RENTAL ISTRI

RENTAL ISTRI
BENING KOMA


__ADS_3

Sampai siang hari, Dewi masih berada di depan ruang ICU menunggu Bening, adik perempuan yang ia sayangi.


Ponsel miliknya terus berdering sejak tadi, namun Dewi memang mengabaikan semua panggilan itu dan sengaja tak membuka pesan singkat yang di kirim dari biro jasa tempat ia bekerja.


Atta menatap Dewi dari kejauhan


Ia tahu betapa sayangnya Dewi kepada Bening, adiknya. Pengorbanan Dewi hingga berada di titik ini mengusahakan Bening untuk tetap bertahan hidup dan kalau pun ada keajaiban Bening bisa sembuh total.


Sesekali kedua matanya menatap ke arah ruang ICU itu. Ia bahkan lupa kalau dirinya sudah lapar karena belum mengisi perutnya dengan makan siang.


"Makanlah, ini aku bawakan makan siang untukmu. Sejak pagi, aku lihat kamu belum makan apapun," ucap dokter Atta kepada Dewi sambil memberikan satu kantung plastuk berisi makan siang yang du belinya di kantin rumah sakit serta air mineral.


Dewi menatap Atta sendu. Atta memang baik. Hanya Atta yang selama ini bisa bertukar pikiran dan di ajak bicara dari hati ke hati soal apapun, tak hanya soal Bening tapi juga masa depan.


Tangan Dewi mengulur untuk menerima kantung plastik itu sambil mengucap, "Terima kasih dokter Atta."


Perlahan Dewi membuka plasrik berisi makan siang untuknya. Sepeeti biasa, dokter Atta tahu persis makanan apa yang Dewi suka.


Dokter Atta ikut duduk di samping Dewi dan membantu gadis itu membukakan botol mineral untuk minum Dewi nanti.


Nasi campur yang di kemas pada steroform berukuran sedang. Menu ini sudah sangat spesial dan membuat Dewi berulang kali mengucapkan terima kasih.


Beberapa suapan lolos masuk ke dalam mulut Dewi sambil di dorong dengan air mineral yang membuat kunyahan itu lebih mudah masuk ke dalam kerongkongannya.


"Lusa aku harus berangkat ke amerika. Ada studi banding di sana, dan aku menyanggupi untuk pergi ke sana selama beberapa tahun. Mungkin akan ada dokter lain yang menggantukan aku merawat Bening secara khusus," ucap Atta pelan tanpa melirik ke arah Dewi yang terkejut hingga tersedak dan terbatuk batuk mendengar ucapan seriua dokter Atta.


Uhuk ... Suara batuk itu makin keras dan tak bisa berhenti hingga dokter Atta memberikan botol minum berisi air mineral yang telah di buka tutupnya kepada Dewi untuk segera di minum.


Dewi meminum beberapa teguk air mineral langsung dari botol itu dan menatap lekat ke arah Atta yang sama sekali tak ada senyum. Wajahnya benar benar terlihat serius sekali.


"Kamu mau ke Amerika utuk tugas rumah sakit? Lalu, Bening bagaimana? Kamu gak kasihan sama Bening?" tanya Dewi pelan.

__ADS_1


Atta menoleh ke arah Dewi dan membalas tatapan gadis yang selama ini telah mengisi penuh relung hatinya dengan perasaan kasih sayang.


"Kalau boleh ku bawa ke Amerika. Aku akan bawa Bening ke sana untuk pengibatan lebih baik lagi," ucap Atta serius sambil menatap lekat kedua mata Dewi yang dengan cepat menggelengkan kepalanya.


"Gak bisa. Jangan kamu bawa Bening ke sana. Tanpa kamu dokternya pun, Bening pasti sembuh. Aku sudah berusaha keras untuk kesembuhannya," ucap Dewi pelan.


"Oke. Itu keputusan kamu. Aku hanya mau bilang soal kepergianku ini. Jaga Bening dengan baik," ucap Atta pelan dengan tatapan sendu.


Dalam hatinya sebenarnya tak pernah ikhlas meninggalkan Dewi dan Bening. Entah kenapa Atta sudah begitu nyaman dengan kedua perempuan itu


Tapi ... tak mungkin lagi ia bisa mendapatkan Dewi sebagai pasangan hidupnya nanti. Walaupun Atta tahu, ini semua hanya sebuah drama. Gak mungkin setelah mereka bercerai Atta melamar Dewi untuk menjadi istri sungguhan.


Tak terasa air mata Dewi menetes lolos begitu saja dari kedua kelopak matanya yang indah. Saat bulu mata lentik itu mengerjap pelan, buliran bening air mata itu terlihat begitu tulus ikhlas luruh.


"Kamu yakin itu tugas dati rumah sakit? Bukan karena ingin menjauhi aku? Kamu benci sama aku? Karena aku hanya perempuan yang bekerja untuk di rental? Dan kebetulan aku di rental oleh adikmu sendiri? Kamu marah kan soal ini? Karena kamu tahu yang sebenarnya?" tuduh Dewi yang benar dan tepat.


"Gak. Gak sama sekali," jawab Atta sesak sekali rasanya di dada. Ia hanya tersenyum kecut tanpa menatap Dewi.


"Kamu bohong kan?" tanya Dewi pelan.


