RENTAL ISTRI

RENTAL ISTRI
AKU MENCINTAI KAMU


__ADS_3

Dewi sudah mandi dan sudah memakai baju terusan yang berbahan rajut dan pas dengan bentuk lekuk tubuhnya.


Terusan selutut dengan kerah tinggi dan berlengan panjang. Baju ini memang cocok untuk di pakai di daerah pegunungan yang tinggi seperti saat ini yang Dewi kunjungi.


Rambutnya di biarkan tergerai indah di bahunya dengan sedikit basah di bagian ujung. Dewi tidak berdandan hanya memakai pelembab agar kulitnya tidak kering terkena uadara dingin dan hand body agar kulit tubuhnya terjaga kelembapannya. Tinggal bibir tipisnya di beri pewarna pink sedikit agar tidak terlihat pucat.


Dewi keluar dari kamar menuju balkon villa yang sudah menggelap. Langkahanya pelan berjalan menghampiri Rangga.


Aroma wangi parfum Dewi cukup khas dan Rangga langsung membalikkan tubuhnya. Dewi sudah berada di depannya saat ini dengan pesona yang masih sama dan selalu membuat hati Rangga meleleh dan jatuh hati berkali -kali.


"Baru juga mau di kagetin. Malah udah balik badan," cicit Dewi mulai bersikap manja sewajarnya.


Rangga menatap Dewi lekat. Tangannya mengulur dan menyentuh pipi Dewi.


"Kamu cantik banget pakai baju ini, Wi," jujur Rangga pelan.


Dewi hanya tersenyum manis. Sudah sering sekali Rangga memujinya seperti ini.


"Makan yuk. Lapar nih," ajak Dewi pelan.


Dewi lebih dulu membalikan tubuhnya dan berjalan pelan. Tubuhnya memang seksi sekali dan ...


Rangga memeluk Dewi dari belakang. Kedua tangan Rangga mengulur ke depan perut Dewi dan membuat gadis itu terkejut setengah mati.


Pelukan itu begitu erat, lekat dan sangat intim sekali. Seolah saat itu Rangga ingin berucap, "Aku menginginkan kamu, Dewi."


Dewi cuma terdiam dan menyentuh tangan kekar Rangga. Dewi tahu, lelaki itu tak akan menyakitinya dan tidak akan berbuat nekat. Mungkin ini hanya sebuah moment yang hanya hanyut dalam suasana romantis saja. Tidak lebih.


Tapi ... Dada Dewi berdesir dan jantungnya mulai terpacu. Angin dingin yang menerpa rambutnya pun membuat aliran darah mulai terpacu naik hingga ke ubun -ubun.


Rangga masih mendekap tubuh Dewi dari belakang. Kepalanya terus mencium aroma strawberry wangi rambut Dewi.


"Ngga. Jangan begini, kita cuma ...." ucapan Dewi langsung di sela oleh Rangga dengan cepat.


"Ssttt diam. Jangan bicara. Biarkan aku memelukmu seperti ini. Sebentar saja. Aku rindu dengan hubungan kita yang dulu," bisik Rangga tepat di samping telinga Dewi.


"Tapi Ngga ...." Dewi berusaha menjaga jarak. Dirinya bisa terjebak pada emosi batinnya sendiri.


"Diam. Aku bilang diam," titah Rangga.

__ADS_1


Satu menit ...


Dua menit ...


Tiga menit ...


Empat menit ...


Lima menit ...


Dan secepat kilat, Rangga memutar tubuh Dewi yang kini sudah saling berhadapan.


Kedua tangan Rangga kini memegang pinggang Dewi dan tubuh mereka masih rapat. Rangga menatap Dewi lekat. Begitu juga Dewi yang juga menatap Rangga. Lelaki di depannya ini memang baik dan selalu menjadi idaman hatinya.


"Aku mencintai kamu, Dewi. Aku bicara jujur dan apa adanya dari hati aku yang paling dalam," lirih sekali Rangga berucap.


Kedua tangan itu mulai naik dan kini memegang kedua pipi Dewi.


Dewi hanya menatap Rangga dan tak bisa menjawabnya. Dewi pernah salah pada Rangga. Dewi tidak mau kalau perasaannya sekarang hanya akan di permainkan oleh Rangga karena ingin membalas dendam. Selalu itu yang ada di pikiran Dewi. Dewi memiliki rasa ketakutan dan kekhawatiran tersendiri.


