RENTAL ISTRI

RENTAL ISTRI
PERGI HONEYMOON


__ADS_3

Rangga dan Dewi sudah berada di dalam mobil untuk melakukan perjalanan menuju puncak.


Perjalanan ini sudah di rancang oleh Rangga sejak lama sekali. Kebetulan memang waktunya selalu tidak tepat alias bentrok. Perjalanan ini memang di inginkan Rangga untuk mengulang dan mengingat kembali masa lalunya yang indah bersama Dewi. Tak hanya itu saja, Rangga ingin kembali ke masa itu dalam hal hubungannya dengan Dewi.


Pas sekali waktu liburan panjang ini di tambah cuti khusus Rangga hanya untuk menyembuhkan luka Dewi karena kehilangan Bening.


Lihat saja, saat ini pun Dewi lebih banyak diam dan melamun. Ia duduk bersandar dengan kepala menyentuh jendela kaca. Kakinya bersila di atas jok sambil memeluk boneka bantal kesukaan Bening pemberian Dewi saat Bening berulang tahun.


Tatapannya sendu ke arah luar kaca jendela kaca mobil dan menatap jalanan yang mulai panas karena terik matahari mulai naik ke atas.


Sejak pagi, Dewi tidak makan dan belum meneguk air sedikit pun.


"Kamu gak lapar? Atau haus? Mau makan apa, Sayang? Kamu pilih tempat makan yang kira -kira kamu suka, aku akan membelokkan mobilku ini dan kita bersantai di sana sejenak sambil menikmati pemandangan indah di sini serta makan siang. Gimana?" tanya Rangga penuh semangat dan antusias.


Jiwa semangat Rangga hanya di diamkan oleh Dewi. Tak di respon sama sekali.


Rangga kembali mencari cara agar Dewi mau bicara. Kemarin mengajak Dewi untuk bisa pergi healing hari ini juga membutuhkan waktu beberapa hari akhirnya Dewi mengangguk pasrah tanpa suara.


Minimal Dewi merespon ucapan Rangga. Sesuai permintaan dan amanah Mama Rangga, Rangga harus sabar menghadapi Dewi. Jiwanya terguncang, Dewi benar -benar merasa kesepian dan kehilangan. Dirinya seperti sendiri dan tak punya teman bicara.


"Aku lapar Wi. Makan siang dulu ya?" cicit Rangga pelan.


Suara melas Rangga pun di ikuti perutnya yang berbunyi keras seolah meronta -ronta meminta hak nya untuk mendapatkan makan siang ternikmat dan terenak siang ini.


Kruyukkk ... Kruyukkkk ...


Dewi menoleh le arah Rangga yang tetap fokus pada jalan raya. Ia fokus menyetir kembali saat Dewi belum menjawab.


"Itu ada Saung Abah. Kita makan siang di sana," ucap Dewi pelan.


Wajah cantiknya begitu kuyu dan sendu. Matanya masih sedikit sembab.


Dewi menatap restaurant yang terlihat natural dan alami. Rumah makan bergaya adat sunda dengan pemandangan balong -balong indah yang banyak ikan guramenya.


Rangga langsung menoleh ke arah Dewi. Bagai mendapatkan berlian dan emas yang cukup banyak saat mendengar suara Dewi menjawab pertanyaannya dengan lancar, santai dan lembut. Suara Dewi begitu renyah dan tanpa beban.


"Saung Abah ... i'm comming ... Nah gitu dong. Ngomong kan terlihat cantik. Apalagi mau senyum buat suaminya. Pahalanya di lipat gandakan," ucap Rangga memuji dan mengingatkan.

__ADS_1


Dewi tersenyum sambil melirik ke arah Rangga. Rangga ikut tersenyum menatap Dewi saat mobil Rangga sudah berhenti dan parkir tepat di depan Saung Abah.


Tadinya, Rangga mau memegang tangan Dewi dan mengecup pinggung tangan istri cantiknya itu. Namun di urungkan karena Rangga takut Dewi akan kembali lagi mendiamkannya. Intunya, Rangga sudah cukup bahagia mendengar Dewi mau menjawab pertanyaan Rangga.


Rangga sudah turun dari mobilnya. Begitu juga dengan Dewi yang baru saja turun dari mobil. Rambutnya yang panjang serat rok pendeknya berkibar di terpa angin gunung yang cukup kencang.


Rangga langsung menggandeng Dewi dan menggenggam erat tangan istri cantiknya berjalan menuju masuk ke dalam Saung Abah.


Sesampai di dalam Dewi dan Rangga mencari tempat duduk yang nyaman dan busa menikmati suasana siang ini.


"Kamu yang pilih tempat duduknya. Mau di mana? Apa di sana? Lesehan," ucap Rangga sambil menunjuk ke arah luar bagian belakang.


Ada balong -balong dengan gubuk kecil di atasnya untuk menikmati lesehan. Ada berbagai permaina air yang bisa di coba juga untuk bersenang -senang menikmati liburan.


"Di sana yang tengah ya," pinta Dewi pelan.


