
Dokter Puji terlihat kewalahan. Ia bingung dan terus melakukan yang terbaik untuk Bening. Ini amanah dokter Atta sebelum pergi meninggalkan rumah sakit untuk pertukaean dokter.
Nampak semua pegawai medis itu seperti sedang berbicara dan berembug satu sama lain.
Dewi masih menatap lekat. Kalau bisa ia masuk ke dalam sekarang, pasti ia ala masuk dengan cepat. Dewi tak mau sedikit pun lalai menjaga Bening apalagi berakhir penyesalan. Ia rela tak bahagia demi kebahagiaan Bening.
Tak lama dokter Puji keluar melepas alat yang selaku di pasang di telinganya lalu di masukka ke dalam jas dokternya.
Dewi langsung berlari menghampiri dokter Puji dan bertanya.
"Bagaimana keadaan Bening, dok," tanya Dewi penasaran.
Suaranya begitu terdengar panik dan ketakutan.
"Hanay keajaibam yang bisa menyelamatkannya Dewi. Alat bantu pemacu jantung itu hanya sesaat saja. Tidak bisa di andalkan. Kita lihat satu jam ke depan," ucap dokter Puji menjelaskan pelan.
Dewi hanya bisa mengangguk pelan. Ia merasa jawaban dokter Puji sangat tidak memuaskan. Dewi berjalan di depan pintu ruang ICU menunggu salah satu perawat yang keluar terlebih dahulu.
__ADS_1
Satu perawat keluar membawa botol infusan yang sudah kosong.
"Sus ... Bagaimana dengan keadaan adik saya, Bening?" tanya Dewi cepat.
"Ekhemm ...." Suster itu nampak bingung dan akhirnya menatap ke arah pintu ruang ICU yang masih terbuka.
Teriakan daribdalam.ruangan itu begitu keras dan membuat seisi ruangan itu panik.
Dokter Puji yang batu pergi langsung berlari kembali. Begitu juga dengan suster yang di ajak bicara oleh Dewi.
Dewi menatap nanar ke arah Bening yang sesekali terangkat tubuhnya untuk di pacu detak jantungnya dengan alat pacu berupa setrum.
"Aku gak sanggup. Aku cuma punya Bening, Ngga," ucap Dewi terus mennagis tersedu.
"Ada aku, Wi. Aku yang akan menggantikan posisi Bening. Aku yang akan selalu menemani kamu. Aku yang selalu berusaha menjadi sumber semangat bagi kamu," ucap Rangga terus mengeratkan pelukannya dan mencium pucuk kepala Dewi.
Air matanya masih terus mengaliri pipi mulusnya. Rasa sesaknya pun masih terus membuat Dewi sesegukan karena sedikit kesulitan bernapas saat cairan dalam hidung menyumbat jalan oksigen yang masuk ke paru -parunya.
__ADS_1
Hati Dewi makin kacau. Pikirannya kalut dan sama sekali tidak bisa berpikir jernih.
"Dewi ... Maaf kami tak bisa menyelamtakna nyawa Bening. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin," ucap dokter Puji melemah.
Dokter Puji juga tak sanggup untuk memberikan berita sedih ini. Ia berusaha kuat dan berani menyampaikan berita buruk yang berdampak pada kejiwaan Dewi.
Dewi hanya melongo tak percaya dengan ucapan Doktet Pujin barusan. Berita buruk tentang kematian Bening membuat Dewi sama sekali tak bisa melnajutkan tangisannya. Ia malah tertawa keras.
Tepat sekali dugaan dokter Puji yang bisa menganalisa kejadian selanjutnya.
Tatapan Dewi ke arah Bening yang sudah di tutup kain putih pun tak membuat Dewi beranjak dari tempat itu dan berlari untuk melihat Bening terakhir kalinya sebelum di makamkan.
"Bening itu pasti sembuh. Dokter sudah gila!! Kenapa malah bilang adik saya meninggal? Lihat dia cuma tidur, dia gak saar karena menahan sakit bukan mati!! Gila!!" teriak Dewi kesal.
Dewi terus meracau dan Rangga sigap menolong Dewi. Lalu meminta maaf pada dokter Puji atas sikap Dewi yang tidak stabil.
"Suruh isrirahat saja dulu. Dewi sepertinya stres dan belum menerima kejadian ini dengan tulus ikhlas," titah dokter Puji kepada Rangga.
__ADS_1
Setelah ini tugas Rangga berat. Rangga harus mengembalikan senyum Dewi seperti dulu. Niatnya sudah bulat untuk tidak menceraikan Dewi.