
Berhasil ....
Reynald tertegun melihat sosok yang ada di hadapannya.
"Tuan ...?" ucap sang Harimau Wanita yang membuat Reynald terperanjat.
"Ah, maaf. Ekhem, benar. Akulah yang membangkitkanmu."
Sang Harimau Wanita bersimpuh lalu membungkukkan kepalanya. "Mohon kemurahan hati Anda untuk memberikan saya sebuah nama."
Harimau putih ... kulit putih dengan loreng hitam di lengan, atau sekujur tubuh? Reynald yang terlalu asik memikirkan nama pun keceplosan.
"Shina ...."
"Shina ... dengan senang hati saya terima nama itu."
Heh?
Dua buah cahaya seperti selendang muncul dan mememutari Shina, kemudian melilit tanpa menyakitinya. Shina memejamkan matanya dan cahaya yang lebih terang dari sinar matahari muncul di tengah gelapnya malam.
Ini sudah yang ke sekian kalinya dan aku masih belum terbiasa ... batin Reynald yang menutup dan mengalihkan pandangannya.
Ketika sedang memalingkan pandangannya, Reynald baru tersadar akan sesuatu. Ia baru sadar akan perbedaan yang cukup mencolok antara ketika ia membangkitkan Everest dan ketika ia membangkitkan Shina. Ketika ia membangkitkan Everest, Everest muncul dengan wujud yang hampir menyerupai wujud sebelum kematiannya. Sedangkan Shina, setelah ia dibangkitkan, ia muncul dengan wujud yang menyerupai manusia. Wujud yang baru didapatkan oleh Everest setelah diberi nama.
Reynald yang menyadari hal itu, menjadi sangat penasaran dengan wujud seperti apa yang akan didapatkan oleh Shina setelah diberi nama.
"Tuan, proses pemberian nama telah selesai." ucap Everest.
Mendengar hal itu, Reynald membuka mata dan melihat ke depannya.
Reynald terdiam tak berkata apa-apa.
"Apakah ada yang salah, Tuanku?" tanya Shina yang tak ada perubahan pada wujudnya.
"Ti-tidak ... tidak .... Tapi sebenarnya, ya. Ada yang membuatku kebingungan."
Everest dan Shina memasang kuping.
"Maaf kalau menyinggung, tapi kenapa wujudmu tak ada berubah setelah diberi nama? Bahkan, setelah kau dibangkitkan, wujudmu langsung ke wujud yang menyerupai manusia. Tak seperti Everest yang ketika dibangkitkan, wujudnya menyerupai wujud sebelum ia dibangkitkan?"
Aku harap aku tak belibet.
Everest dan Shina saling memandang dengan wajah kebingungan. Reynald yang menyadari ekspresi bingung keduanya, tapi tak enak hati karena tak bisa menjawab pertanyaan tuannya, menghela napas.
"Kalau memang tak tahu, tak apa. Kita akan cari tahu sama-sama," ucap Reynald dengan tersenyum.
Ucapan Reynald membuat Everest dan Shina sedikit malu. Namun, ucapan "Kita akan cari tahu sama-sama" Reynald membuat keduanya senang. Keduanya membungkuk dan berkata, "Dengan senang hati, Tuan."
Reynald mengangguk. Ia kemudian terpikirkan tentang sahabatnya yang gagal dalam proses pembangkitan. Di satu sisi, ia juga merasa telah menemukan sesuatu yang menyebabkan kegagalan dalam prosesi pembangkitan.
__ADS_1
"Everest, apa makhluk itu (King Kong) sudah mati?"
"Belum, Tuan. Napasnya masih ada walau sangat tipis."
"Baiklah, tolong bawakan telur yang ada di gua kemari."
"Baik, Tuan."
Everest langsung mengentakkan kakinya dan dengan satu entakan itu pula, ia langsung melompat dan sampai ke mulut gua.
E-Everest ... kau tidak akan membawa telur itu dengan lompatan seperti ini, kan ...? batin Reynald dengan wajah syok dan khawatir.
Everest memasuki gua dan keluar lagi dengan membawa telur di pelukannya. Ia kemudian berjalan perlahan, memastikan tak ada sedikit pun cairan yang jatuh ke tanah.
Fyuh, syukurlah ....
Everest telah sampai di hadapan Reynald. Ia menaruh telur yang dibawanya tepat di samping tubuh sang King Kong sesuai apa yang diperintahkan oleh Reynald.
Reynald menarik napas, menguatkan hatinya untuk mengatakan sesuatu yang tak pernah ia sangka akan ia katakan.
"Everest, bunuh makhluk itu," ucap Reynald dengan berat hati dan gemetaran.
"Baik, Tuan."
Everest berjalan mendekati King Kong yang matanya sudah mulai terkatup. Everest mengangkat tangan kanannya dan lalu ditusukkannya tepat ke jantung dari sang King Kong.
Mata sang King Kong melebar sekilas. Mulutnya terbuka dan memuncratkan darah. Dan hanya dalam hitungan detik, sang King Kong mengembuskan napas terakihrnya.
"Terima kasih. Kau bisa mundur."
Everest mengeluarkan tangannya, membungkuk dengan mata yang dipejamkan sekilas, dan mundur; bersebelahan dengan Shina.
