
Ha?
Reynald memasang wajah kebingungan. Sementara sang T-Rex masih memejamkan matanya, menunggu nama untuknya.
Ko-kontrak? Na-nama? Tunggu dulu ... apa maksudnya ...?
Reynald melihat ke arah bola kristal yang dipegangnya.
Apa tak ada semacam petunjuk? Wahai, Bola, tak bisakah kau melakukan sesuatu?
"Apakah ada yang salah ...?" T-Rex membuka matanya dengan curiga.
Napas panasnya berembus pelan ke wajah Reynald. Reynald tahu bahwa tak ada satu persen pun kemungkinan untuknya menang melawan sosok yang ada di hadapannya.
Aku harus melakukan sesuatu! Tapi apa ....
T-Rex memicingkan matanya. Ia menegakkan tubuhnya dengan rasa curiga yang semakin besar.
"Apakah benar ... kau yang membangkitkanku ...?"
Pertanyaan dari sang T-Rex membuat Reynald menelan ludah. Seperti seorang anak kecil yang ketahuan berbohong, Reynald terdiam dengan sedikit gemetar.
Reynald mengangkat sedikit kepalanya penasaran. Dan tiba-tiba, ia melihat kaki dari sang T-Rex sudah mau menginjaknya.
Debam!
Sepersekian detik sebelum kaki dari sang T-Rex menginjaknya, Reynald menghindari serangan tersebut dengan berputar ke arah samping lalu langsung berdiri kembali. Sang T-Rex menatap tajam kepadanya. Sang T-Rex merasa kesal karena merasa sudah dibodohi oleh makhluk yang lebih lemah darinya.
Sang T-Rex membuka mulutnya, mengeluarkan sebuah bola ungu yang berkobar dan berputar di dalam mulutnya. Reynald yang tahu bahwa serangan itu akan memberikan kerusakan yang sangat fatal, langsung berlari menjauh memasuki hutan.
Sang T-Rex menembakkan bola ungu yang ada di mulutnya ke arah Reynald. Reynald menggelantungkan tangannya pada batang pohon dan memutar tubuhnya. Bola ungu melewati dirinya.
Ketika bola ungu menyentuh tanah, bola tersebut meledak dan membuat embusan angin yang sangat kuat hingga menggoyangkan pohon dan ledakan yang cukup besar.
Reynald terhempas cukup jauh hingga menabrak sebuah pohon. Terkapar, Reynald mencoba untuk kembali berdiri. Ia kemudian melihat ke arah ledakan.
Lubang berbentuk setengah bola dengan ukuran yang mampu dimasuki sebuah bus kota tercipta. Reynald menatap lubang dengan memikirkan seribu cara untuk menyelesaikan masalahnya.
Apa yang harus aku lakukan ...? Lari atau lawan? Lari? Tapi pulau ini sangatlah terbatas. Lawan? Kekuatanku tak mungkin cukup.
Reynald kemudian mengepalkan kuat tangannya. Ia kemudian menyadari bahwa ia masih menggenggam bola kristal yang ditemukannya.
Bola ini ... hanya ini yang aku punya. Dan berdasarkan insting dan perkiraanku ... bola ini adalah penyebabnya. Tunggu .... Kalau ini penyebabnya ....
Reynald yang menyadari sesuatu langsung mengangkat kepalanya ke depan. Ia kemudian melihat sang T-Rex yang sedang berlari ke arahnya dengan tatapan membunuh.
__ADS_1
Tak ada waktu untuk berpikir! Berhasil atau mati!
"Namamu adalah Everest!"
Sang T-Rex yang berlari langsung mempelankan langkahnya dan kemudian berhenti tepat di hadapan Reynald.
Dua buah cahaya yang muncul seperti sebuah selendang, perlahan-lahan memutari tubuh sang T-Rex dan kemudian melilit tanpa menyakitinya.
Sang T-Rex memejamkan matanya. Kedua selendang cahaya bersinar dengan lebih terang daripada matahari. Reynald memalingkan pandangannya dan menutupi kedua matanya dengan tangannya.
Woosh! Embusan angin yang kencang tapi tak menerbangkan keluar. Bersamaan dengan itu, cahaya yang bersinar ikut sirna.
Reynald kembali melihat ke arah sang T-Rex. Matanya perlahan ia buka dengan tangan yang ia turunkan.
Matanya melebar terkejut. Sosok yang tadinya memiliki ukuran sangat besar, kini menjadi seukuran manusia. Tubuhnya juga berubah menjadi seperti tubuh manusia yang berotot. Ekornya yang mengeluarkan api masih menempel di dekat tulang ekornya, tak begitu besar dan tak begitu panjang pula.
Rambut merah agak panjang dan berantakan, mata merah setajam pedang, tangan yang seperti sebuah cakar, dan kulit tubuh yang memiliki corak seperti reptil.
Reynald kebingungan melihat sosok yang ada di hadapannya. Ia menduga bahwa sosok yang ada di hadapannya adalah T-Rex tadi, tapi ia ragu karena tak ada bukti jelas yang mendukung prasangkanya.
