RENTAL ISTRI

RENTAL ISTRI
AKU KENAPA


__ADS_3

Dewi berteriak keras dan sangat kencang sekali. Dewi itu memang phobia kegelapan. Maksudnya gelap yang benar- benar gelap sekali bukan hanya sekedar lampu kamar yang di matikan karena pasri masih ada cahaya yang masuk. Berbeda kalau memang mati lampun secara berjamaah yang bisa membuat pandangan benar -benar gelap seoalh kita buta dan terasa sangat pengab.


"Arghhh ...." teriakan Dewi cukup mengejutkan Rangga.


"Tenang Wi. Ada aku," ucap Rangga yang ikut panik saat mendengar Dewi berteriak dan mati lampu secara bersamaan.


"Tapi aku takut ...." ucap Dewi jujur dengan suara bergetar. Ini jelas Dewi ketakutan bukan akal -akalan dia saja.


Rangga lupa, kalau Dewi memiliki phobia gelap. Kejadian ini juga pernah di alami saat mereka masih menjadi sepasang kekasih beberapa tahun lalu.


Saat itu, acara retret yang di laksanakan oleh kampus. Acara ini adalah acara yang memang merupakan salah satu acara dari satu mata kuliah sebagai perenungam diri. Malam itu di akhir acara tepat jam sembilan malam. Sudah saatnya semua mahasiswa dan mahasiswi kembali ke kamar mereka masing -masing. Baru juga akan di bubarkan, lampu di seluruh daerah itu mati total. Dewi adalah satu -satunya mahasiswi yang berteriak kencang dan histeris. Dewi menangis dan Rangga yang mencoba menenangkannya.


Sama sepeeti malam ini, kejadian yang sama terulang begitu saja dan Rangga langsung memeluk Dewi yang sudah mendekap erat tubuh Rangga saat kedyanya masih saling berpandangan lekat tadi.


Batin Dewi, "Apes amat hari ini. Sudah hujan, mati lampu, lalu setelah ini ada kejadian buruk apa lagi?"


Batin Rangga, "Sering -sering saja mati lampu atau ada kejadian aneh yang membuat Dewi takut dan phobianya muncul tanpa sengaja. Kalau begini kan, aku juga yang merasakan keuntungannya."


Rangga mengulum senyum namun tak terlihat oleh Dewi karena posisinya memang sangat gelap gulita.


Kepala Dewi di letakkan di bahu Rangga. Dewi tadi langsung loncat dan sekarang berada di pangkuan Rangga. Dua tangan Dewi mengalungkan ke leher Rangga dan berpegangan erat sekali tak mau lepas.


Setengah jam kemudian ... Posisi mereka masih sama. Pelukan Dewi dan kedua tangan Dewi masih mengalungkan dan saling berpegangan erat


Rangga mulai merasakan keram di bagian kaki dan pahanya. Bukan karena Dewi berat tapi karena beban yang sama selama itu tanpa ada gerakan untuk merenggangkan sejenak otot -ototnya.


Tubuh Dewi mulai basah karena keringat karena mulai kepanasan dan pengab tak bisa bernapas.

__ADS_1


"Kamu gak apa -apa, Wi? Tubuh kamu mulai basah dan dingin," Rangga mulai panik pada keadaan Dewi.


"Hemmm ...." hanya kata itu yang lolos dari mulut Dewi. Napas Dewi begitu terdengar berat dan memburu. Fix, Dewi menahan sesuatu ini.


"Kamu kenapa Wi? Jangan bikin aku panik. Ini matu lampu, aku gak bisa melihat kamu dengan jelas. Aku gak tahu kondisi kamu saat ini kenapa? Kenapa sekujur tubuh kamu berkeringat dan sangat dingin," ucap Rangga benar -benar mulai khawatir.


Rangga berharap lampu di sekitar sini segera menyala. Agar Rangga bisa segera melihat Dewi yang tak tahu kenapa.


Sesekali tubuh Dewi bergoyang pelan di atas paha Rangga. Rangga berpikir memang mungkin Dewi mulai pegal sama seperti dirinya yang sudah keram otot. Rangga mencoba memeluk Dewi dan bergeser sedikit untuk bisa mengganti posisi kakinya agar tidak tetlalu keram.


Napas Dewi makin berat dan mulai memburu. Sesekali kepalanya yang tadinya ada di bahu Rangga mulai mendekat mencari kenyamanan di dekat leher Rangga sambil mengendus pelan dan bibirnya menyentuh kulit leher Rangga.


