
Rangga sudah berada di dalam rumah sakit. Ia mencari keberadaan Dewi, istri rentalnya itu. Saat Rangga berjalan cepat dan setengah berlari. Ia menemukan Dewi sedang duduk termenung tepat di depanruang ICU. Pakaian yang di pakai Dewi masih pakaian yang sama saat tadi pagi mereka berpisah di jalan.
Dari belakang Dewi terlihat sangat kelelahan. Bisa di lihat dari cara duduknya yang agak menurun dan bersandar pada kursi tunggu yang berbahan kayu.
Baru juga mau menyapa dan memanggil Dewi dari kejauhan. Ada seorang laki -laki yang terlebih dahulu mendekati Dewi dan membawakan satu kantung plastik berisi makanan.
Dewi terlihat sigap dan langsung membuka kantung plastik itu. Lalu membuka satu palstik cemilan dan air mineral.
Rangga menghentikan langkahnya dan mengurungkan niatnya untuk menghampiri Dewi. Lebih baik ia menunggu di tempat lain yang tak mungkin bisa di ketahui oleh Dewi sambil memantau Dewi dari kejauhan.
__ADS_1
Tahu sendiri, tempat terbuka seperti rumah sakit itu pastinbanyak nyamuk atau serangga lain sebagai pengganggu kenyamanan dan kenyenyakkan tidur. Di tambah lagi angin malam yang begitu dingin menusuk tulang belulang. Rasanya linu dan ngilu sekali.
Lelaki itu malah menarik kepala Dewi dan berusaha membuat Dewi menjadi nyaman beristirahat. Kepala Dewi di sandarkan di lengan kekar sambil lelaki itu menyentuh pipi Dewi dan mengusapnya pelan.
Rangga berkomat kamit sendiri menggerutu kesal. Kenapa hanya dia yang tidak pernah tahu masalah yang sedang di hadapi oleh Dewi.
Mungkin benar kata Kak Atta. Dewi tidak ingin memberatkan Rangga dan keluarganya. Toh, apa yang ia lakukan ini hanyalah sebuah pekerjaan. Tidak perlu lah mencari kesempatan untuk memanfaatkan situasi dan kondisi yang sedang terjadi.
Pikiran Dewi sudah buyar. Di tambah lagi ponselnya memang sudah mati sejak sore tadi. Ia sendiri tak berusaha mencari cas ponsel. Untuk apa? Karena ia sudah tak memiliki orang tua da sanak saudara yang di kenal dan peduli pada nasib Bening, adiknya.
__ADS_1
Sejak duduk di kirsi tunggu yang letaknya agak jauh dari tempat Dewi dan agak remang pencahayaannya. Rangga menatap orang yang melewatinya menatap dirinya dengan tajam sambil mengendikkan bahunya hingga terlihat terangkat pelan sambil berjalan cepat klurus ke depan.
"Pada kenapa sih? Lihatnya kayak gitu banget? Kayak lagi lihat setan," ucap Rangga pelan pada dirinya sendiri.
Ia pun duduk tegak dan mengamati lampu redup yang sebentar lagi sepertinya akan mati total daya lampu tersebut. Kedua matanya pun mengedar ke seluruh lorong tersebut. Koridor ini memang lebih sepi di bandingkan dengan koridor lainnya.
Rangga pun membaca satu per satu ruangan yang ada di dekat situ. Karena ia merasa aneh sekali. Sesekali mencium bau wangi bunga dan aroma dupa yang sedikit menyengat menyeruak di lubang hidungnya.
"Apa? Kamar mayat!!" teriaknya keras. Rangga pun bergegas lompat dari tempat duduknya dan berlari tunggang langgang sambil membawa tas kecil berisi pakaian ganti untuk Dewi dan beberapa makanan yang ia beli tadi di minimarket saat dalam perjalanan menuju rumah sakit.
__ADS_1
Jantungnya berdegup keras dan begitu cepat seperti gerakan larinya saat ini. Bulu kuduknya berdiri merinding mengingat ia duduk bersebelahan dengan kamar mayat. Padahal Rangga cukup lama duduk di kursi tersebut.