
Dokter Atta dan Bening pun saling bertatap dan melempar senyum.
"Kalian kenapa? Ada apa sebenarnya?" tnaya Dewi yang semakin merasakan keanehan.
"Kamu sudah punya pacar belum?" tanya dokter Atta pelan namun pertanyaan itu begitu menyentil dada Dewi.
Seketika Dewi menatap Bening yang tersenyum dan menoleh ke arah dokter Atta. Dewi menatap dokter Atta dengan lekat dan tajam.
"Kenapa? Kok malah melotot?" tawa dokter Atta berpura -pura menggoda Dewi.
"Gak ada pertanyaan lain?" tanya Dewi menatap dokter Atta dengan tatapan tak suka. Seolah dokter Atta sedang mencobai dirinya.
"Mbak Dewi kok ngomongnya gitu sih?" Bening yang suruh tanya. Bening mau Mbak Dewi punya pacar seperti dokter Atta, baik, perhatian, lembut, sayang sama Bening," ucap Bening polos.
__ADS_1
Dewi menatap Bening dan Atta secara bergantian.
"Kalian ini kenapa sih? Mbak Dwi masih mau fokus kerja, Bening. Bukan waktunya untuk mencari kebahagiaan Mbak Dewi sendiri. Mbak Dewi ingin kerja keras agar kamu benar -benar sembuh, itu janji Mbak Dewi pada Ibu. Jangan meminta hal yang aneh -aneh kecuali kesembuhan kamu, Mbak Dewi tidak akan pernah mengabulkan," ucap Dewi lirih. Dewi melepaskan tangan Bening dan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
Bening menatap Kakaknya dengan perasaan bersalah. Mungkin permintaannya terlalu berlebihan bagi Dewi. Begitu juga Atta yang begitu tersentuh dengan ucapan Dewi yang tak mau memikirkan apapun kecuali kesembuhan Bening. Lalu? Bukankah Dewi akan menikah dengan adiknya dalam waktu dekat. Jujur, ini yang membuat Ata bingung.
Tangan Bening menggapai tangan Dewi yang sejak tadi menutupi wajahnya. Tubuh Dewi bergetar karena sedang menangis.
"Mbak Dewi ... Maafkan Bening, ya? Bening hanay ingin melihat Mbak Dewi bahagia, bukan terus menerus mengurus Bening siang dan malam," ucap Bening tersedu. Bening juga terisak sedih. Ia melihat wajah lelah Dewi yang hampir tak pernah terlihat bila bersama Bening, tapi jika tiba -tiba rasa lelah itu malah membuat tubuh Dewi sakit. Tentu, Bening sungguh merasa bersalah.
'Jangan pernah bicar ahal itu lagi, bukan karena Mbak Dewi gak suka. Mbak Dewi sama sekali belum ingin mencari pasangan yang pas. Mbak Dewi hanya ingin melihat kamu sembuh dan bisa pulang ke rumah. Itu saja sudah membuat Mbak Dewi bahagia," ucap Dewi yang masih terus menangis.
Suasana mulai kondusif lagi. Keduanya mulai bercanda dan tertawa bersama. Bening dan Dewi makan cemilan bersaa, salingmenyuapi dan tersenyum tiada akhir.
__ADS_1
"Besok pagi, Mbak Dewi ada kerjaan di luar kota. Kamu gak apa -apa? Hemodialisa sendiri, nanti Mbak Dewi suruh suster Ria menemani kamu, ya?" ucap Dewi pelan.
Raut wajah Bening hanya tersenyum. Ia tidak bisa menyuruh Dewi untuk sellau menemaninya. Apalagi, Dewi harus bekerja untuk dirinya.
"Lama Mbak?" tanyaBening pelan. Ada secercah kesedihan jika memang kepergian Kakaknya itu dalam waktu lama.
"Gak kok. Cuma dua hari aja. Mbak Dewi akan berusaha cepat pulang setelah urusannya beres. Sebenarnya, Mbak Dewi juga gak mau, tapi kata Bos, gak ada yang bisa gantiin. Gak apa -apa kan?" tanya Dewi pelan.
Bening mengangguk pelan dan tersenyum.
"Nanti Bening sama dokter aja ya?"ucap dokter Atta tiba -tiba masuk ke dalam kamar dan membawa obat untuk Bening.
"Pak Dokter. Iya, Bening mau kalau di temani oleh Pak Dokter," ucap Bening lugu dan jujur.
__ADS_1
Dewi menatap Atta kesal. Tatapannya seolah ingin mencari kesalah Dewi.