
Saat lampu menyala, Rangga langsung menelan air liurnya dalam. Tubuh Dewi yang setengah polos itu sanggup membuat birahinya naik drastis hingga ubun -ubun.
Laki -laki mana yang tak terangsang saat melihat tubuh molek ada di depan matanya bahlan sedang berada di pangkuan dan dekapannya.
Dengan wajah menawan penuh pesona dan keringat yang nampak berkilau di sekujur tubuhnya membuat Rangga semakin tak sabar ingin menerkam Dewi.
Tapi, Rangga belum gila. Ia tidak mau mencari masalah baru dengan Dewi. Dewi belum menjawab soal Rangga ingin menjadukan Dewi istri sungguhan dan bukan istri rentalan lagi seperti yang saat ini sedang di jalani.
Wajah Dewi sudah memerah dan terus mencengkeram bahu Rangga keras.
"Wi ... Kamu kenapa?" tanya Rangga yang mulai iba melihat Dewi seperti tak tahan menahan kegelisahannya.
Dengan napas memburu Dewi berucap, "Ngga ... tolongin Dewi. Dewi gak tahan lagi."
Rangga melotot menatap Dewi. Apa maksud ucapan Dewi kali ini. Rangga tak paham.
"Ayo Ngga," ucap Dewi kemudian. Tubuhnya menggelinjang tersiksa sepertinya.
Dengan cepat Dewi membuka pengait bra yang ada di punggungnya lalu di buka hingga menampakkan dua gunungan yang nampak indah dan masih kenyal itu.
Kedua mata Rangga tak berkedip saat melihat tubuh Dewi yang terbuka di depan matanya.
Dewi pun mulai berani mencium bibir Rangga sambil menggoyangkan pinggulnya di pangkuan Rangga membuat pusaka Rangga pun perlahan mulai mengeras dengan pasti.
Ciuman Dewi pun mulai menggila. Tak hanya bibir Rangga saja yang terus di hisap oleh Dewi. Namun, Dewi terus memperdalam ciuman itu hingga lidahnya mampu menembus mulut Rangga yang membuka dan di sana Dewi mulai memainkan lidahnya dengan sangat ahli sekali. Rangga sampai tak bisa mengimbangi nafsu Dewi.
Dewi mulai membuka piyama Rangga dan Rangga hanya mengikuti saja. Lelaki mana yang tak suka melihat wanitanya terlihat ekspresif dan sedikit binal untuk menakali dirinya.
Dewi terus bergoyang dinatas pangkuan Rangga cepat. Tangan Rangga di tuntun Dewi untuk meremas dua gunungan dengan kuncup yang telah mengeras dan siap di hisap dan di mainkan.
Hasrat Dewi malam itu benar -benar membuat Rangga terkejut, senangbdan kewalahan.
"Pegang aja Ngga. Itu enak dan bikin nagih, arghh," teriak Dewi penuh nafsu.
Saat kedua tangan Rangga muali memegang dua gunungan dan memainkan kuncup yang mengeras itu. Dewi taknsegan -segan meminta untuk di hisap.
__ADS_1
"Gak mau di cicipi? Cuma mau di sentuh aja? Cicipin aja pakai ini," ucap Dewi menggoda sambil menunjukkan bibir dan lidah Rangga.
Suara manja Dewi membuat nafsu Rangga juga ikut meningkat.
Rangga mulai terhanyut pada suasana dan kondisi yang sangat menunjang itu. Rangga tidak tahu, Dewi berada dalam pengaruh obat kuat dengan perangsang tingkat tinggi.
Dengan cepat Rangga menjatuhkan Dewi terlentang di kasur. Pakaian dalam Dewi yang masih tersisa di tubuhnya pun ikut di lepaskan oleh Rangga dan di buang ke segala arah.
Rangga juga menurunkan celana piyamanya dan pusakanya yang begitu panjang dan tegak sempurna siap menghujam lembah basah yang sudah becek akibat lendir yang keluar saat Dewi tadi menggesekkannya di atas pangkuan Rangga.
"Kamu siap Wi?" tanya Rangga lirih. Rangga juga sudah tak tahan. Pemanasan yanhmg kurang lebih satu jam itu sudah cukup membuat keduanya makin bergairah dan bergelora dalam nafsu dan birahi.