"Kau ... siapa?" tanya Reynald dengan memicingkan mata curiga.
Sang T-Rex berlutut dengan tangan kiri yang meninju tanah.
Ternyata benar! Dia adalah T-Rex tadi. Berarti ... pemberian nama itu berhasil .... Oke, sekarang aku mendapatkan informasi baru.
Reynald berdiri dengan bertopang dagu. Berpikir dan mencerna segala hal yang baru saja terjadi. Sementara itu, Everest dengan bergeming terus berlutut menunggu perintah selanjutnya.
Bola kristal itu bisa membangkitkan sosok mengerikan seperti dia. Lalu, setelah dibangkitkan, aku harus memberinya sebuah nama. Pembangkitan ... apakah aku hanya bisa membangkitkan makhluk sepertinya? Apakah aku bisa membangkitkan manusia? Apakah harus melalui pembangkitan? Tunggu ... tenangkan pikiranmu dulu. Kita pikirkan secara perla ....
Reynald yang terlalu asik berpikir, baru sadar bahwa Everest masih berlutut di hadapannya.
"Ahm ... apa yang sedang kaulakukan?"
"Menunggu perintah selanjutnya dari Anda."
Aku benar-benar lupa!
"Ekhem, maaf. Berdirilah."
Everest berdiri lalu berkata, "Anda tidak perlu meminta maaf, Tuan."
Tidak, tidak ... dirimu yang seperti ini justru membuatku terus terhantui rasa bersalah. Hm ... tunggu dulu. Perasaan ini tak asing. Seperti ... dulu ada yang pernah bersikap sekaku ... i ... ni ....
Reynald baru menyadari sesuatu.
__ADS_1
***
Reynald dan Everest berada di pantai, tepatnya di samping tempat di mana Reynald mengubur jasad Fidel. Napas Reynald terengah-engah. Bukan karena kelelahan, namun perasaan campur aduk antara ragu-ragu, panik, dan ketakutan.
"Tuan, apa yang ingin Anda lakukan?"
"... Tunggu sebentar ...." Reynald memegang dadanya. Tenangkan dirimu, Reynald! Apa yang kau takutkan?!
Everest memperhatikan tuannya dengan lirikan matanya. Ia yang baru saja terlahir, belum begitu pandai dalam mengenali yang namanya emosi. Ia hanya terdiam sementara tuannya sesak napas.
Reynald menarik napasnya dalam-dalam dan kemudian berhasil menenangkan dirinya.
"Everest, ini tugas pertama untukmu. Tolong gali kuburan ini."
Tanpa basa-basi, Everest langsung melaksanakan perintah tuannya.
Everest berlutut. Kedua tangannya diangkat dan dengan cakarnya, ia menggali kuburan dengan sangat cepat. Reynald mengepalkan kuat tangannya, mencoba menghilangkan perasaan negatif yang masih tersisa dalam dirinya.
Aku mohon ... semoga ini berhasil!
Setelah menggali sekitar beberapa detik saja, Everest telah sampai ke titik di mana ia melihat jasad seseorang. Ia kemudian menyimpulkan bahwa ia telah menggali sedalam yang tuannya perintahkan.
"Tuan."
Reynald mengangguk. Everest menepi lalu kembali berdiri di samping tuannya.
Dengan gemetaran, Reynald mengeluarkan bola kristalnya. Ia kemudian memandangi bola kristal miliknya, lalu memandang ke arah Everest.
Reynald teringat dengan permintaan terakhir Fidel, untuk membangkitkannya dalam wujud apa pun bahkan iblis sekali pun. Meski begitu, Reynald tak ingin sahabatnya bangkit dalam wujud iblis. Tapi, di satu sisi, ia tak menemukan cara lain selain cara yang sama dengan yang ia lakukan untuk membangkitkan Everest.
*Aku harus melakukannya ... Aku harus melakukannya ... *Aku harus melakukannya .... Hilangkan keraguanmu dan lakukanlah!
Reynald mengepalkan tangannya hingga menggenggam kuat bola kristal yang dipegangnya. Cahaya ungu yang bersinar terang muncul dari genggaman tangannya.
Cahaya yang sangat terang hingga membuat silau mata muncul. Dan setelah cahaya itu sirna, Reynald melihat sebuah telur di hadapannya. Telur tersebut berada tepat di samping makam sahabatnya.
Reynald menelan ludah. Khawatir dengan apa yang akan terjadi. Bagaimana kalau ingatan sahabatnya terhapus? Bagaimana kalau sahabatnya menjadi sangat liar? Dan berbagai spekulasi negatif lain. Tapi, Reynald telah membuat keputusan. Dan apa pun yang terjadi, ia tak ingin dan tak akan menyesalinya.
Telur yang ada di hadapannya perlahan retak.
Fidel ...!
---
Terima kasih sudah membaca dan mohon dukungannya. Semoga Author dapat konsisten dalam menulis dan menyelesaikan cerita ini, aamiin. Jangan lupa untuk Like dan Favorit, ya. Untuk saran dan kritik bisa dicantumkan pada kolom komentar. Dan sekali lagi, terima kasih!
__ADS_1