Reincarnation Hero Become Villain

Reincarnation Hero Become Villain
Chapter 19 - Melawan Balik


__ADS_3

"Akh ...!"


Darah hijau muncrat keluar dari mulut Vlagilles.


"Apa ... yang terjadi ...?"


Lingkaran-lingkaran sihir yang tak terhitung jumlahnya pecah seketika. Ia melirik ke bawah dan ia melihat sebuah pedang menembus dadanya. Dengan cepat, ia langsung melihat ke arah Reynald.


"Ada apa, Raja Iblis? Mengapa kau ketakutan begitu?" ucap Reynald sedikit terengah-engah melihat ke tanah dan menyeringai.


Vlagilles mencium bau-bau tak menyenangkan. Ia menarik pedang yang tertancap pada tubuhnya dan melemparkannya ke arah kepala Reynald.


Reynald menghindari serangan tersebut dengan sedikit menggeser kepalanya. Pedang tertancap tepat di samping kepalanya.


"Kondisi ini ... yah, mau tidak mau aku harus melakukannya," ucap Reynald yang kemudian mengangkat tangan kanannya ke arah Vlagilles.


Vlagilles memicingkan matanya, mencoba menebak apa yang akan dilakukan oleh Reynald.


"Darkness ..." ucap Reynald yang membuat Vlagilles terkejut. "Spear of Demon Lord."


Dari telapak tangan kanan Reynald yang dihadapkan ke Vlagilles, muncul tiga lingkaran sihir berwarna hitam berdiameter 50 cm berjajar ke depan.


Tombak hitam dengan ukuran yang tak begitu lebar namun memiliki panjang seukuran dengan tubuh Reynald keluar dari lingkaran sihir paling belakang dan melesat dengan sangat cepat bahkan menjadi lebih cepat tiap melewati lingkaran sihir.


Tombak tersebut dengan mudah menembus bukit yang ada di hadapan Reynald bahkan hingga tiga bukit selanjutnya.


Vlagilles yang mendengar rapalan "Spear of Demon Lord", langsung berteleportasi ke langit. Yang Terpilih ... sejak kapan dia mampu menggunakan sihir para iblis?


Dua tombak hitam melesat dengan cepat ke arah Vlagilles. Vlagilles lagi-lagi berteleportasi ke samping. Namun, baru saja ia berteleportasi, dua tombak hitam telah melesat ke arahnya lagi.


Vlagilles kembali berteleportasi ke kanan. Dan lagi-lagi, tombak hitam telah mengarah kepadanya.


Sial, tak ada habisnya! batin Vlagilles yang terus berteleportasi untuk menghindari serangan Reynald.


Reynald perlahan lahan mulai berdiri. Tiga lingkaran sihir yang tadi ia keluarkan, telah menghadap ke arah langit, ke arah di mana Vlagilles kemungkinan akan berteleportasi.


Tiga lingkaran sihir itu terus mengeluarkan tombak hitam tanpa henti, membuat Vlagilles sangat kerepotan. Vlagilles yang kesal karena hanya bisa menghindar, mulai merapalkan sihir sembari berteleportasi.


"Darkness: Cancellation!"


Cancellation adalah sihir yang mampu membatalkan segala macam jenis sihir dalam radius lima ratus meter. Kelemahan dari sihir ini adalah pengguna dari sihir ini juga tidak akan bisa menggunakan sihir. Sihir Cancellation dijuluki sebagai Sihir Pedang Bermata Dua.


Tepat ketika Vlagilles merapalkan sihir tersebut, ia berteleportasi ke bawah, kembali menyentuh tanah dengan posisi berlutut.


"Tak kusangka aku harus menggunakan sihir merepotkan ini ..." ucap Vlagilles yang kembali berdiri dan membersihkan debu dada kiri dan kanannya.


"Benarkah? Suatu kehormatan bagiku kalau begitu," jawab Reynald yang melakukan sedikit pemanasan.


"Yang Terpilih, bagaimana engkau bisa menggunakan sihir para iblis?"


"Entahlah ... mungkin dari belajar?"


Keduanya tersenyum. Keduanya melesat lebih cepat dari yang mata bisa lihat.

__ADS_1


Senjata keduanya beradu. Wajah mereka bertatapan langsung. Tanah di sekitar mereka retak bahkan hancur hingga membuat cekungan yang cukup dalam. Tekanan angin yang muncul dari adu senjata antara keduanya sangat kuat hingga mampu membuat dua bukit yang mengapit sedikit retak.