"Kenapa? Kamu gak komentar? Apa kamu tidak mencintai aku, Wi?" tanya Rangga pelan.


Tapi bibir ini sulit sekali mengucapkan beberapa kata skaral itu.


Seolah mendapat angin segar. Rangga pun mencium bibir Dewi. Kalau pun ini di lakukan sebatas perjanjian kontrak mereka, hal ini tidak menyalahi kontrak yang mereka buat.


Bibir Rangga mulai menyentuh bibir tipis berwarna pink milik Dewi. Saat kedua bibir itu bersentuhan. Hanya rasa dingin yang terasa di sana. Kedua mata Dewi membuka perlahan dan kedua pasang mata itu saling bertatap penuh cinta.


Rangga semakin erat memegang kedua pipi Dewi dan mencium Dewi lebih dalam lagi.


Kali ini tak hanya saling mengecup dan menyentuh saja. Rangga mulai berani memainkan lidahnya agar kedua bibir Dewi terbuka dan memberikan celah agar mereka dapat berciuman selayaknya pasangan pada umumnya.


Napas Rangga mulai memburu. Tangan Dewi yang tadinya diam mulai memegang pinggang Rangga dengan erat. Rangga mulai berekspresi.


Suasana di balkon itu begitu mendukung sekali. Membuat jiwa keduanya kembali tenggelam pada perasaan yang mereka sembunyikan satu sama lain.


Dewi mulai bisa menikmati ciuman itu. Rangga sudah berhasrat. Antara rindu dan nafsu bercampur menjadi satu. Tidak hanya bibir saja yang saling bertaut, lidah mereka pun ikut bermain di dalam mulut mereka.


Cukup lama dan cukup di nikmati oleh Rangga dan Dewi. Sampai pada akhirnya Dewi melepaskan ciuman itu. Rasanya ia sudah kehabisan oksigen dan perlu menghirup banyak oksigen agar tidak kekurangan oksigen. Aktivitas yang nikmat dan membuat seluruh tubuh bergetar dan berdenyut.

__ADS_1


Rangga menatap Dewi yang masih terengah -engah dan mengatur napas agar lebih tenang.


"Aku sayang kamu, Dewi," bisik Rangga terus mengucap kata cinta.


Rangga tidak gentar. Dari dulu ia selalu memperjuangkan apa yang ia suka sampai benar- benar ia dapatkan.


"Ngga ...."


Rangga kembali mencium Dewi. Rangga sudah terlalu nyaman dengan Dewi. Ia tidak mau lagi kehilangan Dewi seperti dulu.


Apalagi kebersamaaan mereka saat ini. Tidur bersama di kasur yang sama dalam satu atap. Pergi bersama dan makan bersama.


Kalau kontrak rental itu selesai. Maka semuanya selesai? Tidak. Rangga tidak mau. Lagi pula, biro jasa itu sudah sepakat dengan Rangga untuk tidak memperkerjakan Dewi lagi karena saat iru Dewi sedang depresi.


Dewi melepaskan kembali ciuman itu dengan paksa.


"Ngga ... Jangan begini. Jangan buat aku semakin tersiksa dengan keadaan ini," jawab Dewi jujur.


Rangga menyimak ucapan Dewi.


"Aku mau serius," ucap Rangga lantang.


"Aku belum bisa Ngga," jawab Dewi pelan.


"Kenapa?" Rangga meminta penjelasan yang masuk akal.


"Aku mencintai orang lain," jawab Dewi berbohong. Ini adalah cara jitu agar Rangga menjauhinya.


"Siapa?" tanya Rangga ketus.


"Ada. Kami gak perlu tahu," ucap Dewi lirih.


"Siapa?" ulang Rangga bertanya pada Dewi.


"Kamu gak perlu tahu. Itu privasi aku," ucap Dewi singkat.


Dewi melepaskan tubuhnya dari dekapan Rangga dan berjalan duduk di meja makan yang sudah banyak lilin untuk menemani makan malam romantis mereka.


Rangga melirik ke arah Dewi dan mengepalkan kedua tangannya kesal.

__ADS_1


Sudah berada di titik ininsaja. Dewi masih tidak mau mengakui kalau pada kenyataanya ia masih mencintai Rangga.


__ADS_2