
Makan malam kali ini berbeda dengan makan malam biasanya. Semua sudah duduk di meja makan. Papah Roki yang sudah duduk di meja makan sejak tadi menunggu putra pertamanya datang. Kebetulan suara mobil Rico sudah terdengar di halaman rumah.
Mama Rania juga sedang sibuk menyiapkan kopi khusu untuk suaminya. Puspa juga sudah duduk di samping Rangga menunggu aba -aba untuk makan malam.
"Kira tunggu Rico masuk. Biar sekalian makan malam. Lagi pula, biar Rico termotivasi cepat menikah juga. Gak workaholic," titah Papah Roki pelan menasehati.
Puspa hanya diam dan tersenyum lalu melirik ke arah Rangga.
"Rangga sudah lapar ini. Mau nyicipin masakan calon istri," ucap Rangga memuji.
"Hemm ... Ada yang udah kebelet sepertinya? Jadinya kalian mau nikah kapan?" tanya Mama pelan kepada keduanya.
"Wah ... kumpul keluarga nih. Siapa yang kebelet nikah? Rangga? Mana calonnya? Ngomong doang loe. Mana gue mau lihat?" tanya Rico dengan suara keras memasuki ruang makan. Ia meletakkan tas kerjanya di lemari kecil sebelum memasuki ruang makan dan begitu kaget melihat Puspa.
Puspa sendiri terkejut saat mendengar suara yang tak asing itu dan menunduk.
Melihat keduanya seperti kaget dan saling kenal. Rangga pun mulai merasa tak nyaman.
"Kalian kenal?" tanya Rangga dengan suara ketus.
"Ekhemm pernah ketemu aja di rumah sakit," ucap Puspa berbohong. Ia tak mau Rangga tahu kalau adiknya di rawat oleh Rico tak lain dokter Atta.
"Oh," ucap Rangga mulai terlihat cemburu.
"Benar. Kita gak sengaja ketemu di tempat tebus obat," ucqp Rico ikut bersandiwara.
Dalam hati Rico, tentu ada sesuatu hal yang gak beres ini.
Mama dan Papa pun berpandangan dan menatap Rico yang terpaksa tersenyum.
"Wah makan besar nih," ucap Rico tiba - tiba mengalihakan topik pembahasan.
"Puspa yang masak," ucap Mama pelan smabil mengambilkan nasi dan rendang untuk suaminya.
"Puspa namanya?" ucap Rico sedikit menyindir. Tatapannya lekat ke arah Puspa yang mulai gelisah dan cemas.
Begitu juga dengan Puspa yang mengambilkan makanan untuk Rangga.
__ADS_1
"Segini cukup?" tanya Puspa pelan.
Rangga menatap Puspa yang terlihat gugup.
"Cukup. Kamu kenapa? Kayak gugup gitu?" tanya Rangga dengan suara cukup keras. Ia sengaja bicara itu di meja makan, agar Rico dengar. Rangga merasa ada yang di tutupi antara Rico dan Puspa.
Puspa hanya tersenyum simpul.
"Gak gugup. Cuma takut, masakannya gak enak dan kurang cocok di lidah," ucap Puspa sedikit berhati -hati saat bicara.
"Heii ... Adek guekuh ... Loe ini kenapa sih? Santai aja, udah mau nikah juga kan? Masih aja kekanak -kanakkan," ucap Rico dengan santainya. Ia mengambil nasi putih dan rendang di sisi piringnya. Dari aromanya memang sangat harusm dan menggelitik lidah, dan warna serta teksturnya juga mirip dengan daging rendang yang di jual di rumah makan padang. Tapi ... Kalau rasa, apakah Puspa pemenangnya dan melengkapi semua kesempurnaan itu.
"Sudah ... Jangan berantem terus. Kamu, Rangga, gak malu sama Puspa, calon istri kamu?" tanya Mama Rangga pelan. Mama Rania mulai menikmati makan malamnya.
Suasana di meja makan kembali tenang. Semua terdiam menikmati rasa rendang yang memiliki cita rasa luar biasa.
"Wahhh ... Calon mantu terbaik ini. Bisa -bisa tiap hari Papah makan enak," celetuk Papah Roki pelan.
"Om Bisa aja," jawab Puspa pelan sambil menunduk malu.
"Kok manggilnya Om sih? Papah dong. Sebentar lagi kan kalian mau menikah? Bagaimana kalau minggu depan dan besok kita ke rumah Puspa untuk berkenalan dengan orang tua Puspa sekaligus melamar," ucap Papah Roki lantang dan tegas.