"Light: Purifica-"


Mendengar rapalan sihir tersebut, Vlagilles langsung menguatkan serangannya sekilas lalu menggunakan tempo yang ada untuk mundur, menghindari tatapan langsung dengan Reynald.


Tadi itu hampir saja ... batin Vlagilles. Tapi, tak hanya sihir para iblis, namun juga para malaikat .... Orang ini, ternyata memang benar dia orangnya. Vlagilles menyeringai. Ia yang sempat kecewa karena Reynald tak memenuhi ekspetasinya, kini menyadari bahwa Reynald belum mengeluarkan kekuatan penuhnya.


Vlagilles membanting kedua tangannya ke samping, lalu kembali melesat ke arah Reynald. Reynald dengan cepat mengangkat pedangnya, menepis serangan Vlagilles.


"Wahai Dewa Api yang mampu melahap matahari, kekuatan serangan yang tiada banding, mampu membakar segala yang menghalangi. Tiruan matahari, Imitaco Sol!" ucap Raja Erdovarte yang melebarkan tangannya dan mengeluarkan bola api dari atas kepalanya.


"Wahai Dewa Angin yang mampu mengendalikan langit, alurkanlah kekuatan-Mu kepada diri hamba. Angin topan pelahap segala, Viehento!" ucap Raja Calma dengan mengarahkan kedua tangannya ke depan.


"Wahai Dewa Mesir, Seth, sosok yang ditakuti karena kekuatan penghancurnya. Lihatlah makhluk rendah yang mencoba menantang kekuatan-Mu. Biarkanlah hamba mewakili kemurkaan-Mu. Amarah penguasa langit, Weerlig!' ucap Ratu Cleo yang menggenggam kedua tangannya seperti sedang berdoa.


Mendengar para raja yang telah selesai merapalkan mantra sihir dan merasakan kekuatan dahsyat akan segera dilepaskan, Raja Orgulla yang sejak tadi menjadi pengalih perhatian bersama dengan pasukan para raja, memberi isyarat untuk mundur.


Pasukan para raja mundur, berdiri tepat di belakang tiga raja yang telah siap melepaskan serangan dahsyat.


"Dan yang terakhir, Wahai Dewa Perang yang mampu memperkuat segala macam serangan dan pertahanan, lapisilah mereka dengan kekuatan tiada banding-Mu. Penguat serangan, Reforga!"


Tubuh ketiga raja dilapisi aura berwarna merah. Api yang dimunculkan oleh Raja Erdovarte menjadi semakin besar. Serangan dahsyat yang sedang ditahan oleh Raja Calma dan Ratu Cleo terasa semakin berat.


"Sekarang!" ucap Raja Orgulla.


Ketiga raja melepaskan serangannya bersamaan. Dari langit muncul sambaran petir yang sangat dahsyat. Sangat dahsyat hingga mampu menghancurkan sebuah kota dalam sekali serang.


Angin topan muncul dari kedua tangan Raja Calma, lalu menyatu dan menjadi angin topan yang sangat besar. Bola api yang dikeluarkan oleh Raja Erdovarte menyentuh angin topan Raja Calma.


Angin topan api bersamaan dengan petir yang menyambar, menyerang langsung Kraken yang sudah terpancing mendekati pelabuhan.


Kraken yang merasakan serangan yang sangat berbahaya, dengan reflek langsung mencoba melindungi tubuhnya dengan tentakel-tentakelnya. Namun, petir yang sangat cepat dari langit melampaui reflek dan instingnya.


"KRAKKHHH!!"


Kraken berteriak hingga tubuhnya gemetar menahan sakit.


Belum selesai ia berteriak kesakitan, angin topan api telah menyentuhnya, membuat tubuhnya terisap masuk. Kraken yang terisap masuk semakin berteriak kesakitan. "KRAKKKH KRAAKKKHH!! KRAAAAAKKKH!!!"


Tubuh Kraken dipanggang hidup-hidup di dalam angin topan api.


Keempat raja dan pasukan para raja terengah-engah. Sudah lebih dari tiga puluh menit mereka bertarung sekuat tenaga dan sangat intens dengan sang Kraken. Segala macam serangan telah mereka kerahkan dan ini adalah satu-satunya serangan yang menjadi harapan terakhir untuk dapat mengalahkan Kraken.


