RENTAL ISTRI

RENTAL ISTRI
30


__ADS_3

Rangga tertidur pulas hingga mendengkur. Awalnya ia hanya ingin berpura pura tidur dan mengakhiri perdebatan dengan dengan Dewi.


Dewi sendiri juga sudah mulai lelah dan tertidur pulas hingga pagi.


Keduanya terbangun karena ketukan pintu Mama Rania denagn keras karena hari sudah siang. Pasangan pengantin baru itu tak kunjung bangun dan keluar dari kamar tidurnya.


Dewi terbangun terlebih dahulu dan membuka kedua matanya lalu membola menatap tubuhnya kini berada dalam dekapan Rangga.


"Arghhh ...." teriak Dewi kaget.


Rangga juga langsung membuka kedua matanya. Awalnya kaget juga karena Dewi terdekap wrat di dadanya. Tapi ia berlagak santai dan tenang seolah olah tidak terjadi apapun.


"Kenapa coba? Dasar perempuan sukanya teriak teriak gak jelas," cicit Rangga pura pura kesal.


Dewi langsung terbangun dan mendorong tubuh Rangga.


"Dasar laki -laki. Sukanya cari kesempatan dalam kesempitan aja," ucap Dewi menggerutu dengan kesal.


"Enak aja kalau ngomong!! Siapa juga cari kesempatan. Kayak gak ada perempuan yang mau aku ajak tidur saja," ucap Rangga makin kesal dan tersulut emosi.


"Ya sudah sana. Kamu cari lah perempuan yang bisa kamu ajak tidur. Kita menikah karena hitam di atas kertas, bukan atas dasar cinta," ucap Dewi ikut kesal.


Dewi langsung bangkit berdiri dan mengambil handuk lalu masuk ke dalam kamar mandi.


Tak lama Dewi mandi dan ia membuka pelan pintu kamar mandi. Dewi lupa membawa pakaian ganti dan pakaian dalam. Kepalanya menyembul keluar kamar mandi untuk melihat kondisi dan situasi. Semoga saja, Rangga masih tertidur pulas.


Kedua mata Dewi menatap gulungan selimut yang masih menumpuk. Sepertinya tubuh Rangga masih tergulung dalam selimut seperti lemper ayam di atas piring.


Tubuh Dewi hanya di lilit oleh kain handuk yang tak lebar dan panjang. Hanya mampu menutupi sebagian tubuhnya saja dan terlilit satu kali karena handuk itu kecil.

__ADS_1


Kaki jenjang Dewi melangkah keluar kamar mandi dengan sangat hati -hati sekali.


Ia takut jika teledor menginjak sesuatu dan malah akan membuat suara bising lalu kegaduhan dan Rangga terbangun.


Kedua kaki Dewi berjingkat sambil menatao gukungan selimut yang masih tak bergerak. Dengan cepat Dewi berbelok menuju lemari pakaian dan mengambil pakaian ganti.


Tapi sungguh malang nasibnya memang.


Brukk ...


"Argh ... sakit ...." teriak Dewi dengan suara keras.


Lilitan handuk yang di pegang dengam jari jarinya ikut terlepas dan jatuh terkulai di lantai hingga tubuh polis Dewi terlihat jelas dengan kedua mata telanjang Rangga yang terjatuh tepat di depan Dewi. Mereka saling berhadapan. Tanpa di sadari, Rangga menelan air liurnya dalam hingga suara tertelan di tenggorokan begitu terdengar sangat jelas.


Melihat Rangga yang takjub dan kagum dengan keindahan tubuh Dewi. Dewi langsung berteriak untuk kedua kalinya. Lalu menutupi tubuhnya denagn kedua tangannya. Handuknya tak sempat di ambil dan tak sempat di tarik ke atas untuk menutupi tubuhnya karena tersangkut dengan kaki meja rias.


"Kamu lihat apa!! Tutup matamu!! Nanti malah bintitan," teriak Dewi dengan kesal.


"Kau tak lihat? Ini bagian indah yang aku sukai. Kenapa harus tutup mata? Kenapa juga harus bintitan. Kita sudah SAH. Kalau cuma lihat, tidak zina mata," ucap Rangga pelan tanpa beranjak dari tempatnya.


Kedua matanya malah semakin lekat menatap Dewi. Seolah tak mau melepaskan pasangannya dari tubuh indah yang ternyata membuat Rangga bergairah.


Dewi mencari barang di sekitarnya dan menemukan sandal tipis yang khusus di pakai di kamar lalu di lemparkan tepat di wajah Rangga.