Dewi mulai beradaptasi kembali. Dalam diri Dewi juga ingin melepas masa sulitnya melupakan Bening. Ia ingin keluar dari zona keterpurukannya. Ia tahu Rangga sedang berusaha membantu Dewi untuk membuat Dewu selalu tersenyum dan bahagia seperti dulu.


Dewi berjalan lebih dulu. Rangga membiarkan Dewi memilih tempat yang ia suka dan tersenyum bahagia melihat pemandangan yang begitu indah di samping kiri dan kanannya.


"Iya."


Rangga mengikuti Dewi dan duduk di dalam gubuk kecil atau saung lesehan. Satu pelayan mendatangi saungnya untuk mencatat pesanan makanan dan minuman.


Dewi mulai membaca menu makanan itu. Dewi belajar menghargai apa yang sudah di persiapkan Rangga.


Ia ingat ucapan Mama Rangga yang tadi berpesan pelan saat memeluk Dewi akan berangkat.


"Rangga hanya ingin kamu bahagia. Rangga dan Mama ingin melihat senyum tulus kamu seperti dulu. Gak lebih dari itu. Mama hanya bisa berdoa untuk kalian berdua dan tetap bahagia."


Dewi menarik napas dalam. Mama Rangga begitu sayang kepadanya. Begitu pun Rangga yang masih mencintainya dan berharap hubungan ini nyata adanya bukan sekedar hubungan kontrak denga Dewi sebagai istri rental Rangga selama satu tahun ke depan.


"Mau pesan apa, Sayang?" tanya Rangga pelan. Rangga masih menatap dan membaca satu per satu makanan yang ia suka dan juga minumannya.


"Aku mau, udang goreng dan cumi goreng tepung," ucap Dewi menutup buku menunya.


"Bukannya kamu punya alergi udang goreng? Biasanya pesan gurame atau steak?" tanya Rangga pelan dan lembut karena takut menyinggung Dewi.

__ADS_1


Sontak Dewi menatap Rangga. Begitu perhatian lelaki itu pada dirinya. Sampai apa yang menjadi kekurangan Dewi pun di khawatirkan oleh Rangga.


"Kamu masih inget? Kalau aku alergi sama udang?" tanya Dewi pelan.


"Ya. Ingat sekali. Kamu kan istri aku. Tentu aku tahu," ucap Rangga dengan lantang. Senyum Rangga merekah membuat Dewi terkekeh pelan.


"Tambah steak satu dan lemon tea hangat," ucap Dewi menambahkan pesanannya kepada pelayan.


Pelayan itu mengangguk pelan dan mencatat semua pesanan dan mengulangnya lagi takut ada yang terlewat. Pelayan itu pun meninggalkan saung mereka.


Rangga diam saja. Entah kenapa Dewi menambah pesanannya tapi tidak dengan membatalkan pesanan udang goreng yang jelas -jelas membuatnya alergi.


Seolah Dewi tahu apa yang sedang ada di pikiran Rangga saat ini.


"Udang itu untuk Bening. Kamu gak keberatan kan? Aku pesan untuk Bening? Kasihan dia belum makan?" ucap Dewi pelan seolah ia sedang berada di dua dunia.


Glek ...


Air liur Rangga tertelan dalam sampai ke dalam kerongkongannya. Tatapannya tetlihat bingung ke arah Dewi.


"Wi ...." ucapan Rangga langsung di sela Dewi cepat.


"Kata Bening terima kasih. Ini dia ada di sebelah Dewi. Tadi Dewi yang minta makan siang bareng," ucap Dewi pelan menatap ke sebelahnya yang kosong tidak ada siapa -siapa.


Dewi beranggapan Bening itu ada di sebelahnya. Kadang ia sadar kalau Bening sudah meninggal dan pergi meninggalkan Dewi untuk selamanya. Tapi kadang Dewi seperti terhinoptis dan menganggap Bening itu ada dan selalu mengikuti kemana pun Dewi pergi. Seperti saat ini.


Rangga menarik nalas dalam. Ia harus sabar dan lebih banyak sabar lagi. Tidak mudah menyembuhkan luka orang yang trauma dan tersakiti berkali -kali.


Rangga memilih diam dan menatap ke arah lain. Jiwa Dewi benar -benar terguncang dan masih larut dalam kesedihannya.


"Kita coba memancing yuk? Banyak yang mancing tuh?" ajak Rangga mencoba membuat Dewi lebih banyak beraktivitas agar tidak banyak diam. Sambil menunggu pesanan makanan mereka datang.


"Boleh. Bening tunggu sini ya?" ucap Dewi pelan seolah mengajak bicara Bening.


Rangga harus bisa memaklumi hal ini. Rangga menyewa alat pancing dan membeli pelet ikan untuk bisa mendapatkan ikan dari kolam tersebut.


Awalnya Dewi kurang nyaman dengan aktivita memancing. Tapi setelah ikan menarik kail mereka dan mereka berhasil mendapatkan ikan nila yang cukup besar. Dewi menjadi lebih semangat lagi.

__ADS_1


__ADS_2