
Mama Rania dan Dewi tertawa, bercanda dan bercerita tentang malam pertama. Pembahasan mereka sejak shubuh tadi hanya berkutat tentang malam pertama.
Dewi yang memasak pun ikut terbuai dengan kekocakkan Ibu mertuanya itu. Alhasil, Dewi harus berkali -kali mencicipi nasi gorengnya agar pas rasanya.
Tahu sendiri kan? Kalau memasak dalam keadaan tidak fokus karena di ajak bicara atau sdeang tidak mood, maka rasanya juga bisa ambyar dan tak karuan.
"Wah ... Ada ynag bahagia nih," ucap Acha yang sudah rapi memakai seragam kantor.
Ya, sejak Acha pindah dan ikut dengan Mama Rania. Acha ikut bekerja di perusahaan Nenek Aini atau keluarga besar Rangga. Ayahnya juga salah satu penanam modal dan memiliki saham di perusahaan yang kini berkembang pesat menjadi perusahan yang besar di kota itu.
Dewi dan Mama Rania menatap ke arah Acha yang meletakkan tas hitamnya di atas nakas dekat meja makan dan duduk di salah satu kursi meja makan.
Mama Rania tersenyum kepada Acha tanpa menjawab sepatah kata pun. Dewi sendiri langsung menyelesaikan memasak dan langung menyajikan di meja makan.
__ADS_1
"Pagi Ma," sapa Atta pelan yang juga sudah rapih dan begitu wangi.
"Pagi Sayang. Tumben, pagi -pagi sudah rapih. Mau kemana? Mau bawa calon istri ya?" tanya Mama pelan.
"Hemmm Mama tumben kepo urusan Atta. Biasanya juga tidak peduli," ucap Atta asal sambil terkekeh.
"Kamu itu ... Kalau di tanya Mama selalu jawabnya begitu," ucap Mama yang masih membuatkan kopi hitam khusus untuk suaminya.
"Ada pasien khusus yang perlu di temani, Ma. Dia gadis manis yatim piatu," ucap Atta pelan yang menyeruput teh manis sambil melirik ke arah Dewi yang selesai melakukan tugasnya membuat sarapan.
"Ma ... Dewi naik ke atas dulu ya. Mau bangunin Mas Rangga," ucap Dewi pelan segera berlalu dari ruang makan itu dan berjalan menaiki anak tangga menuju kamar tidurnya.
"Ohh ada pasien khusus. Deket banget sama pasien?" celetuk Acha dengan suara keras. Ia sengaja bicara keras agar Dewi mendengarnya.
__ADS_1
Atta langsung menatap Acha dengan sinis. Roti bakar yang baru saja ingin di gigitnya langsung di letakkan kembali di atas piring kecil. Atta mulai tak nafsu makan sama sekali.
Brak!!!
Atta menggebrak meja makan. Ia sudah kesal dan emosi dengan perilaku Acha yang sengaja perlahan ingin membuka rahasia Dewi.
"Kamu kenapa Cha? Urus saja urusan kamu sendiri dan jangan suka mengurusi hidup orang lain," ucap Atta lantang.
Mama Rania menatap Atta dan Acha bergantian. Biasanya mereka bersikap baik dan manis. Tapi kenapa pagi ini bagai tom and jerry.
Acha malah membalas tatapan tajam ke arah Atta. Ia sama sekali tidak takut pada siapa pun dan tidak peduli dengan apapun termasuk ucapan Atta.
"Lhoo ... Salah Acha dimana? Acha kan cuma bilang, ohh ada pasien khusus. Kenapa Mas Atta yang kebakara jenggot? Itu tandanya ada sesuatu hal dong?" ucap Acha dengan sengaja membuat ricuh di pagi hari ini. Acha sengaja membuat mood semua orang di rumah ini tidak baik dan saling emosi lalu saling menyalahkan satu sama lain.
__ADS_1
"Sudah. Lihat Papah sudah datang. Jangan buat mood Papah gak baik. Tolong pengertiannya," pinta Mama Rania pelan dengan nada memohon dan menatap satu per satu ke arah Acha dan Atta bergantian.