
Ucapan Rangga baru saja membuat kedua mata Dewi membola dan bahkan melotot tajam ke arah Rangga.
"Gak boleh pergi? Enak aja? Aku mau ketemu Nenek Aini, tahu," ucap Dewi dengan suara keras berteriak.
Rangga juga membalas tatapan tajam Dewi dan melotot kepada dua mata yang tak terlihat garang itu saat menatap tajam ke arah dirinya.
"Ya sudah pergilah. Tapi aku ikut," ucap Rangga santai.
"Arghhh ... Gila kamu, Rangga!! Kamu itu kerja dan hari ini adalah hari pertama kamu jadi orang besar dan penting di perusahaan milik keluarga kamu!! Bisa bisanya mau ikut aku pergi. Inget aku cuma istri rentalan kamu," ucap Dewi mengingatkan.
Rangga mengangguk pelan dan tersenyum lebar lalu duduk di atas kasur empuk itu sambil menatap Dewi yang sudah membuka cardigannya dan hanya memakai tank top dengan dada rendah hingga menampilkan bagian dadanya yang indah sebagian. Ranum sekali.
Pemandangan itu tentu tak di sia siakan oleh Rangga. Ia malah seperti mendapatkan angin segar.
"Aku ingat dan aku belum amnesia tentang itu. Tapi kamu juga ingat, siapa pun yang merental kamu, mereka berhak atas dirimu, kecuali hal haram itu. Ekhemmm ... Sebenarnya gak haram ya. Kita berdua, aku dan kamu sudah halal lho. Bisa di cek di KUA atau secara negara pun kita SAH suami istri. Aku bisa saja merobek surat kontrak itu hingga tak ada bukti. Tapi kamu? Mau robek surat nikah kita? Aku bisa terbitkan lagi," ucap Rangga mengingatkan Dewi.
Deg ...
'Hah ... Kenapa harus ada ancaman seperti ini?' batin Dewi kesal.
Dewi sama sekali tak pernah berpikir jauh ke arah sana.
"Kamu mau mengancam aku, Ngga? Kamu sengaja membuatku terpojok?" tanya Dewi makin kesal kepada Rangga.
Ha ha ha ... Rangga tertawa keras sekali dan bahkan terbahak bahak.
"Satu tahun ini aku ingin bermain main denganmu. Aku sudah membayar kamu mahal sekali," ucap Rangga sambil merapikan lengan jas hitamnya yang terasa kusut.
"Aku bukan perempuan malam atau perempuan bayaran seperti kau kira, Rangga!!" ucap Dewi mulai kesal terbawa emosi.
"Aku tak pernah menuduh kamu begitu kan? Sama sekali tidak. Urusanku dengan kamu hanya satu tahun ke depan dan sedikit masa lalu kita! Itu saja," ucap Rangga dengan tatapan tak suka ke arah Dewi.
"Masih saja kau ungkit masa lalu!!" ucap Dewi ketus.
Dewi segera mengambil pakaian terusan yang terlihat elegan. Ia langsung memakainya begitu saja dan melepas rok mininya.
Dengan cepat Dewi mengambil tas slempangnya dan bergegas keluar kamar tidur meninggalkan Rangga yang sejak tadi sengaja menunggunya.
Hari ini rencananya Rangga sengaja ingin mengetahui kemana saja selama ini Dewi pergi. Termasuk selama ini Dewi yang sering sekali bolak balik ke rumah sakit. Kalau bertanya dengan Atta, kakaknya tentu Rangga tidak akan pernah mendapatkan jawaban yang sempurna.
Dewi sudah berada di bawah dan berpamitan kepada kedua mertuanya untuk pergi pagi ini.
"Kamu pergi sama Rangga?" tanya Mama Rania pelan saat Dewi menyalami dan mencium punggung tangan Mama Rania dan Papah Roki.
"Tentu Ma. Mau pergi sama siapa lagi. Pagi ininkatanya mau keremu Nenek," jawab Rangga pelan.
"Nenek Aini? Memangnya sedang ada di sini? Kenapa gak mampir? Suruh mampir ke sini ya?" T
titah Mama Rani berpesan pada Dewi.
