
Makan malam bersama di kota kelahiran Nenek Aini. Udra dingin yang masuk dari lubang angin -angin memberikan kesan almi dan segar walau menusuk kulit.
"Wahh ... Sup jagung? Roti India dan bakwan udang. INI menu kesukaan Nenek, kamu yang masak semu ini?" tanay Nenek Aini kepada Dewi dengan senyum sumringah.
Rangga yang baru masuk ruang makan langsung menghampiri Dewi dan memgang pundak Dewi dan mencium pipi Dewi tiba -tiba, membuat Dewi molotot dan menoleh ke arah Rangga. Rangga hanya tersenyum dan megedipkan satu matanya dengan genit kepada Dewi.
"Calon istri Rangga, dong. Kalau pinter masak gini, Rangga pasti di urusa dengan baik, sama Dewi," ucap Rangga memuji Dewi.
Semua tersenyum bahagia melihat Rangga bahagia memiliki Dewi dan begitu pun sebaliknya.
Acara makan malam itu begitu hangat. Rangga yang sengaja bersikap manis dan manja kepada Dewi hingga membuat Acha cemburu dan kesal.
"Acha duluan ya," ucap Acha pelan lalu pergi begitu saja membuat seluruh penghuni ruang makan menatap Acha aneh.
Acha sudah keluar dari ruang makan menuju kamar tidurnya. Ia melempar semua bantal dan guling serta mengacak -acak kamar sebagai bentuk rasa cemburu dan rasa kecewanya kepada Rangga yang lebih memeilih wanita lain, di bandingkan dirinya yang sudah jelas -jelas dari keluarga baik -baik yag akan di jodohkan padanya.
"Acha kenapa, Nek?" tanya Rangga bingung.
"Perempuan kalau marah gitu, tandanya cemburu Rangga," ucap Mama Rangga mencoba menjelaskan.
"Ohhh ... Jadi kalau Mama sedang marah -marah gak jelas itu berarti sedang cemburu?" tanya Papa Roki tertawa.
Bugh ...
"Arghhh ... Sakit Ma," ucap Papa Roki lirih.
Semuanya tertawa terkekeh.
"Bukan cemburu tapi kesel sama Papa," ucap Mama rania yang pura -pura marah.
"Kenapa harus cemburu? Rangga gak pernah kenal Acha sama sekali. Lalu, Rangga sudah membawa Puspa Dewi sebagai calon istri Rangga. Kenapa harus cemburu? Kalau begini, lebih baik, scepatnya Rangga akan meikahi Dewi. Lusa kita nikah ya, Sayang. Aku gak mau hubungan kita terganggu," ucap Rangga mantap.
__ADS_1
"Hah? Lu -lusa, Mas?" tanya Dewi bingung sampai tersedak.
"Kenapa? Bukankah lebih cepat itu lebih baik?" tanya Rangga pelan.
"Dewi belum siap, Mas?" ucap Dewi pelan.
"Siap atau tidak siap, kamu harus siap, Dewi," ucap rangga meyakinkan.
Rangga merogoh kantong celananya dan mengeluarkan kotak beludru merah. Ia sengaja mempersiapkan semuanya secara mendadk untuk kejutan. Rangga membuka kota beludru itu dan bangkit berdiri lalu bersujud di depan Dewi dan melamar Dewi seperti yang kita lihat di televisi.
"Puspa Dewi Puspita, maukah kamu menikah denagnku. Malam ini, di depan semua orang, aku ingin mengatakan, bahwa aku mencintai kamu, aku beruntung mendapatkan wanita yang sempurna seperti kamu, aku berharap kamu mau melengkapi sebagian kekurangan aku, hingga kita bercampur menjadi satu dalam ikatan perkawinan yang SAH. Terimalah cincin ini sebagai ungkapan rasa cinta dan kasih sayang aku kepadamu, dan terimalah sebagai bukti, kamu juga siap mendampingi aku dalam suka dan duka," ucap Rangga dengan sura lantang dan mantap.
Dewi mengerjapkan kedua matanya. Ia menatap cincin yang ada di dalam kotak beludru itu. Ia teringat sesuatu di masa lampau saat mereka masih memiliki hubungan. Itu cincin pilihan mereka saat itu.
"Dewi ...." panggil Rangga saat Dewi malah melamun.
"Arghh ... Maaf," ucap Dewi pelan. Ia menatap ke arah Mama rania, Papa Roki dan nenek Aini.
