RENTAL ISTRI

RENTAL ISTRI
MENUKAR PERJODOHAN


__ADS_3

Dewi menatap Acha yang terlihat murka.


"Kenapa mukanya begitu?" tanya Dewi pelan sambil memasukkan adonan kue ke dalam oven di dekat kompor.


"Apa? Loe bisa ngomong dengan entengnya? Gara -gara loe hadir, jodoh gue malah pilih loe kan?" ucap Acha dengan sinis.


"Kok malah jadi Dewi yang salah, sih?" tanya Dewi ikut terpancing emosinya.


"Terus? Gue nyalahin siapa? Diri gue sendiri yang harus mundur? Gitu?" teriak Acha yang merasa tak terima di perlakukan seperti ini.


"Dewi gak ngerti dan sama sekali gak paham. Pelan -pelan kamu harus jelasin juga ke Dewi. Maksudnya apa?" tanya Dewi pelan.


"Rangga itu udah di jodohin sama gue dari dulu dan gue harap loe paham sama posisi gue," ucap Acha seolah memang tak bisa menerima Dewi yang di bawa Rangga dan di akui sebagai calon istrinya.


"Dari pada kamu pusing mikirin hal ini. Tanya langsung sama orangnya. Maunya sama siapa? Gitu aja aja pakai repor, " ucap Dewi tegas.


Ya, Dewi hanya wanita pekerja yang di rental sebagai istri selama satu tahun ke depan. Makanya dalam kamus Dewi, siapa pun yang membayar dan merental jasanya. Dewi akan melakukan pekerjaan itu dengan se -maksimal mungkin dan profesional tanpa menggunakan hati dan perasaan yang malah akan membuat rumit diri sendiri.


"Oke. Selama beberapa hari ini kita saingan. Karena, Nenek Aini masih mau menilai kamu, cocok atau tidak bersama Rangga. Atau Rangga tetap jadi milikku selamanya," ucap Acha sinis.


Dewi hanya mengangguk pelan. Bagi Dewi, semua ini tidak masalah bagi dirinya. Pilihan Rangga pada siap? Pilihan Nenek Aini pada siapa juga?


Sejak hari itu, Acha dan Dewi mulai bertarung mendapatkan hati Rangga. Acha yang memulai membuat rencana awal hingga akhir dengan list panjang jika rencana A gagal terpaksa ia beralih ke rencana B dan beralih lagi ke rencana C demi menyukseskan semua keinginannya tetap di jodohkan denagn Rangga.


Sedangkan, Dewi. Dewi lebih terlihat santai dan tenang. Ia lakukan apapun yang memang bisa ia laukan tanpa mencari muka, mencari perhatian dan mencari pujian dari Nenek Aini atau siapa pun. Baginya, menjalani profesi yang sedang ia kerjakan ini adalah susah -susah gampang.


Awalnya memang sulit, tapi Dewi bekerja di biro ini sudah cukup lama. Sudah hampir lima tahun ia menekuni profesi sebagai pacar atau istri rentalan.


Positifnya, ia banyak mendapatkan relasi, teman, sahabat bahkan jadi keluarga. Negatifnya, ia di benci sebagian orang, terutama pihak yang menjadi saingannya.

__ADS_1


Makan malam pertama di rumah Nenek Aini. Seperti biasa tanpa di suruh, Dewi sudah berada di dapur bersama Mama Rangga. Mereka berdua sudah tampak akrab sekali.


"Mau masak apa Ma?" tanya Dewi yang sedang merebus jahe merah di sebuah panci besar. Kota tempat tinggal Nenek memang sangat dingin sekali, cocok jika di beri minuman hangat dan yang bisa menghangatkan tubuh dan perut.


"Coba lihat di kulkas ada apa saja?" tanya Mama Rangga pelan sambil mengupas buah apel untuk suaminya.


Saat membuka kulkas, Dewi hanya menatap semua isi bahan makanan di dalamnya.


"Nenek Aini suka makanan apa, Ma?" tanya Dewi pelan.


"Apa ya?" jawab Mama Rangga meletakkan pisau buahnya di meja.


"Sup jagung? Suka? Cocok ini dengan udara dingin begini," ucapDewi pelan.