"Baik Ma," jawab Dewi singkat sambil mengangguk pelan.
Keduanya sudah berada di dalam mobil dan sama sama diam tak bicara.
__ADS_1
"Aku turun di sini saja," ucap Dewi tiba tiba saat berada di tengah perjalanan menuju kota.
Rangga menoleh ke arah Dewi.
"Di sini? Kamu yakin? Kamu bertemu Nenek dimana? Biar aku antarkan sampai di tempat kalian bertemu," ucap Rangga yang terus menjalankan mobilnya tanpa henti.
"Berhenti. Ini masih pagi. Aku ada perlu mau ke biro sebentar," ucap Dewi berbohong.
"Ya sudah aku antar. Kamu istriku kan?" ucap Rangga pelan dan santai.
Dewi hanya menarik napas dalam dan sama sekali tidak bisa tenang. Berulang kali ponselnya berbunyi nyaring, namun Dewi tak mengangkatnya.
"Ngga. Sekali ini gak usah berdebat ya. Turunkan aku di sini dan jangan banyak tanya soal masalah aku," ucap Dewi tegas.
Rangga menuruti permintaan Dewi kali ini. Ia meminggirkan mobilnya agar Dewi bisa turun tepat di sisi jalan.
Mobil itu sudah terhenti dan Dewi bersiap untuk turun dari mobil.
"Aku turun ya, Ngga," ucap Dewi pelan.
"Oke hati -hati. Kalau ada sesuatu telepon saja. Gak perlu sungkan," titah Rangga pada Dewi.
Dewi menoleh ke arah Rangga dan mengangguk pelan. Dewi pun turun dari mobil itu dan menutup kembali pintu mobil Rangga. Rangga masih berhenti dan belum menjalankan mobilnya. Ia sengaja menunggu Dewi pergi dan akan membututinya.
Sekitar sepuluh menit. Dewi menatap mobil Rangga yang sama sekali tak ada pergerakan hingga Dewi berjalan lagi menghampiri Rangga dan mengetuk kaca jendela yang ada di samping Rangga dengan pelan.
Tug .. tug ... tug ...
Kaca jendela itu di ketok oleh Dewi dan Rangga pun menurunkan kaca jendela itu lalu menyapa Dewi.
"Kok masih bisa di sini? Belum jalan ke kantor?" tanya Dewi pelan.
Rangga menatap ke arah Dewi. Tatapannya aneh tak seperti biasanya.
"Ngga? Kamu denger sama pertanyaanku barusan kan?" tanya Dewi pelan.
Rangga cuma mengangguk kecil tanpa ekspresi wajah yang sewajarnya.
"Kalau denger kenapa gak di jawab?" tanya Dewi pelan kepada Rangga.
"Urusan kamu apa? Aku saja gak boleh mengurusi urusan kamu? Kenapa ikut campur urusan ku?" tegas Rangga dengan suara ketusnya.
Dewi kaget. Tidak biasanya Rangga bicara keras dengan nada tinggi sepeeti sekarang ini.
"Owhh ... Gitu. Baiklah," jawab Dewi paseah. Ia kembali lagi ke halte tempat menunggu taksi online yang baru saj di pesannya.
Tak lama taksi online itu datang dan membawa Dewi menuju tempat tujuan yang sudah di informasikan sebelumnya melalui pesanan online.
Saat taksi online itu sudah berjalan melewati mobil Rangga. Rangga pun mulai menjalankan mobilnya dengan laju pelan tepat berada di belakang taksi online Dewi.
Tujuan pertama Dewi adalah rumah sakit. Saat ini sudah pukul delalan lebih. Tentu Bening sudah berada di ruang hemodialisa.
Ia membuka ponselnya dan ada beberapa pesan singkat dari dokter Atta. Atta menyuruhnya segera datang karena kondisi Beming yang tiba tiba saja menurun dan lemah sekali. Kalau seperti ini terus. Bening tidak bisa melanjutkan cuci darahnya.
__ADS_1
Tak lama ponselnya kembali berdering Atta meneleponnya.
"Ya dokter," ucap Dewi sopan.
Setidaknya memang di luar rumah Atta adalah dokter yang menangani adiknya.
