RENTAL ISTRI

RENTAL ISTRI
ACHA MENCARI TAHU


__ADS_3

Persiapan pernikahan Rangga dan Dewi sudah sembilan puluh persen selesai. Besok adalah hari kebahagiaan mereka.


Rangga memilih menikah di rumah kedua orang tunaya. Kedua orang tua Rangga juga sudah di beri penjelasan perihal Dewi yang merupakan anak yatim piatu, hanya saja, Dewi tak menceritakan memiliki adik bernama Bening yang sedang sakit dan harus di rawat secara intensif di rumah sakit.


"Kamu yakin? Ingin menyembunyikan soal Bening? Mama dan Papa bisa marah besar kalau tahu berbohong. Bukankah kalian menikah itu untuk selamanya bukan hanya setahun atau dua tahun seperti pernikahan kontrak kan?" ucap Rico pelan menasehati saat keduanya makan siang bersama di kantin rumah sakit.


Dewi hanya mengaduk -aduk bubur ayam yang di pesannya lalu perlahan di suapkan ke dalam mulutnya.


"Kamu diam saja?" tanya Atta pelan.


"Terus, aku harus bagaimana? Aku gak mau jujur, karena aku gak mau di kira memanfaatkan keluarga kalian. Paham?" ucap Dewi ketus. Ia pusing sendiri dengan kontrak kali ini. Rangga yang seperti memiliki dua pribadi yng aneh.


Seketika Atta diam dan tak bicara. Ia malah menatap Dewi dengan lekat tepat padakedua matanya.


"Ada yang kamu sembunyikan? Di balik hubunganmu dan Rangga? Aku tak melihat ada cinta pada tatapan kalian," ucap Atta dnegan jujur.


Dewi eletakkan sendoknya dan menyeruput es jeruk di gelas plastik.


"Dokter Atta, mengajak Dewi makan siang, hanya untuk membeicarakan ini? Soal pribadi? Soal privasi? Hubungan Dewi dan Mas Rangga hanya Dewi dan Mas Rangga yang tahu. kami saling mencintai tanpa lebay, gak perlu di umbar di depan umum, dan gak perlu ada kata romantis setiap hari," ucap Dewi muali kesal.


udara siang itu sudah panas, masih di tambah suasana juga di pancing menjadi panas juga.


"Bukan Dewi. Aku tak bermaksud begitu. Aku hanya ...." ucapan Atta di hentikan dan menunduk menatap sup buah yang juga tak di habiskan. Rasa manisnya terlalu manis membuat perutnya sedikit mual, di tambah lagi dingin dari buah yang membuat hatinya makin tersiksa karena pupus sudah harapannya.


"Hanya apa?" tanya Dewi penasaran.

__ADS_1


"A -aku menciti kamu, Dewi," ucap Atta dengan suara lantang hingga beberapa pengunjung di kantin itu menatap dokter Atta yang sudah cukup di kenal.


Dewi tertawa terbahak -bahak. Ia meras lucu dengan ucapan Atta baru saja. Tak masuk akal.


"Lucu bercandanya. Receh banget," ucap Dewi makin keras tertawa hingga perutnya mulas.


"Aku serius Dewi. Aku gak lagi bercanda. Untuk apa bercanda urusan seperti ini. Ini hati! Perasaan!! Bukan tinag listrik yang berasal dari besi baja. Aku tidak sekuat itu, aku rapuh, aku lemah juga, aku kacau jika tak melihat wajahmu sehari saja," ucap Atta dengan wajah sendu. Kali ucapannya benar -benar terlihat serius dan jujur. Tidak nampak ia sedang bercanda atau berpura -pura. Memang kenyataannya Atta itu adalah lelaki yang serius.


"Dokter Atta? Anda sehat kan? Anda masih waras bicara seperti ini pada saya?" tanya Dewi mencoba mengingatkan Atta, bahwa besok adalah hari ijab kabulnya Dewi dengan Rangga, adik kandungnya sendiri.


"Kamu pikir, raut wajahku terlihat bercanda?" tanya dokter Atta kepada Dewi.


"Entah," jawab Dewi santai.


"Semoga semuanya lancar esok hari. Aku akan tetap menunggumu, kalau saja kamu tidak cocok dengan Rangga," ucap dokter Atta pelan. Ia sangat berharap sekali bisa menyanding Dewi.


Keduanya malah jadi canggung. Dewi yang canggung setelah ungkapan dari hati yang terdalam dari dokter Atta. Dokter Atta sendiri malah jadi salah tingkah.


"Ekhemm ... Jangan pernah menungguku. Lebih baik, dokter Atta terima saja, perjodohan dengan Acha. Dia gadis cantik, manis, baik dan ramah juga," ucap Dewi memuji.


"Tapi hati aku mmeilih kamu, Dewi. Aku mencintai kamu. Kamu gak bisa memaksakan orang untuk memilihkan atau mengarhkan. Nurani yang bicara," ucap dokter Atta pelan.


"Aku akan menikah, dan aku akan menikah dengan Rangga, adikmu. Lupakan perasaan itu. Sampai kapan pun, perasaan itu tak akan pernah terbalas," ucap Dewi tegas.


Dewi bangkit berdiri dan pergi meninggalkan dokt Atta sendirian di kantin. Dewi sudah malas berhubungan dengan laki -laki. Hidupnya sudah mati hanya perlu kebahagiaan dan itu hanya tentang kesembuhan Bening.

__ADS_1


Perasaannya dengan Rangga pun sudah mati sejak lama. Sejak Dewi memutuskan hubungan itu, ia mulai realistis. Hidupnya tak sama dengan orang lain. Ia harus berjuang mati -matian untuk bekerja keras, tapi ia tida mau kehilangan kehormatannya. Hidup hanya satu kali, ia tidak mau menorehkan dosa besar, apapun alasannya.


"Kenapa aku harsu di hadapkan pada masalah yang seperti ini?" batin Dewi kesal sendiri.


SKIP ...


"Hai Kak Atta," sapa Acha pelan yang sejak tadi menunggu kedatangan Atta.


"Ada apa? Sepertinya penting sekali sampai mengajak aku ketemuan di tempat ini. Padahal kita bisa ngobrol di ruah," ucap Atta pelan.


"Di rumah kan lagi pada sibuk dengan dekorasi untuk acara pernikahan besok. Ada hal penting yang ingin aAcha sampaikan. Suatu rahasia besar, yang harus Kak Atta ketahui perihal hubungan Rangga dan Dewi," ucap Acha pelan.


"Rahasia besar? Apa itu?" tanya Atta mulai penasaran.


"Ada satu syarat jika, Kak Atta mau dengarkan ini," ucap Acha meminta.


"Apa itu?" tanya Atta pelan.


"Kta menikah setelah pernikahan Rangga dan Dewi, tapi hanya di atas kertas saja. Tidak untuk hubungan yang sesungguhnya. Acha hanya cinta dengan Rangga, dan selamanya akan tetap sama," ucap Acha tegas.


"Gak. Aku sama sekali gak bersedia," ucap Atta tegas dan lantang.


"Kenapa? Karena Kak Atta mencintai Dewi juga?" ucap Acha tegas.


Acha melemparkan berkas ke atas meja untuk di lihat oleh Atta.

__ADS_1


"Lihat itu," ucap Acha tegas.


__ADS_2