Tentu Rangga terkejut. Ini sengaja atau tidak tapi rasanya seperti ada yang aneh dengan Dewi. Dewi seperti sesekali mencuri kesempatan mencium leher Rangga tanpa di sadari.


"Wi ... Kamu gak apa -apa?" ucap Rangga pelan. Tangan Rangga mengusap punggung Dewi lembut. Tapi tubuh Dewi seperti terkena setrum dengan sengatan listrik paling tinggi.


"Kenapa Wi," jawab Rangga lembut.


"Dewi buka baju ya. Panas soalnya, gerah banget," ucap Dewi lirih setengahberbisik dengan napas berat.


"Kamu gak malu?" ucap Rangga kemudian mengingatkan. Rangga hanya tidak mau Dewi malu sendiri karena sudah bertindak bodoh.


"Gak. Tapi Dewi tetap peluk Rangga kayak gini ya. Boleh?" cicit Dewi dnegan suara manja dan begetar seperti gadis yang sedang berharap di sentuh.


"Ya. Terserah kamu, Wi," jawab Rangga bingung.


Mau tidak di perbolehkan tapi takut Dewi memang kepanasan. Mau di perbolehkan, jiwa kejantanan Rangga pasti muncul. Apalagi Dewi meminta tetap berada di posisi ini. Arghh ... Rangga harus bagaimana? WalauPun sudah SAH menjadi suami istri tetap saja, mereka bukan pasangan yang sebenarnya. Meskipun keduanya saling cinta dan saliing sayang.

__ADS_1


"Dewi buka ya," ucap Dewi sedikit gemetar.


Dewi menarik baju dres berajut halus itu ke atas hingga kepala agar baju itu terlepas dati tubuhnya. Lalu di lemparkan secara asal. Tubuhnya muali terasa sejuk sedikit terkena hembusan angin yang tak banyak karena kamar itu tertutup rapat.


Rangga agak canggung saat kedua tangannya benar -benar menyentuh kulit asli punggung Dewi yang kenyal dan mulus itu.


Sesekali air liur Rangga ikut di masukkan ke dalam kerongkongan.


Rangga merasa Dewi agak aneh malam ini. Dewi menegakkan posisinya dan seolah mengepaska posisi duduk di pangkuan Rangga tepat di antara kedua paha. Secara otomatis sebagai lelaki normal, merasakan kehangatan lipatan paha Dewi tentu akan ada sesuatu yang terbangun tanpa sadar dan tanpa harus di bangunkan.


Dewi terdiam. Sejak tadi ia merasakan perubahan suhu di dalam tubuhnya. Dari dalam tubuh rasanya panas sekali dan sampai berkeringat dingin menahan rasa panas itu. Aliran darah Dewi seperti mendidih dan perlahan naik terus mengaliri seluruh tubuhnya menuju kepala dan sampai di ubun -ubun.


Wangi aroma tubuh Rangga pun memicu hasrat Dewi hingga nalasnya terada berat dan memburu. Dewi masih mampu menahannya di tengah lampu gelap gulita dan memang kondisi sudah sunyi serta senyap.


"Kamu kenapa, Wi? Aku ngerasa kamu aneh?" bisik Rangga.


"Ekhemm ... Gak tahu, Ngga. Rasanya panas dari dalam terus naik ke ubun -ubun dan ...." ucapan Dewi lirih dan sengaja di hentikan. Dewi malu mengungkapkan tapi rasa panas itu makin menjalar di tubuhnya seperti terbakar api membara yang harus di lampiaskan melalui hasrat bergelora karena gairahnya mulai memuncak tanpa di sadari.


"Dan apa? Kenapa Wi? Mungkin aku bisa bantu," ucap Rangga lirih berbisik.


"Aku menginginkan itu Ngga. Rasanya tubuhku meminta itu. Bagian bawah sudah berdenyut dan basah sejak tadi," ucap Dewi jujur dengan suara bergetar.


Rangga terkejut dengan ucapan Dewi. Apa yang salah dengan Dewi? Kenapa tiba -tiba menginginkan itu? Atau jangan -jangan obat vitamin yang berwarna orange itu bukan vitamin yang biasa Dewi minum? Bunda ini pasti kerjaanya.


Di saat yang sama, lampu kembali menyala terang sekali hingga kedua mata mereka sedikit mengerjap karean silau lampu yang agak membuat kaget.


Rangga menatap Dewi yang sudah merah padam di wajahnya seperti menahan sesuatu.

__ADS_1


Tatapan Dewi pun seperti sudah tak sabar lagi.


__ADS_2