Puspa langsung menendang kaki Rangga yang ada di sebelahnya. Wajah Puspa begitu terlihat panik dan bingung. Tepat di saat yang sama, Rico menatap Puspa yang nampak gelisah. Tubuhnya bergerak -gerak tak pasti di tempat duduknya.
Uhukkk .... "Secepat itu?" ucap Rico pelan..
Rangga pun mendongak dan mengangkat wajahnya hingga tatapannya beradu dengan kedua mata Rico yang tajam.
"Terus? harus nunggu Mas Rico?" tanya Rangga pelan.
Tatapan kedua kakak beradik itu semakin keji dan tajam. Mereka seperti ingin berperang.
"Hemm ... Ya, Gak harus nunggu sih. Tapi, kan kalian baru dekat kan? Bukannya dulu pacar kamu itu, Talia, Annisa, Latifa, Putri, dan siapa itu, Indri," ucap Rico pelan membongkar smeua rahasia Rangga.
Kedua maa Rangga melotot ke arah Rico. Tatapannya penuh kebencian.
"Sudah ya. Ini jam makan malam, jangan di rusak suasannya. Ini makanannya sudah enak, tapi kok jadi pada emosi malah bikin gak nafsu makan," ucap Mama Rania menatap kedua anak laki -lakinya yang tidak pernah akur.
__ADS_1
Baru kali ini, Rico terlihat tak suka dengan Rangga dan menatap ke arah Puspa secara diam -diam.
"Mas juga katanya mau kenalin ke Mama dan Papa, mana? Kalau memang sudah ada, bawa kesini, terus kenalin ke Mama dan Papa, kalau memang sudah jodoh, kenapa gak? Pernikahan kalian bisa di barengkan," ucap Mama Rania pelan menyarankan.
"Gak bisa. Enak aja bareng -bareng. Ini kan Nenek yang mu," ucap Rangga pelan.
"Biarinlah Ma. Rangga kan cucu kesayangan Nenek, makanya Nenek cuma punya jodoh buat Rangga. Puspa, Rangga ini sudah di jodohkan," ucap Rico [elan. Raut wajahnya terlihat santai dan bodo amat.
Tug ...
"Awww ... Sakit tahu. Ntar gegar otak gimana?" ucap Rico melotot sambil mengusap jidatnya yang lebar terkena sambetan sendok teh.
"Bodo. Mas Rico kan dokter. Harusnya tahu dong, apa yang harus di lakukan kalau gegar otak," ucap Rangga santai.
"Mas Rangga ... Habisin makan malamnya. Katanya enak?" ucap Puspa menyudahi pertengkaran kakak beradik itu.
"Rico, Rangga, makannya di habiskan. Setelah ini Papah mau bicara penting," ucap Pap Roki pelan.
Makan malam pun di lanjutkan hingga selesai. Papah Roki mengajak keda putranya itu duduk brsantai di gazebo belakang rumahnya.
Puspa dan Mama Rania membersihkan meja makan dan mencuci semua piring kotor hingga dapur dan ruang makan bersih kembali seperti semula.
"Buat apa, Puspa?" tanya Mama Rania pelan.
"Ekhemm ... Ini Ma. Aci goreng, Mama doyan gak? Tadi Puspa lihat ada aci, makanya coba bikin, pake bumbu rujak begini, lebih enak kalau di makan masih hangat," ucap Puspa pelan.
"Kamu hobby masak ya? Rumah kamu di mana? Biar, Papah dan Mama besok bisa main kesana," ucap Mama Rania pelan.
Puspa pun melirik ke arah Mama Rania yang menunggu jawaban Puspa. Puspa masih menggireng aci dan mengangkat aci -aci yang sudah matang dan sedikit kering di wajn.
"Ekhemm ... Rumah Puspa di luar kota, Ma," ucap Puspa berbohong.
"Mama ...." teriak Rangga dari ruang makan sengaja memanggil dengan suara keras. Sejak tadi ia berda di baik dinding dapr dan mendengarkan kedua wanita berbda umur itu berbicara.
Rangga hanya takut, Puspa mulai gak nyaman dengan kondisi ini. Suara keas Rangga mmebuat Puspa dan Mama Rania kaget dan menoleh ke arah Rangga yang masuk kedapur dan memeluk tubuh Mama Rania dengan penuh kasih sayang.
"Rangga ... Kamu itu kebiasaan membuat Mama kaget," ucap Mama Rania seolah melupakan petanyaan barusan kepada Puspa hingga membuat Puspa sedikit lega dan segera menyelesaikan tugaasnya menggoreng aci dan di sodorkan di gazebo sebagai cemilan untuk menemani ngobrol.
__ADS_1
Rangga melirik Puspa dan memberikan satu kedipan mata yang membuat Puspa lebih paham maksudnya.