Inilah saatnya .... Aku harap, teoriku benar.
Reynald mengeluarkan bola kristalnya. Bola kristal itu mulai bersinar.
Reynald berasumsi bahwa kegagalannya dalam membangkitkan Fidel disebabkan oleh tak adanya wadah yang pas untuk Fidel dapat bangkit kembali. Sebagai contoh, Everest dapat bangkit kembali karena tubuh lamanya belum lama mati sehingga masih "utuh". Begitu pula dengan Shina, yang tepat setelah kematiannya, ia langsung dibangkitkan kembali.
Dan dengan dua bukti tersebut, Reynald berhipotesis bahwa dengan menjadikan King Kong sebagai wadah, maka Fidel dapat bangkit kembali walau dengan wujud yang berbeda.
Cahaya yang membutakan mata muncul. Reynald untuk yang ke sekian kalinya memalingkan wajahnya dan menutup matanya.
Embusan angin yang cukup kuat muncul. Cukup kuat hingga membuat pakaian Reynald dan yang lain berkibas kencang. Cukup kuat pula hingga membuat rumput dan pepohonan bergoyang.
Setelah embusan angin dan cahaya yang menyilaukan menghilang ....
"Tuan ... Reynald?"
Suara yang asing di telinganya muncul. Bukan suara Everest, bukan pula suara Shina. Suara yang belum pernah didengarnya, tapi entah mengapa ... tak terasa asing di telinganya.
Reynald menelan ludah. Mengumpulkan semua keberanian yang ada di dalam dirinya untuk melihat ke sosok yang memanggilnya.
__ADS_1
Reynald membuka matanya, walau pandangannya belum ke arah depan. Lalu secara perlahan, ia mulai memalingkan wajahnya ke arah yang memanggil namanya.
Sesosok King Kong berwarna putih dengan zirah besi di badan dan sarung tangan besi muncul di hadapannya. Mata berwarna putih polos dengan pinggiran berwarna ungu yang berkobar layaknya api.
"Fi ... del ...?" ucap Reynald dengan mata yang berkilapan.
"Ya! Ini saya, Tuan! Anda ... telah membangkitkan saya, telah memenuhi permintaan terakhir saya!" ucap Fidel dengan mengentak-entakkan tanah dengan kedua tangan besarnya.
Reynald, Everest, dan Shina bergoyang ke sana kemari. Burung-burung yang ada di pepohonan beterbangan ketakutan. Pohon-pohon satu per satu rubuh.
"A-aku mengerti, oleh karena itu hentikan itu. Kamu bisa menghancurkan semuanya!"
Fidel yang terlalu bersemangat, baru tersadar dengan tubuh barunya setelah diteriaki oleh Reynald. Ia merasa malu karena membuat Reynald kerepotan akibat entakkannya.
"Maafkan ketidaksopanan saya, Tuan ...."
Reynald tersenyum. Walau dengan wujud yang berbeda, sosok yang ada di hadapannya adalah sosok yang telah ia kenal dengan sangat baik.
"Fidel, aku akan memberikanmu sebuah nama. Ini adalah salah satu prosesi yang harus dilakukan setelah pembangkitan. Namun, dengan aku memberikanmu sebuah nama, maka kamu akan terikat kontrak seumur hidup denganku. Bagaiman-?"
"Bagaimana apanya, Tuan?! Bukankah itu menakjubkan?! Dengan saya yang terikat seumur hidup dengan Anda, maka saya pasti bisa bersama Anda selamanya, bukan?!" Fidel dengan cepat memotong.
Reynald sedikit terkejut dengan selaan Fidel. Ia kemudian tertawa kecil.
"Hahahaha, kamu benar-benar Fidel. Baiklah, aku akan memulai prosesinya." Reynald mengeluarkan bola kristal yang ada di tangannya.
"Mohon tunggu sebentar, Tuan."
Reynald sedikit tersentak. "Ada apa?"
"Ini akan terdengar egois, Tuan, tapi bolehkah saya meminta nama yang baru?"
Reynald bingung mendengar permintaan Fidel. Ia tak merasa bahwa Fidel adalah nama yang buruk. Ia juga tak pernah ingat bahwa ada sesuatu yang salah dengan nama Fidel.
Sesuatu yang ... salah? batin Reynald menyadari sesuatu. Ia kemudian melihat ke arah Fidel. Aura yang dipancarkannya berubah. Tak ada lagi aura kesenangan yang terpancar. Wajahnya pun berubah masam seperti sedang menahan duka yang mendalam.
"Baiklah, aku mengerti."
"Terima kasih, Tuan," ucap Fidel tersenyum tipis.
Reynald terdiam sejenak. Memikirkan nama yang pas untuk "tangan kanannya".
"Kalau begitu, mulai sekarang namamu adalah ...."
Dua buah cahaya berbentuk selendang muncul dan melilit tanpa menyakiti Fidel.
"Gardieta!"
---
Terima kasih sudah membaca dan mohon dukungannya. Semoga Author dapat konsisten dalam menulis dan menyelesaikan cerita ini, aamiin. Jangan lupa untuk Like dan Favorit, ya. Untuk saran dan kritik bisa dicantumkan pada kolom komentar. Dan sekali lagi, terima kasih!
__ADS_1