"Ide bagus. Boleh. Mama juga mau, kayak zuppa zup gitu juga enak," ucap Mama Rangga penuh semangat.


Cuaca di kota kecil itu memang sangat dingin sekali. Perlu amunisi yang benar -benar bisa menambah mood bukan hanya bisa menghangatkan tubuh saja.



Di dalam kamar Nenek Aini -



Acha memijat kaki Nenek Aini seperti biasa.


"Kalau lelah bilang Acha. Nenek tidak mau membebanimu dengan suatu pekerjaan yang tak pernah kamu lakukan," ucap Nenek Aini pelan.


Acha memang gadis manja yang hidupnya selalu di penuhi oleh kedua orang tuanya. Di depan banyak orang, Acha selalu bersikap sangat manis sekali hingga mendapat banyak pujian baik dari orang -orang di sekitar yang mengenalnya atau yang baru mengenalnya.

__ADS_1


"Ini kan kemauan Acha, Nek," ucap Acha lembut sambil tersenyum manis.


Padahal di dalam hati Acha begitu kesal. Lelah sekali memijat tubuh tambun seperti Nenek Aini. Apalagi harus di lakukan berjam -jam dan mengobrol obrolan yang terkesan tua.


"Gimana Rangga? Kamu suka?" tanya Nenek Aini pelan.


"Suka Nek. Mas Rangga tampan, lembut, macho, keren dan ... argh ... Nenek tentu tahu maksud Aini," ucqp Aini pelan.


"Tapi Acha. Rangga telah membawa Dewi. Dewi adalah gadis pilihannya. Dari awal datang, Dewi selalu bersikap baik dan membuat Nenek terkesan. Rangga tak hanya mencintai, ia begitu memuji Dewi dan semua meresrui hubungan itu. Kamu paham kan, maksud Nenek?" ucap Nenek Aini pelan menasehati.


"Maksud Nenek? Acha harus mundur?" tanya Acha memastikan.


Nenek Aini hanya tersenyum simpul. Sebenarnya Nenek Aini ingun menyarankan opsi lain.


"Kalau kamu, Nenek kenalkan pada Kakak Rangga, mau? Namanya Rico Attasyah, dia seorang dokter. Karena kesibukannya, Rico itu lupa mencari jodoh, karena sampai hari ini, ia juga belum menukah atau membawa jodohnya," ucap Nenek Aini memberikan opsi lain.


Acha hanya menarik napas dalam. Ia susah terlanjur suka dengan Rangga. Tapi, mungkin tidak ada salahnya dekat dengan Rico. Bisa jadi, ini jalan terbaik untuk memuluskan rencananya menggagalkan pernikahan Rangga.


"Kalau itu memang opsi terbaik untuk Acha. Acha bisa terima alasan masuk akal ini, Nek. Hanya saja, Acha perlu waktu untuk mengenal Mas Rico. Boleh Acha ikut dengan Mama Rania dan Papa Roki untuk tinggal bersama mereka di sana?" pinta Acah pelan.


Ini yang di namakan gayung bersambut. Apa yang di harapkan Acha semkga bisa di wujudkan.


"Boleh. Nanti, biar Nenek yang bilang sama Rania dan Roki untuk membawamu juga ke kota. Dengan begitu kamu bisa mengenal Rico dengan baik. Dokter specialis, kamu pasti bangga bila menjadi istrinya," ucap Nenek Aini pelan dan tersenyum bahagia.


Ini masalah besar. Saat Rangga sudah di jodohkan malah memilih istri pilihannya sendiri. Terpaksa demi membuat hubungan dua keluarga tetap baik, Rico harus mau menerima perjodohan ini.


"Baik Nek. Acha siap kapan saja. Kebetulan Ayah dan Bunda sudah kasih ijin jika Acha pergi dengan calon suami Acha," ucap Acha pelan.


"Ya, Acha. Semoga ini jodoh terbaik kamu," ucap Nenek Aini pelan.

__ADS_1


Senyum Acha penuh arti. Senyum Nenek Aini penuh kelegaan. Keduanya punya maksud dan tujuan berbeda namun ingin memenangkan ego masing -masing.


__ADS_2