RENTAL ISTRI

RENTAL ISTRI
COBA JELASKAN


__ADS_3

Rangga menarik napas panjang dan di hembuskan perlahan melalui hidung dan mulutnya. Ia kembali berjalan menghampiri Dewi dan duduk tepat di samping Dewi.


Sudah lama rasanya hal seperti ini tak ia rasaka bersama Dewi. Kenangan manis beberapa tahun lalu masih jelas terasa sangat indah di mata Rangga. Tak kan pernah terlupakan sedetik pun.


"Kenapa sih? Semua ini harus di tutupi?" tanya Rangga pelan masih tetap menatap ke arah kaca besar itu.


Dewi melirik ke arah Rangga. Tumben sekali lelaki di sebelahnya ini serius. Atau cuma modus saja? Ia hanya butuh tanda tangan Dewi untuk mendaparkan harta warisan yang di titipkan Nenek Aini pada Dewi untuk Rangga dan keturunannya nanti.


"Kalau kamu cuma mau datang minta uang. Mana gironya, biar aku tanda tangani," ucap Dewi ketus.


Rangga langsung menatap tajam ke arah Dewi.

__ADS_1


"Pikiran kamu itu selalu buruk tentang aku, Wi!! Seharusnya aku yang marah!! Seharusnya aku yang benci dengan kamu!! Kamu yang pergi tanpa bicara, memutuskan hubungan tanpa kata!! Kamu pikir aku laki -laki yang gak punya hati? Jahat kamu, Wi!!" ucap Rangga ketus.


Deg ...


Kali ini ucapan Rangga tegas sekali dan tak main -main. Ucapan itu bener -bener ungkaoan dari hati yang paling dalam dan sebagai ungkapan dari bentuk kekecewaan.


"Maafkan aku, Rangga. Kalau kamu masih kecewa dengan kejadian waktu itu," ucap Dewi pelan. Pandangan Dewi terpusat pada satu titik yaitu kaca tembus pandang yang bisa melihat keadaan Bening setiap waktu.


Kini, Dewi yang menarik napas dalam. Dalam hatinya bicara, kenapa harus bertemu lagi dengan Rangga. Dewi tak sanggup membendung rasa yang bergejolak dari dalam hatinya. Andaikan lelaki yang ada di sampingnya tahu tentang kejadian yang sebenarnya, mungkin rasa kecewanya tidak akan sedalam ini. Rangga tentu bisa menerima lapang dada dan ikhlas semua alasan masuk akal Dewi.


"Aku nunggu kamu, sampai kamu bercerita semuanya dan aku mengetahui semuanya tanla ada yang kamu tutupi. Tanpa ada yang kamu sembunyikan dari aku," ucap Rangga pelan.

__ADS_1


Dewi menatal nanar ke arah kaca besar tembus pandang itu. Keadaan yang tak mengenakkan adalah menceritakan kisah pilu yang tak ingin ia kenang seumur hidupnya.


"Kamu yakin mau mendengarkan aku? Kmau yaki sudah siap untuk mendengar semuanya?" tanya Dewi pelan sambil melirik ke arah Rangga.


Tatapan kedua mata Rangga kosong. Jiwanya seolah sedang terbang ke angkasa dan termenung merenungi nasib serta menunggu takdir.


"Aku siap. Aku akan memaafkan kamu bila perlu. Jika selama ini pikiran ku selalu buruk tentang kamu, Wi. Itu hanya karena aku merasa kecewa, Wi. Waktu kebersamaan kita memang tidak lama. Tapi, cuma kamu yang mampu merubah aku menjadi lebih baik. Kamu yang membuat aku menjadi seperti sekarang ini. Aku berhutang budi padamu, Wi," ucal Rangga pelan.


Dewi tak mengerti dengan ucapan Rangga. Tadi ia bilang ia sangat kecewa berat dengan Dewi. Tapi, ia merasa banyak berhutang budi. Itu tandanya Rangga sudah melupakan semua yang pernah terjadi di antara kita. Itu tandanya Rangga memang sudah tak ada rasa kepada Dewi.


Dewi salah terka. Ia pikir masih memiliki secercah harapa untuk mengembalikan hubungan mereka sepert dulu. Tapi nyatanya tidak sama sekali.

__ADS_1


__ADS_2