"Gak. Dari awal aku kenal kamu, aku selalu apa adanya," ucap Atta sengit.


Ia kecewa dengan Dewi. Ia menyesal telah bertemu dan mengenal Dewi. Dan lebih parahnya lagi, ia mencintai Dewi. Ini penyesalan yang tak pernah ada akhirnya. Karena ternyata sulit melepaskan Dewi dari hatinya.


"Maafkan aku, dokter Atta. Ini pekerjaanku. Makanya aku tidak pernah mau terlibat dengan kisah asmara atau kisah cinta dengan siapa pun selama aku masih bekerja di biro ini tentu akan menyulitkan aku sendiri dan hubunganku dengan orang lain. Semuanya akan jadi rumit. Lagi pula aku masih punya perasaan dengan seseorang di masa lalu aku. Aku pergi begitu saja dan aku merasa bersalah hingga saat ini," ucap Dewi pelan menjelaskan.


"Kenapa harus kamu jelaskan kepadaku? Aku bukan siapa siapa kamu, Wi. Kita hanya berurusan di rumah sakit, antara pasien dan dokternya. Tidak lebih. Di rumah pun hubungan kita hanya sebatas kakak ipar dan adik ipar. Apapun misi kamu dengan Rangga, itu bukan urusanku, dan aku tidak mau tahu soal itu," ucap Atta pelan.


Hatinya sudah campur aduk rasanya. Segala rasa di rasa menjadi tak karuan. Mau nangis tapi ia seorang laki laki dengan profesi dokter, mau di taruh mana wajahnya jika ia menangis. Apalagi tangisannya karena seorang wanita yang tak pernah membalas cintanya. Pupus sudah.


"Maafkan aku. Pergilah kalau memang itu tugas dan pergilah agar kamu lebih sukses dari sekarang ini. Semoga Bening bisa memilik dokter yang sama baiknya sepeeti kamu," ucap Dewi pelan.

__ADS_1


Dewi bangkit berdiri dan merapikan seluruh makanannya yang belum habis. Ia langsung tak nafsu makan. Rasanya ingin cepat berdiam diri di dalam ruangan yang sepi lalu menangis sejadi jadinya.


"Arghhh kenapa dengan aku? Kenapa aku sedih saat dokter Atta ingin pergi? Kenapa aku harus gak rela? Kenapa aku merasa masih butuh dia di dekatku? Apa selama ini, aku sudah ketergantungan dengan dia?" ucap Dewi lirih saat memasuki kamar mandi dekat ruang ICU rumah sakit itu.


Air mata Dewi benar benar sudah tak terbendung lagi. Ia duduk di atas kloset yang tertutup dan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya yang sudah basah sejak tadi.


Saat Dewi pergi meninggalkan tempat duduknya dan meninggalkan Atta sendirian lalu membuang semua makanan yang masih ada ke dalam tong sampah.


Atta hanya menatap gadis yang ia sukai itu pergi. Ia tahu Dewi juga terkuka atas ucapannya. Tapi hanya dengan cara ini, Atta ingin Dewi membencinya dan di kira sebagai dokter yang bertanggung jawab. Biar sekalian Dewi benci lalu tak melihatnya lagi dalam waktu lama.


Atta sudah mencarikan dokter khusus untuk Bening selama ia pergi dan tetap dalam pantauannya walaupun jauh.


"Maaf kan aku, Wi. Kalau kamu tahu apa yang aku rasakan. Aku sakit hati. Aku kecewa. Aku cemburu. Tapi ... aku bukan siapa siapa kamu, aku gak berhak melakukan itu kepadamu. Kamu bebas. Kamu berhak memutuskan. Karena kamu memiliki power untuk memilih," ucap Atta dalam hatinya.


Atta berjalan menuju kaca tembus pandang itu. Ia lihat Bening masih sama. Belum ada perubahan sama sekali.


"Dokter Atta di panggil profesor di lantai dua," panggil seorang perawat kepada Atta.


Atta pun langsung berjalan naik ke atas tangga menuju lantai atas ke ruang profesor.


Tok ... tok ... tok ...


"Permisi Prof. Ada apa memanggil saya?" tanya Atta pelan.


"Masuk dokter Atta. Ini dokter Puji yang akan menggantikan posisi kamu di rumah sakit ini. Ia juga yang akan mengurus Bening. Ia dokter spesialis organ dalam. Bening pasti bisa lebih baik lagi walauoun tak ada kamu," ucap profesor pelan membesarkan hati Atta.


Kesempatan ini adalah kesempatan kedua. Tahun kemarin Atta juga di tawari program pertukaran dokter ini. Sebagai dokter muda dan banyak prestasi, Atta sellau menjadi nominasi untuk ikut program besar ini. Tapi saat itu ia lebih memilih egonya untuk tetap stay bersama Bening dan Dewi. Ia tidak mau mengejar dunianya karena ingin memiliki kehidupan real juga.


Tapi harapannya salah. Ia salah memberukan hati pada seorang perempuan yang hanya menganggap ia sebagai sahabat bahkan tak lebih dari itu.


Jadi, kesempatan kedua ini ia putuskan bulat untuk ikut. Meninggalkan semua perasaannya dan mulain okus pada profesinya.

__ADS_1


__ADS_2