
Dengan langkah kaki pelan dan sedikit bergetar. Dewi berjalan ke arah panggung dengan wajah di sembunyikan dalam tundukan ke bawah.
Semua mata memandang ke arah Dewi mengikuti arah lampu sorot yang yerus mengekor tubuh mungil itu.
Dewi sudah berdiri tepat di samping Nenek Aini. Nenek Aini langsung emmeluk Dewi dengan erat dan menangis. Dewi sendiri tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya. Ia hanya mengukuti langgilan Nenek Aini untuk naik ke panggung.
Rangga melangkah ke depan menatap ke arah panggung dengan seksama.
"Dewi ... Siapa kamu sebenarnya? Begitu banyak rahasia tentang dirimu yang kau sembunyikan agar semua orang tak mengenalmu dengan baik," batin Rangga yang terus menggerutu sendiri.
Nenek Aini langsung mengendurkan pelukannya dan merangkul Dewi dari arah samping. Pak Dodik langsung memberikan berkas kepada Dewi sebagai bukti bahwa hasil jerih payah Kakek Handoko selama beberapa dekade dengan sahabatnya tak lain suami Nenek Aini.
"Terimalah ini. Ini memang hak kamu sebagai penerusdan pewaris wasiat dari keluarga besar Handoko," ucap Nenek Aini dengan senyum merekah.
Dewi menerima satu berkas map sebagai simbol dengan rasa tak percaya.
"Nenek Aini? Ini gak salah alamat? Dewi anak yatim piatu," ucap Dewi pelan.
"Ya, Memang kamu, anak yatim piatu dan satu -satunya anak dari Bapak Rudi Handoko, betul itu nama Ayah kam?" tanya Nenek Aini emastikan.
Dewi mengangguk pelan.
"Iya Benar. Tapi ...." ucapan Dewi terhenti.
__ADS_1
"Tidak perlu kamu jelaskan Dewi, kamu adalah putri tunggal Bapak Rudi dan Ibu Kartika," ucap Nenek Aini pelan.
Deg ...
Dewi menatap lekat ke arah Nenek Aini. Nama Ibu Dewi ynag selama ini di kenal dan merawatnya bukanlah Ibu Kartika seperti apa yang di ucapkan oleh Nenek Aini, melainkan Ibu Ayu. Lalu, siapa Ibu Ayu yang ia kenal saat ini, kalu Ibu kandungnya bernama Ibu Kartika.
Nenek Aini hanya berbisik lirih, "Terimalah, jangan membuat pertanyaan baru di depan orang banyak termasuk kolega dan klien lama yang sudah menjadi rekan serta partnert kerja selama ini."
Dengan berat hati, dan perasaan mengganjal, Dewi menerima dengan senyuman penuh arti. Senyumnya memang tidak lega karena ia merasa tidak pantas dan bukan hak -nya menerima semua harta kekayaan ini.
Bukan malah senang, tapi smeua ini tanggung jawab yang amanah. Bukan malah bahagia, kalau asal usulnya juga tidak jelas. Mungkin setelah ini, Dewi perlu meluruskan semuanya kepada Nenek Aini dan menceritakan semua apa yang terjadi sebenarnya.
Setelah simbol pemberian hak, maa acara pun selesai.
Desas desus di kantor sudah begitu gencar, bahwa kepemilikan akan di kuasai oleh Rangga karena Atta, kakak kandungnya lebih memilih profesinya sebagai dokter. Namun, rencana itu bukan di gagalkan tapi, Nenek Aini ingin menjadikan keluarga Rangga dan Dewi utuh bersatu selamanya. Bukan pernikahan karena di dasar pada harta yang akan di terima setelah pernikahan.
Skip ...
Rangga marah kepada Nenek Aini di salah satu ruangan kantor yang tertutup rapat. Ia meminta penjelasan dari semua cerita bohong Nenek Aini.
"Apa maksud Nenek Aini dengan ini semua? Bukankah janji Nenek akan memberikan semua harta ini untuk Rangga? Kenapa acara ini malah berubah menjadi acaranya Dewi? Siapa dia sebenarnya?' tanya Rangga ketus.
Nenek Aini malah melotot dan berbalik memarahi Rangga.
__ADS_1
"Kamu suami Dewi, kan? Seharusnya kamu lebih mengenal Dewi dengan baik. Tanyakan pada itrimu itu, siapa dia sebenarnya," ucap nenek IAni pelan dan bangkit berdiri lalu pergi begitu saja.
"Nenek!! Nenek Aini mau kemana. Urusan ini belum selesai," ucap Rangga mulai sebal dengan keadaan ini.
"Kenapa? Apa yang kamu pusingkan Rangga? Bukankah tanpa menjadi pemimpin, kamu juga memiliki gaji?" ucap Nenk Aini pelan menjelaskan.
"Maksud Nenek dengan cucu pertama apa?" tanya Rangga tak pernah jelas membahas ini.
Cucu pertama? Berikan Nenek cucu dari hasil pernikahan kamu," ucap Nenek Aini dengan suara keras.
"Gak bisa, Nek. Gak akan mungkin Rangga punya anak dengan Dewi!!" jawab Rangga kelepasan jujur.
"Apa? Gak bisa? Apa maksd kamu Rangga?" tanya Nenek Aini dengan suara meninggi. Ada rahasia apalagi ini.
Rangga tersadar akan kebodohannya. Pernikahan kontrak dengan merental Dewi sebagai istrinya adalah keputusan terbesar Rangga.
"Ekhemmm ... Gak bisa. Karena, Rangga belum malam pertama. Dewi sepertinya sulit di sentuh," jawab Rangga pelan dan beralasan masuk akal.
Sontak, Nenek Aini tertawa dengan keras dan terbahak -bahak membuat perutnya pun sakit karena geli dengan ucapan Rangga yang terlalu kekanak- kanakkan.
"Kok, Nenek malah ketawa?" tanya Rangga pelan.
"Kamu lucu Rangga. Dewi itu istrimu. Mana ada seorang istri yang tidak mau di sentuh oleh suaminya?" tanya Nenek Aini pelan.
__ADS_1
Rangga memutar kedua bola matanya dengan malas. Andaikan saja, Nenek Aini tahu keadaan sebenarnya. Mungkin tidak akan bicara semudah itu.