
Rangga dan Dewi sudah sampai di Villa tujuan mereka. Tak sampai dua jam perjalanan mereka. Awal memasuki jalan menuju villa, mereka di suguhi lemandangan pohon pinus dan kabut yang sedikit menutupi jalan mereka.
"Itu villa kita. Di sana ada beberapa villa. Memang di khususkan untuk berlibur dan honeymoon. Makanya di namakan villa honeymoon," ucap Rangga datar.
"Hah? Villa honeymoon? Datang berdua pulang jadi tiga atau lebih," ucap Dewi tertawa membayangkan kalau memang mereka pasangan suami istri SAH sebenarnya.
"Maunya sih gitu," jawab Rangga singkat tanpa candaan.
Dewi langsung menatap Rangga yang menjawab ucapannya tadi tanpa ekspresi sedikit pun.
Bugh ...
Dewi memukul gemas lengan Rangga. Rangga hanya meringis kecil dan berpura -pura berteiak kesakitan padahal tangan mungil Dewi tidak akan mungkin membuat sakit lengan Rangga yang besar dan kekar itu.
"Awww ... Sakit sayang," rintih Rangga.
"Jangan panggil sayang gitu. Lebay ih,"
"Dih suka -suka. Hai sayang ... sayang ...." goda Rangga semakin menjadi.
"Gak usah aneh -aneh pikirannya. Kita kesini kan karena Mama," ucap Dewi pelan.
Ia begitu menghargai kebaikan Mama mertuanya itu.
"Hanya karena Mama? Bukan karena memang mau berduaan sama aku?" goda Rangga kemudian.
"Gak usah mimpi. Jangan banyak nonton drakor kadu ngehalu aja," ucap Dewi ketus.
"Yang suka nonton drakor itu kan kamu, Wi, bukan aku. Kamu yang nonton sampai ketiduran. Sampah cemilan berserakan sampai tisue basah sama ingus kamu," cicit Rangga pelan.
__ADS_1
"Dih buka aib," kesal Dewi.
"Bukan buka aib. Ya, memang suami istri yang tinggal bersama akan tahu sifat masing -masing kan?" ucap Rangga pelan.
Dewi mengangguk kecil, mengiyakan ucapan Rangga. Lalu ia tekekeh.
"Malah tawa," ucap Rangga pelan melirik ke arah Dewi.
"Lucu tahu,"
"Apa yang lucu,"
"Kita ...." jawab Dewi dengan senyum dan melirik ke arah Rangga.
"Kita? Kenapa?"
"Ya ... Perjalanannya ... kita di pertemukan lagi saat ini,"
"Apa?"
Rangga melirik Dewi lalu menjawab, "Aku gak mau posisi ini hanya di atas perjanjian. Aku ingin sesungguhnya bersama kamu, Wi?"
"Gak bosen di ulang terus ucapannya?"
"Gak. Karena aku serius dan gakmmain -main,"
Mobil Rangga sudah masuk halaman villa pesanannya dan berhenti teoat pada pintu villa yang berada di atas.
"Sudah sampai," ucap Dewi keras. Ia sengaja menutup pembicaraanya.
__ADS_1
Rangga hanya menghela napas panjang. Selalu saja gagal.
Dewi naik ke atas teras dan membiarkan petugas Villa membuka pintu dan membereskan di dalamnya.
Villa ini sangat nyaman sekali. Pemandangannya pun sangat indah. Begitu pun udaranya yang sejuk dan bebas dari polusi udara. Dewi menghirup udara sejuk dan segar itu sampai ke dalam paru -parunya. Segar sekali. Udara dingin cukul menusuk kulitnya yang sudah terbungkus cardigan.
Dewi menatap ke bawah, ia melihat Rangga yang sedang menurunkan barang -barangnya dari bagai mobilnya dan di bantu oleh petugas Villa untuk menaikkan barangnya.
Tatapannya kini berpindah ke arab langiy biru yang mulainberubah senja. Dewi puas dan sangat suka dengan tempatnya kali ini.
Rangga sudah berdiri di sebelah Dewi.
"Kamu suka,"
"Suka banget. Makasih ya Ngga," jawab Dewi melirik Rangga dan mencium pipi lelaki itu spontan.
Sejenak Rangga menatap Dewi dan bwgitu juga Dewi yang merutuki kebodohannya. Bisa -bisanya dia terhanyut suasana dan mencium Rangga.
"Maaf Ngga," ucap Dewi malu.
"Gak apa -apa. Di ulang juga boleh atau di tempat lain juga gak apa," goda Rangga.
"Enak aja," ketus Dewi kembali sikap asal.
Saat Dewi berbalik dan mau masuk ke dalam villa mungil itu. Satu kakinya tersandung dan dengan cepat Rangga menarik tubuh Dewi dan langsung mendekap Dewi agar seimbang.
Tanpa sengaja ...
Cup ...
__ADS_1
Kedua bibir itu menyatu ...