"Bening kritis. Dia ada di ICU," ucap Atta pelan.
"Apa? Aku kesana sekarang. Ini masih di jalan. Tolong kaga Bening," titah Dewi panik.
Sejak pagi perasaan Dewi memang sudah tidak enak. Di tambah lagi Rangga yang iseng membuat suasana pagi ini semakin tidak nyaman.
Sesampai di rumah sakit. Dewi langsung berlari menuju ruang ICU sesuai dengan informasi yang di dapat oleh Dewi dari dokter Atta.
Dewi menatap kaca besar yang tembus pandang sehingga bisa melihat kondisi Bening dari luar ruangan membuat Dewi sedikit sesak dan tak tega.
"Dewi ... Kamu sudah datang?" tanya Atta pelan dan berdiri tepat di samping Dewi.
Dewi yang sudah berurai air mata pun menoleh ke arah Atta. Spontan Dewi memeluk Atta erat. Dewi tak lagi tahu harus bercerita kepada siapa tentang kesedihan yang dirasakannya saat ini.
Atta menatap Dewi yang berada dalam pelukannya dengan ragi ia mengusap pelan rambut Dewi dengan lembut. Ia berusaha profesional dan membuat kuat Dewi di saat ini.
Dari kejauhan saru pasang mata menatap kesal adegan yang sama sekali bukan apa apa. Tangan Rangga terkepal erat. Cemburu. Itu satu kata yang terus ada di dalam hati dan pikirannya saat ini.
Melihat Dewi yang memeluk Atta. Hati Rangga panas sekali.
Rangga pergi dari tempat itu dan mencari tahu soal Bening kepada perawat yang merawat Bening. Banyak orang tidak tahu soal Rangga yang ternyata adik kandung doktwr Atta.
"Permisi ... Boleh saya bertanya soal pasien dokter Atta yang saat ini berada di ruang ICU. Siapa dia?" tanya Rangga pelan.
"Ohh ... Itu Bening. Pasien khusus yang di tangani oleh dokter Atta. Gadis kecil itu adik kandung Mbak Dewi," ucap perawat itu jelas.
"Adik Dewi? Bening? Memangnya sakit apa?" tanya Rangga pelan.
"Gagal ginjal akut. Mau cangkok ginjal namun mencari pendonor ginjal itu tidak mudah. Selain itu resikonya juga sangat besar sekali. Kalau pun ada belum tentu berhasil. Tingkat keberhasilannya setengah setengah," jawab perawat itu menjelaskan.
"Lalu saat ini kondisi Bening bagaimana?" tanya Rangga semakin penasaran.
"Bening kritis. Memang resiko penyakit gagal hinjal seperti ini. Dia tidak akan bertahan hidup lama setelah vonis. Apalagi Bening hanya mengandalkan sat ginjalnya saja dan iru sudah tak berfungsi baik," ucap perawat itu menjelaslan.
"Hanya satu ginjal? Ginjal lainnya?" tanya Rangga semakin penasaran tentang Bening.
Dewi tak pernah bercerita apapun tentang keluarganya apalagi soal Bening. Kalau Dewi cerita, Rangga tentu akan membantu Dewi.
"Ginjal lainnya sudah di ambil dan di jual saat Bening masih belia," ucap perawat itu pelan.
"Apa?" jawab Rangga spontan.
"Anda siapa?" tanya perawat itu pelan. Ia tidak bisa memberikan infirmasi detail pada orang lain yang tak ada kaitannya dengan pasien.
"Saya Rangga. Suaminya Dewi. Bisa tanyakan langsung jika tidak percaya. Ini cincin nikah kami berdua," ucap Rangga menjelaskan agar perawat itu yakin kalau Rangga adalah orang baik.
Perawat itu hanya mengangguk seperti kurang yakin dan tidak percaya. Perawat itu pamit untuk melanjutkan tugasnya kembali.
__ADS_1
Rangga hanya mengagguk pasrah mendengar ucapan perawat itu. Padahal masih banyak hal yang ingin ia tanyakan pada perawat itu seputar Dewi dan Bening. Kalau bisa soal Atta juga.