maaf."
***
Reynald pun mulai diperkenalkan dengan warga sekitar. Ia kemudian diajak berkeliling oleh Ruhi dan Lacheln. Reynald kemudian menyadari bahwa transportasi, profesi, dan komunikasi semuanya masih tradisional. Namun, ada satu hal yang membuatnya terkejut dan mematahkan semua ekspetasinya.
Yaitu, adanya sebuah sihir.
Meskipun tak semua hal melibatkan sihir, namun ada beberapa profesi yang menggunakan kekuatan sihir. Salah satunya penebang kayu dan penjaga keamanan.
"Dengan memohon berkah kepada Dewa Angin, lapisilah busur dan anak panahku dengan kekuatan dan berkah-Mu. Wind Arrow!"
Anak panah mengenai target panahan dan kemudian mengeluarkan hembusan angin yang cukup kuat. Sang pemuda kemudian menghela napas dan mengambil satu anak panah dari tas panah di punggungnya.
"Kak Yebe!" panggil Ruhi dengan melambaikan tangannya.
Yebe yang mendengar panggilan tersebut melirik. Ketika ia melihat Ruhi, ia langsung menoleh dan tersenyum serta melambaikan tangan.
Ketiganya kemudian berjalan menghampiri Yebe. Ruhi dan Yebe memiliki ayah yang sama, namun beda ibu. Meski begitu, Yebe sangat menyayangi adiknya. Ia bahkan siap membunuh ayahnya jikalau sang ayah kembali menyakiti Ruhi.
Ruhi berlari dan kemudian melompat ke Yebe, Yebe menangkapnya dan memeluknya. Keduanya sempat berputar sebentar. Yebe kemudian menurunkan Ruhi.
Yebemelihat ke arah Lacheln dan Reynald yang baru datang.
"Namaku Yebe. Melihatmu datang dengan Ruhi dan Lacheln, kamu pasti pendatang baru itu ya?" ucap Yebe.
Reynald sedikit terkejut. Karena berita kedatangannya belum tersebar luas, bahkan mayoritas dari orang-orang yang dihampiri olehnya belum mengetahui berita mengenai kedatangannya. Dan Yebe, yang sedang latihan di tempat yang cukup jauh dari desa, tiba-tiba sudah mengetahui mengenai kedatangan dirinya.
"Hahaha, kau pasti terkejut, kan?" ucap Yebe yang memasukkan kembali anak panahnya. "Tak perlu seterkejut itu. Aku adalah seorang pemanah. Maka dari itu, sudah sewajarnya aku mengasah indra pendengaranku."
Mulut Reynald sedikit terbuka, kedua alisnya sedikit terangkat. Masuk akal ....
"Namaku Reynald, senang bertemu denganmu." Reynald mengulurkan tangannya. Yebe menyalaminya.
***
Sore hari menjelang malam hari telah tiba. Semua orang telah selesai dari pekerjaannya. Begitu pula dengan Yebe yang telah selesai dengan latihannya.
Keempatnya berjalan kembali ke desa. Di jalan, mereka berbincang-bincang kecil.
"Heh, kamu dari negeri yang jauh, ya ..." ucap Yebe. "Negeri seperti apa itu?"
__ADS_1
"Hm ... negeri yang setiap individunya lebih mementingkan kepentingan individu di atas kepentingan bersama. Sebuah negeri di mana para pemimpinnya dipilih bukan berdasarkan hati, melainkan uang. Sebuah negeri di mana tak ada tempat yang memiliki ketenangan seperti yang desa kalian miliki ...."
Ucapan Reynald yang tulus dari hati sembari melihat ke langit, membuat Ruhi, Lacheln, dan Yebe sedikit kebingungan. Ketiganya saling melihat satu sama lain, seolah-olah bertanya "Apa kau mengerti?" dan dijawab "Tidak."
Waktu terus berjalan. Ketika malam hari telah tiba, Reynald bersama dengan Yebe, Ruhi, dan Lacheln makan malam bersama. Keempatnya duduk di meja makan. Ibu Lacheln memasakkan makanan berkuah yang merupakan makanan sehari-hari Lacheln dan yang lain.
"Makanan ini lagi?" ucap Ruhi yang kecewa.