Dewi tersenyum dan mengangguk cepat. Ini yang di tunggu sejak tadi. Bagian bawahnya sudah meminta untuk di hujam.
Blush ...
"Arghhh ... Sakit ...." Dewi meringis dan meracau tak jelas mirip seperti orang sedang sakau.
"Sakit? Aku lepas ya?" ucap Rangga pelan.
Perlahan Rangga muali mengikuti nafsunya. Ia mulai melakukan gerakan seperti push up agar pusakanya terua merasakan tergelincir di jurang yang sangat dalam dan buntu.
Gerakan push up iru makin lama makin cepat dan makin bergelora. Rangga yang fokus pada gerakan push up pun sempat sesekali megerang keras dan tertahan. Dewi sendiri terus meracau dan berteriak sesuka hatinya.
"Ngga ... lebih cepat Ngga. Aku sudah gak tahan ini," ucap Dewi terus meracau. Tangan Dewi memegang pinggul Rangga untuk membantu memepercepat gerakan itu dan akhirnya semua tercapai dengan sangat nikmat sekali.
"Uhhh .... Terus Ngga," Napas Dewi terus memburu menahan klimaknya agar benar -benar tergapai smepurna.
Rangga pin menurut. Ia pun juga sudah mulai tak sabar untuk memuntahkan lahar putih yang selama bertahun -tahun tersimpan rapat dan tak pernah tersentuh.
Keduanya menggila dan terus saling berteriak memacu adrenalin merkea hingga akhirnya ....
"Rangga!!! Arghh ...."
"Uhh ... Dewi ... heummm ...."
__ADS_1
Tubuh Rangga mulai terkulai lemas di atas tubuh Dewi yang empuk seperti kasur.
Dewi sendiri sudah seperti orang tak sadar. Kedua matanya terpejam setelah kenikmatan sempurna itu di rengkuhnya.
Rangga menatap Dewi yang tanpa ekspresi apapun. Wajahbya nampakndatar dan sama sekali tak bergairah seperti tadi.
Rangga mulai gerah dan mencari remote AC untuk di di besarkan pendinginnya.
Dewi kembali menarik tubuh Rangga sambil berbisik.
"Aku udah gak tahan Ngga. Sekarang ya," ucap Dewi dengan napas memburu dan suaranya terbata.
Dewi menarik Rangga untuk menjatuhkan tubuh Rangga di atas Dewi. Dewi tadi sudah merasakan pusaka Rangga yang telah mengeras sempurna.
Sambil berciuman Dewi mwngulang kembali kejadian tadi hingga keduanya lupa diri dan terus meikmati pergulatan dalam cinta itu.
Setelah tiga jam tiada henti dan enath sudah berapa kali Rangga meluncurkan lahar putih di lubang Dewi.
Kini Dewi sudah tertidur pulas dalam dekapan Rangga. Dalam hati Rangga terus berjanjinakan menjaga Dewi selamanya.
Malam ini sebagai bukti bahwa Rangga mau bertanggung jawab atas Dewi.
Rangga menatap wajah Dewi yang lulas tertidur dan mengecup kening Dewi berkali -kali.
Jari -jarinya kembali nakal menyusuri wajah Dewi dari pipi hingga ke bibir Dewi yang sedikit membengkak akibat perbuatannya tadi.
Tak hanya itu saja. Leher Dewi juga penuh dengan ukiran relief yamg di buat unik oleh Rangga.
Tangan kiri Rangga menyangga kepala Dewi dan tangan Rangga mulai bergerilya. Tadi, Rangga belum puas menyusuri semua tubuh indah Dewi.
Ya, tangan Rangga mulai berhenti dan nakal meremas gunungan indah itu sambil memilin kuncup yang membuat gemas dan sesekali kepala Rangga di turunkan untuk menghisap kuncup yang berbentuk seperti buah anggur hitam.
Ada kenikmatan tersendiri saat kuncup itu di hisap dan tangannya terus meremas gunungan kenyal yang suadh membuat candu Rangga.
Sesekali Dewi hanya melenguh nikmat. Entah sadar atau tidak pastinya ia merasakan kalau tubuhnya sedang bereaksi.
__ADS_1