Dewi tersenyum bahagia. Perannya di mulai sejak hari ini. Dewi menganggukan kepalanya pelan dengan anggun.
"Iya, Mas Rangga. Dewi mau menikah dengna kamu. Ini adalah harapan dan keinginan Dewi sejak berhubungan dengan Mas Rangga," jawab Dewi dengan tersenyum lebar.
Rangga melepaskan cincin itu dari kotak beludru merah dan menyematkan cincin itu di jari manis kiri milik Dewi.
Kedua orang tua Rangga dan Nenek Aini pun langsung bertepuk tangan bahagia. Mereka seperti terbawa suasana bahagia dan romantis.
Malam yang indah peuh kenangan romantis. Dewi dan Rangga duduk di teras depan rumah Nenek Aini. Malam itu sudah mulai sepi dan senyap. Mama Rania dan Papa Roki sudah terlelap sejak pukul sembilan tadi, akrena sudah lelah. Nenek Aini juga sudah minum obat dan tidur untuk mengembalikan imunnya yang mulai menurun.
Acha, gadis yang sejak tadi di kamar dan tidak keluar dari kamar pun, diam -diam mendengarkan percakapan antara Dewi dan Rangga dari balik dinding. Semua pembicaraan itu di rekam.
Cukup lama, Dewi dan Rangga bercerita dan saling bertukar pengalaman hingga mereka memastikan kontrka mereka baik -baik saja, hingga satu tahun ke depan.
__ADS_1
"Kamu senang kan, malam ini?" tanya Rangga mulai memnacing.
"Senang dalam arti apa dulu nih?" tanya Dewi yang tak mudah di pancing. Ternyata Dewi tidak mudah bawa perasaan atau Baper dengan ucapan ungkapan hati Rangga yang sebetulnya serius ia ucapkan.
"Di lamar," ucap Rangga lantang dan sumringah. Rangga mrasa yakin sekali, kalau Dewi masih memiliki perasaan yang sama denga dirinya. Putus cinta dari Dewi tiga tahun yang lalu, membuat Rangga dingin dan cuek kepada setiap perempuan yang ingin mendekatimya.
Tapi, kalau di ingat saat itu. Dewi pergi dengan lelaki lain karena uang. Dadanya kembali merasakan sakit.
"Di lamar? Mmebuat Dewi bahagia? Ini sudah ada dalam kontrak, bukan?" ucap Dewi menantang Rangga.
Rangga diam dan menyeruput kopi hitamnya, lalu tertawa kecut.
"Lagi pula, siapa yang masih mengharapkan kamu? Wanita matrealistis dan mudah mencintai karena uang, bukan karena ketulusan," ucap Rangga mulai meluapkan kekesalannya yang terpendam selama ini.
Dewi langsung melirik ke arah Rangga dan tersenyum penuh arti.
"Bagus dong. Itu tandanya, hubungan ini benar -benar pyur hubungan kontrak," jawab Dewi santai.
"Jelas. Untuk apa? Mengingat masa lalu yang membuat kecewa dan sakit hati. Untuk apa? Mempertahankan wanita yang mudahnya pergi dengan lelaki lain. Kamu tahu? Kalau aku tahu, Acha itu yang di jodohkan sama aku, aku mau. Ternyata gadis itu cantik dan manis, tubuhnya juga seksi," ucap Rangga mmeuji Acha di depan Dewi.
"Ya sudah. Kalau mau nikah sama Acha, silahkan? Gak ada larangan? Ini cincin Dewi balikin aja," ucap Dewi pelan dan berusaha mengeluarkan cincin emas dari jari manisnya.
"Ekhemm ... Aku sudah membayar kamu mahal!!" teriak Rangga kesal.
"Terus? Kamu takut rugi? Lagi pula hanya setahun, lho?" ucap Dewi mengingatkan.
"Kita tetap nikah lusa nanti. Setelah kita nikah, bebaskan aku memiliki wanita lain, yang terpenting peran kamu, di depan Mama, Papah dan Nenek Aini," tegas Rangga yang langsung bangkit berdiri dan meninggalkan Dewi sendirian di depan teras rumahnya.
Rangga masuk ke dalam rumah dan Acha bersembunyi di balik sofa agar tidak di ketahui oleh Rangga. Sebuah rahasia besara ternyata tersimpan dalam hubungan yang tidak sehat.
"Aku juga akan melakukan hal yang sama, pada Rico," ucap Acha dengan pelan pada dirinya sendiri.
__ADS_1