"Arghh ... dasar istri durhaka," cetus Rangga sambil tertawa keras. Ia pun bangkit berdiri dan mengulurkan tangannya untuk menolong Dewi.


Dewi diam dan masih menutup tubuhnya dengan kedua tangannya. Wajahnya memerah karena malu.


"Udah pergi. Aku mau berdiri. Malu tahu," ucap Dewi kesal kepada Rangga yang masih menatap Dewi dengan tatapan bergairah.

__ADS_1


Rangga pun memilih berlalu dari hadapan Dewi. Ia merasa kasihan kepada Dewi. Padahal ia masih sangat ingin menggoda Dewi.


Rangga memilih berbelok dan masuk ke dalam kamar mandi. Kini gabtian Rangga yang mandi dan membersihkan tubuhnya di dalam kame mandi.


Melihat situasi sudah aman dan terkendali. Dewi pun bangkit beridir san memungut handuknya yang nyankut di kaki meja tias dan melilitkan sekali di tubuhnya sambil ujung handuk di pegang erat agar tak terlepas.


Ia sudah membuka lemari dan dengan cepar mengambil pakaian dalam serta pakaian yang akan ia gunakan pergi pagi ini menemui Nenek Aini.


Tadi malam, secara tiba -tiba menelepon Dewi dan memintanya untuk menemui di sebuah restauran mahal. Kata beliau bakal ada hal penrung yang akan di bicarakan termasyk masalah harta yang sudah di tanda tangani oleh Dewi yang ternyata semua hanyalah rekayasa Nenek Aini. Ia telah membohongi banyak orang.


Dewi sudah rapi dan sedang bercermin di depan kaca rias sambil sesekali merapikan rambutnya yang panjang dan memakai lipstik berulang kali. Wajahnya yang cantik dan manis membuat kaum adam jatuh hati pada pesona cantik perempuan yang bisa di rental itu.


Rangga keluar dari kamar. Tubuhnya sudah kering dan keluar begitu saja denagn tubuh yang polos. Awalnya Dewi sama sekali tak menyadari dan menatap Rangga berjalan dengan santainya tanpa ada rasa dosa melewati Dewi yang baru saja ngeh dan berteriak keras saat melihat belalai pa jang itu terjulur indah dan sama sekali tak di tutupi denagn apapun.


"Arghhh ... Porno kamu, Rangga!!" teriak Dewi keras sambil menutup kedua matanya dengan dua telapak tangannya secara spontan. Namanya manusia, perempuan muda yang di beri akal sehat dan di beri sedikit bumbu untuk berhasrat hingga jantung terus terpacu untuk merasakan gairah yang luar biasa membuat detak jantung dan aliran darah naik langsung menuju ubun ubun.


Rangga hanya mengulum senyim sambil menatap Dewi dari pantulan kaca yang malah menatap dirinya juga dari sela sela jari jari tangannya.


Rangga malah terkekeh dan berjalan lambat serta santai seolah memang di sengaja.


"Porno? Tapi penasaran kan? Suka kan lihatnya? Lumayan satu tahun bisa lihat pusaka ku gratis," ucap Rangga semakin tertawa keras.


Dewi hanya mendesah keras dan mendengus kesal mendengar ucapan Rangga.


"Cihhh ... Percaya diri sekali kamu, Rangga," ucap Dewi pelan.


Lagi - lagi ia merasa dirinya sedang terjebak pada keadaannya saat ini. Statusnya sebagai istri memang sedabg di jalani. Kenapa aturan tak bileh memakai baju tudak tertulis dalam perjanjian itu. Kalau begini bisa bisa terjadi hal hal yang di inginkan.


Ha ... ha ... ha ... suara tawa Rangga begitu nyaring dan sangat lepas tanpa ada rasa beban berat melingkupi pikirannya saat ini.

__ADS_1


"Kamu baca kontrak kita dengan baik kan? Jelas di tulis di sana. Melakukan apapun sesuai kondisi status yang sedang di jalani kecuali berhubungan intim. Jadi ... kalau cuma peluk, cium itu wajar hanya saja aku menambah uang bulanan kamu. Aku hitung betapa kali aku mencium pipimu, bibirmu dan keningmu nanti di depan umum. Setiap hari ... aku akan membayar kamu," ucap Rangga dengan tawa yang begitu puas.


Dewi menatap Rangga yang licik. Bodoh sekali Dewi tak membaca dengan benar surat kontrak itu. Ada hal hal yang malah menyudutkan dirinya hingga ia merasa sedikit tertipu dengan hubungan ini.


__ADS_2