
Napas Rangga terengah -engah. Ia terpaksa menghampiri Dewi yang masih menyandarkan kepalanya di lengan lelaki yang sama sekali tak di kenal oleh Rangga.
Rangga sudah berdiri tepat di belakang Dewi, hanya berjarak beberapa senti meter saja. Rangga melangkahkan kakinya pelan dan memanggil Dewi dengan suara lantang.
"Dewi!!" panggil Rangga dwnagn suara keras. Kedua mata Dewi langsung membuka dan terduduk kaget.
Ia tak menyangka Rangga akan datang ke rumah sakit.
"Rangga? Ngapain kamu di sini?" tanya Dewi pelan.
Rangga melotot dan menatap tajam ke arah Dewi karena tak suka dengan ucapan Dewi baru saja. Seolah menantang Rangga.
"Kamu bilang apa? Ngapain aku di sini? Aku ini siapa kamu? Sampai kamu tak beri kabar apapun sama aku? Lalu dia siapa?!" tanya Rangga dengan suara keras tak terima dengan ucapan Dewi.
Deg ...
Kata -kata Rangga begitu menyakitkan sekali. Atau memang Dewi yang salah pada posisi ini.
__ADS_1
"Kamu anggap aku apa?" tanya Rangga mengulang.
Lelaki yang ada di samping Dewi sejak tadi hanya diam. Saat Rangga sudah emosi dan begitu marah. Lelaki itu berdiri dan menatap tajam ke arah Rangga.
"Saya pacarnya Dewi. Kamu siapa? Beraninya membentak Dewi, calon istri saya!" tanya Yuda ketus dan sinis.
"Apa? Pacar? Kamu gak tahu? Kalau Dewi yang katanya lacar kamu itu sudah menikah? Dia istri saya secara SAH!! Ini cincin pernikahan kami!!" teriak Rangga lantang sambil menaeik tangan kiri Dewi dan menunjukkan cincin yang melingkar di jari manisnya. Cincin couple yang di berikan saat pernikahan mereka.
Rangga lalu meneruskan penjelasannya smabil teriak, "Apa perlu say bawakan buku nikah kita berdua? Biar kamu tahu!! Kalau Dewi memanh benar istri saya!!" tetiak Rangga keras.
"Cukup Rangga!!" ucap Dewi dengan tatapan tak suka.
Rasanya mencintai itu sangat menyakitkan. Apalagi di hadapkan pada kondisi yang terpaksa harus di akhiri karena suatu alasan tertentu yang tidak banyak orang tahu.
"Dewi? Bener kamu sudah nikah?" tanya Yuda pelan tak menghakimi.
Dewi pasrah. Memang begitu adanya. Walaupun pernikahan itu kontrak. Judulnya kan, mereka sudah menikah secara SAH.
__ADS_1
"Iya Yuda. Maaf ya, bukan kah kita juga hanya berteman?" tanya Dewi pelan.
Yuda mengangguk pelan. Hatinya begitu kecewa kepada Dewi.
"Maafkan saya sudah mengganggu rumah tangga kamu," ucap Yuda ketus dan pergi meninggalkan keduanya.
Dewi menatap Yuda. Ingin rasanya memanggil lelaki itu, namun Dewi urungkan. Percuma juga ia panggil Yuda, kalau Yuda sudah terlanjur marah dan kecewa dengan Dewi.
Dewi kembali duduk di kursi tunggu tanpa memperdulikan kehadiran Rangga.
"Ini buat kamu. Ganti baju sana, ucap Rangga datar.
Rangga bingung bagaimana harus bersikap kepada Dewi. Kadang hatinya menginginkan Dewi, tapi kadang kalau ingat kejadian saat ia di putuskan dan di tinggalkan begitu saja oleh Dewi, rasanya ia ingin membenci Dewi dan ingin membalas dendam perbuatan mantan kekasihnya itu.
"Ngapain juga kesini? Pasti tahu dari Kak Atta," ucap Dewi ketus.
"Suka -suka dong. Aku kan suami kamu," jawab Rangga cuek. Ia meletakkan tas kecil tadi di kursi tunggu, tepat di sebelah Dewi. Lalu berjalan menatao kaca besar. Melihat gadis belia yang pastinya bernama Bening, adik Dewi.
__ADS_1
Tatapan Rangga begitu simpati melihat keadaan Bening saat ini.
Dewi hanya mendengua keras. Ia kesal sekali. Pekerjaan ini membuat hiduonya semakin rumit saja. Bukan masalah pekerjaannya tapi Dewi bisa jadi terlalu nyaman dan terbawa suasana hati.