Kraken telah terpanggang selama satu menit, namun teriakannya masih terdengar.


"Makhluk macam apa itu?!" ucap Ratu Cleo yang berlutut kewalahan.


"Apa kalian ... masih ada Mana?" tanya Raja Orgulla.


Semuanya menggelengkan kepala.


"Kalau ini tak berhasil, maka tamatlah kita .... Tidak, ini harus berhasil." Raja Orgulla memicingkan mata ke arah Kraken yang masih berteriak.

__ADS_1


Di tempat Reynald dan Vlagilles bertarung.


"Oho ... sepertinya teman-temanmu berhasil memojokkan Kraken. Tak kusangka. Hebat-hebat ..." ucap Vlagilles melihat ke arah pelabuhan.


Reynald juga ikut melihat ke arah pelabuhan.


"Tapi ... sepertinya mereka sudah di ambang batas mereka, ya ...?" ucap Vlagilles menyeringai dengan penuh niat jahat.


Reynald yang menyadari senyuman mencurigakan tersebut langsung berniat melesat menuju ke arah pelabuhan. Namun, Vlagilles langsung menghadangnya dengan menendang tubuh Reynald hingga mematahkan beberapa tulang rusuk Reynald.


Reynald terpental menembus tiga bukit dan terus terhempas hingga terseret di tanah. Reynald menghentikan dirinya yang terpental dengan menusukkan pedangnya ke tanah. Ia kemudian berlutut, mencoba menarik napas namun tiba-tiba darah keluar dari mulutnya.


"Akh ...! Serangan tadi ... benar-benar telak."


Reynald mengeluarkan cahaya hijau dari tangan kirinya yang kemudian ia dekatkan dengan tulang rusuk kirinya.


"Oh ... apa serangan tadi mengenai telak tubuhmu?" ucap Vlagilles yang melayang di hadapan Reynald.


Reynald meludah darah ke kanan dan kemudian kembali berdiri. Pedang ia cabut dari tanah.


Pedang ia arahkan ke depan dengan bilah pedang menghadap ke wajahnya dan tangan kiri yang terbuka hampir menyentuh ujung bilah pedangnya. Ia memejamkan matanya, menghela napas.


"Clone."


Vlagilles mendengar mantra paling pendek yang pernah ia dengar. Ia juga belum pernah mendengar mantra tersebut. Ia kemudian sedikit kebingungan tatkala melihat dua sosok Reynald yang muncul dari tubuh Reynald.


Dua sosok tersebut bergerak ke samping kanan dan kiri. Hingga akhirnya ketika sudah sepenuhnya terpisah dari Reynald, Vlagilles melihat adanya tiga Reynald di hadapannya.


Mantra apalagi itu ...? batin Vlagilles yang mencium bau-bau tak menyenangkan.


Meski telah memunculkan dua klon dirinya, Reynald masih berada di posisi yang sama, dengan pose yang sama.


"Jangan bilang!"


"Clone."


Dari tubuh Reynald bahkan dua tubuh lain Reynald, muncul masing-masing dua sosok yang serupa dengan Reynald.


Sekarang, ada sembilan sosok Reynald di hadapan Vlagiles.


Dia ... pasti sedang bercanda, bukan ...? batin Vlagilles yang menelan ludah.


"Dua sosok diriku, segera menuju ke pelabuhan. Aku merasakan sesuatu yang tak menyenangkan akan terjadi di sana."


Dua kloningan Reynald mengangguk lalu menghilang dari tempat Reynald dan Vlagilles berdiri.


"Kau ... sihir apa yang baru saja engkau rapalkan ...?!" ucap Vlagilles memicingkan mata dengan tak senang.


"Ada apa, Raja Iblis? Bukankah kau sendiri yang ingin 'bersenang-senang'?" jawab Ketujuh Reynald bersamaan dengan menurunkan senjatanya.


Vlagilles mengecap tak senang. Ia kemudian langsung melesat ke arah tubuh Reynald yang asli.


---

__ADS_1


Terima kasih sudah membaca dan mohon dukungannya. Semoga Author dapat konsisten dalam menulis dan menyelesaikan cerita ini, aamiin. Jangan lupa untuk Like dan Favorit, ya. Dan sekali lagi, terima kasih!


__ADS_2