
Bening menatap dokter Atta dan tersenyum dengan polosnya.
"Kenapa memangnya? Dokter Atta tak menyukan Mbak Dewi? Apa kurang cantik?" tanya Bening pelan.
"Apa alasan kamu ingin mendekatkan saya dengan Kakak kamu, Bening?" tanya dokter Atta pelan.
Sejenak Bening terlihat berpikir. Ia menggaruk kepalanya yang tak gatal sama sekali.
"Ekhemmm ... Pak dokter itu baik dan ramah, murah senyum juga. Ada baiknya, kalau mendapatkan peempuan yang baik juga eperti Mbak Dewi," ucap Bening polos.
Tawa dokter Atta langsung terdengar nyaring.
"Mbak Dewi baik?" tanya dokter Atta menggoda Bening.
"Baik banget. Dulu, Mbak Dewi sudah mendapat pekerjaan di luar negeri, tapi Mbak Dewi gak jadi berangkat karena Ibu sakit keras dan tidak tertolong. Ibu berpesan untuk menjaga Bening, mulai saat itu, Mbak Dewi bekerja mati -matian untuk kesembuhan Bening. Semua harta Bapak sudah di jual Ibu untuk pengobatan Bening, sampai malam itu, Bening da Ibu pindah ke kost Mbak Dewi, karena sudah tidak punya tempat tinggal," ucap Bening pedih mengingat masa sulit itu.
Dokter Atta kembali memeluk Bening dan mengusap punggung gadis itu. Gagal ginjal bukanlah penyakit yang bisa di diamkan saja, dua minggu seklai harus hemodialisa, belum lagi menahan rasa sakit dan lemas di sekujur tubuh. Kalau Bening sedang merasakan sakit, ia berteriak histeris da menangis sejadi -jadinya, ucapannya meracau selalu ingin mati mengikuti jejak Ibu.
__ADS_1
Obrolan itu terpaksa terhenti, Dewi sudah mulai siuman. Kepalanya mulai bergerak ke kiri dan ke kanan dan kedua matanya mulai mengerjap dan membuka perlahan.
Doter Atta langsung menghampiri Dewi dan memeriksa keadaan Dewi serta suhu tubuh wanita itu.
Bening mengusap sisa air matanya yang masih membasahi sekitar pipi nya yang mulai tirus.
Bening ingin terlihat baik -baik saja, dan bisa tersenyum saat Dewi, kakaknya menatap wajahnya yang sendu.
"Bening mana?" tanya Dewi saat kedua matanya terbuka lebar. Pikirannya malah tertuju pada Bening bukan kesehatannya sendiri.
"Kamu baru siuman, malah memikirkan orang lain. Pikirkan kesehatan kamu dulu, Dewi, bukan orang lain. Kamu berhak sehat juga," ucap Atta menasihati.
Dewi bangkit dari tidurnya dan menoleh ke arah tempat bening. Terlihat Bening tersenyum dan melambaikan tangannya.
"Mbak Dewi ..." panggil Dewi yang menatap lekat Dewi dan beringsut ingin turun dari ranjang dan menghampiri Dewi.
"Berhenti. Biar mbak yang berjalan kesana," titah Dewi tegas.
__ADS_1
"Dewi ... Kamu belum stabil, istirahat dulu malam ini, jangan banyak bergerak,' titah Atta tak kalah tegas.
"Oke. Aku akan istirahat, tapi tolong, dekatkan ranjang kami agar kam berdua bisa berpegangan tangan dan saling menguatkan," ucap Dewi memohon.
"Kalau itu keinginan sederhana kamu, demi kesehatan kamu, aku kabulkan," ucap dokter Atta pelan.
Dokter Atta langsung menodorong ranjang rawat yang di pakai Dewi dan meletakkan tiang infusan di sisi ranjang.
"Terima kasih," jawab Dewi tersenyum sambil memegang tangan Bening.
Hidupnya kini hampa, hanya Bening yang Dwi punya. Selama ini, Dewi tak punya orang terdekat untuk berkeluh kesah. Pekerjaannya sebagai istri kontrak atau pacar bayaran pun hanya di jadiakn sebuah profesi dan tetap membuat Dewi menjadi orang yang diam dan introvert.
Tak banyak yang di ketahui Atta tentang Dewi, walaupun setiap hari mereka bertemu dan banyak bicara. Tapi, obrolan mereka hanyalah obrolan tentang Bening dan kesehatan Bening, tak ada yang lain.
Tatapan Atta kepada Dewi begitu lekat. Ada banyak hal yang ingin di ungkapkan oleh Atta, bukan hanya ungkapan tapi beberapa pertanyaan yang mengganjal di hatinya.
"Ekhemm ... Boleh aku bertanya sesuatu?" tanya doketr Atta pelan. Ia sengaja bertanya di depan Bening, untuk memastikan kejujurannya.
__ADS_1
Raut wajah Dewi langsung berubah. Semual ia ceria, langsung sedikit cemas. Dewi tahu arah pembicaraan Atta.
"Bertanya? Soal apa?" tanya Dewi berusaha satai dan tetap tenang.