"Ruhi, jangan memprotes makanan yang sudah disajikan. Malah seharusnya, kamu bersyukur karena masih bisa makan hari ini," ucap Yebe menasihati.
Ruhi cemberut, ia yang tiap hari terus makan makanan yang sama tentu akan bosan. Yebe dan Lacheln mengerti akan hal itu.
"Kalau begitu, bagaimana besok kalian berburu? Kalau kalian bisa mendapatkan daging yang banyak, Ibu akan membuat makanan yang sa~ngat enak!" ucap Ibu Lacheln yang kemudian duduk.
"Benarkah?! Kalau begitu, Kak Yebe, Kak Yebe!" ucap Ruhi yang kembali bersemangat.
"Ya, Kakak akan berjuang!" jawab Yebe dengan tersenyum dan memberikan jempolnya.
Jawaban Yebe membuat Ruhi senang hingga matanya berbinar-binar. Ia kemudian langsung menyantap makanan yang sudah dihidangkan di depannya. Yebe, Lacheln, dan Ibu Lacheln kemudian ikut memakan hidangan yang sudah tersedia.
"Ada apa, Nak Reynald?" tanya Ibu Lacheln. "Apa ... kamu tidak suka dengan makanannya?" tanyanya kembali dengan sedikit khawatir.
"Bu-bukan begitu, Tante ..." jawab Reynald yang sehabis melamun. Ia kemudian menyatukan kedua tangannya dan mulai memanjatkan doa.
Gerakan aneh Reynald membuat Lacheln dan yang lain bingung.
"Amin. Selamat makan." Reynald kemudian mengambil sendok dan kemudian terdiam sejenak melihat Lacheln dan yang lain melihatnya dengan sedikit kebingungan.
"Reynald ... itu tadi ... apa yang baru saja kamu lakukan?" tanya Yebe.
"O-oh, ini disebut sebagai 'doa'," jawab Reynald yang kemudian menunjukkan kedua tangan disatukan. "Ini adalah gerakan yang dilakukan oleh orang-orang di negeriku untuk bersyukur atas nikmat yang diberikan oleh Tuhan."
Lacheln dan yang lain serentak mengucapkan, "Ohh," hingga mulutnya membentuk O.
"Unik juga ya negerimu," ucap Yebe.
"Hm? Kenapa?"
"Di negeri kami, doa yang kamu maksud, hanya diucapkan saat meminta kekuatan. Seperti ketika aku tadi mengeluarkan Wind Arrow."
Reynald menjawab reflek, "Oh ..." dan mengangguk-angguk.
Suasana hening dan canggung sejenak. Suara perut Reynald tiba-tiba berbunyi.
"Maaf ..." ucap Reynald diikuti tawa dari Yebe dan yang lain.
"Silakan-silakan, pelan-pelan saja makannya," ucap Ibu Lacheln kepada Reynald.
Reynald tersenyum dan mengangguk. Ia mengambil sendoknya, mengambil sesuap sup kentang, dan menyantapnya.
Ia terdiam sejenak. Air matanya mengalir tanpa sadar. Rasa yang sudah lama tak ia rasakan. Kehangatan yang sudah lama tak ia rasakan. Bumbu yang telah lama hilang dari setiap makanan yang ia rasakan.
Semua itu ... kembali dalam satu suapan.
Ruhi yang sedang asik makan, iseng melihat Reynald. "Ibu, Ibu! Kak Reynald menangis!" ucapnya yang panik.
Yebe, Lacheln, dan Ibunya langsung melihat ke arah Reynald.
"Re-Reynald?!" ucap panik ketiganya.
Ah ... rasa ini ... batin Reynald yang kemudian melihat ke makanannya. Ia kemudian menyantap lagi sup kentangnya. Ya ... tak salah lagi!
Reynald makan dengan sangat lahap, membuat Yebe, Lacheln, dan ibunya yang sempat mau bertanya terdiam kebingungan.
Ruhi yang melihat Reynald makan dengan lahap tak mau kalah. Ia langsung ikut menyantap makanannya secepat yang ia bisa.
__ADS_1
Rasa ini ... Ibu ... Ayah ... sudah berapa lama, ya ... sejak terakhir kali kita makan bersama? batin Reynald dengan tersenyum dan menangis.