
Dekorasi pesta pernikahan yang sederhana namun terlihat elegan. Perpaduan warna putih tulang dan emas menjadi satu. Seluruh kursi tamu undangan yang sudah terisi penuh. Di bagian dalam juga kerabat, sahabat dan orang -orang terdekat sudah hadir untuk menyaksikan akad nikah Rangga dan Dewi.
Rangkaian acara yang padat dari pagi hari hingga malam. Prosesi akad nikah yang sakral adalah hal yang paling di tunggu. Inilah akhir cerita mereka mengakhiri masa lajang dan berubah status SAH menjadi pasangan suami istri.
Rangga sudah duduk di kursi yang telah di sediakan untuk melaksanakan akad nikah. Penghulu dan saksi serta wali yang akan menikahkan Dewi juga sudah siap disana karena waktu sudah menunjukkan acara segera di mulai.
Dewi yang juga sudah siap dengan baju pengantin masih duduk di kursi kamar rias. Ia menunggu sampai Rangga selesai mengucapkan ijab kabul dan Dewi akan di hadirkan dan duduk tepat di samping Rangga untuk tanda tangan buku nikah sebagai bukti SAH bahwa mereka telah melaksanakan ijab kabul dan pernikahan yang sesuai dengan aturan agama dan pemerintah.
Suara lantang Rangga tanpa menggunakan mik terdengar hingga kamar rias itu. Sampai pada akhirnya kata SAH terucap bahagia dan serempak dari tamu undangan yang hadir sebagai saksi atas pernikahan mereka.
Atta menatap sendu ke arah Rangga yang lebih dulu menikah. Ia tak pernah benci pada adiknya, apalagi harus di langkahi saat menikah. Tapi, ia merasakan terbakar rasa cemburu saat Dewi berjalan menuju meja akad dan duduk di samping Rangga.
Dewi sangat cantik sekali. Gadis yang ia cintai sejak satu tahun lalu, saat mereka pertama kali bertemu di ruang unit gawat darurat.
__ADS_1
Ya, malam itu hujan deras sekali, di tambah petir yang terus menggelegar di langit hingga menampakkan kilatan cahaya petir menakutkan.
Dewi lari tergopoh -gopoh dan masuk secara paksa ke ruang unit gawat darurat dan bertiak keras sambil menangis meminta tolong karena adiknya pingsa di halte depan. Adiknya tak kuat berjalan dan pingsan di ruang tunggu halte itu.
Dengan perasaan iba, Atta langsung menolong Dewi dan Bening, adiknya. Sejak saat itu mereka sangat dekat. Tapi, Atta tidak pernah tahu, siapa Dewi sebenarnya hingga Acha membuka tabir rahasia besra itu.
Bukan malah benci atau dendam, tapi Atta mengacungkan jempolnya untuk Dewi yang benar -benar berusaha keras bekerja demi Bening.
Tepuk tangan yang sangat riuh tanda bahagia dan sebagai tanda ungkapan selamat menempuh hidup baru dari para tamu undangan kepada kedua mempelai.
"Sedih?" tanya Acha yang tiba -tiba sudah berdiri di samping Atta.
"Gak sama sekali. Malah bahagia, melihat mereka terlihat saling sayang, mencintai penuh ketulusan," ungkap Atta dengan raut wajah tenang dan santai. Padahal hatinya memang sedang hancur sehancur -hancurnya.
__ADS_1
"Pernikahan tipuan, kalau saja Mama dan Papa thu, tentu mereka akan angat marah sekali dan bahkan mengusir Dewi ...." ucapan Acha langsung di sela oleh Atta.
"Terus ... Kamu berharap kamu yang menggantikan posisi Dewi? Kamu yang berharap menikah dengan Rangga? Sebenarnya apa tujuan kamu, sampai kamu bela -belain melakukan hal ini seolah tak terima kalau perjodohan ini batal?" tanya Atta yang malah curiga dengan sikap dan perbuatan Acha.
Ha ha ha ... Tawa Acha begitu menggelar keras hingga sedikit terdengar menggema di ruangan itu. Untung saja, banyak orang di sana hingga tak ada yang menyadari.
"Kamu menuduhku? Mencari tujuan lain? Untuk apa? Orang tuaku kaya, Ayahku pengusaha, Ibuku juga seoarang wanita sosialita. Lalu? Apa yang aku banggakan dari seorang Rangga/" tanya Acha ketus.
"Terus? Kenapa kau gak pulang ke kota kamu dan duduk manis di rumah sambil menunggu jodoh kamu datang. Rangga sudah bahagia dengan Dewi," ucap Atta tegas.
Acha hanya tersenyum kecut. Dalam hatinya berkata, percuma bicara denagn orang yang mencintai Dewi juga, bukannya benci malah membela mati -matian.
"Loe pake pelet apa sih, Dewi? Sampai Kak Atta tergila -gila sama kamu? Rangga juga sepertinya ada rasa padamu juga," ucap Acha pada dirinya sendiri dengan sangat geram.
__ADS_1