RENTAL ISTRI

RENTAL ISTRI
JANTUNGKU TAK NORMAL


__ADS_3

Acara memancing di hentikan sejenak karena makanan dan minuman yang mereka pesan sudah datang dan sudah tersaji di meja tempat saung yang mereka pilih.


Dewi sudah mencuci tangannya dan siap bersantap dengan menu makanan yang mengguggah selera dan menggoyang lidah mereka.


Rangga juga tak sabar menikmati makan siangnya yang membuat lidahnya bergetar sejak tadi bersama dengan orang yang Rangga sayang.


Rangga sengaja mendiamkan Dewi. Maksudnya tak berkomentar apapun agar Dewi tetap nyaman dan lupa dengan masalahnya.


Ia melihat Dewi sepwetk orang kalap. Ia berulang kali mengambil nasi dan lauk pauk yang di pesannya. Senang rasanya melihat Dewi mau makan lagi seperti biasa.


Rangga juga mulai cuek dan tak malu menambah nasi dan beberapa makanan lain sebagai pelengkap.


Mereka sudah terlihat harmonis dan tertawa bersama. Lebih bercanda tanla menyinggung masa lalu atau apapun juga. Di sini Rangga lebih berhati -hati bicara dan lebih menjaga perasaan Dewi.


"Kamu cantik Wi," puji Rangga di sela -sela makan siangnya.


Rangga tidak sedang merayu atau pun menggombal. Tapi, memang Dewi terkihat cantik sekali.


Tangan kiri Rangga menyentuh rambut Dewi yang mengganggu wajahnya. Rangga selipkan rambut itu di belakang telinga Dewi. Agar Dewi lebih bebas intuk menikmati makanannya. Siang itu angin memang begitu kencang menerpa, membuat tubuh juga terasa sejuk


Dewi malah menatap Rangga denagn wajah sendu.


"Kamu baik banget Ngga. Andaikan aku cari suami pasti aku akan cari lelaki seperti kamu," ucap Dewi pelan.


"Bukan kah kita sudah suami istri, Dew?" jawab Rangga sambil mengunyah makanannya.


"Tinggal beberapa bulan lagi semuanya selesai, Ngga," ucap Dewi pelan.


"Kalau aku gak mau berakhir. Kamu mau kan tetap bersama aku?" tanya Rangga kepada Dewi. Tatapanya sangat berharap sekali Dewi menjawab iya.


"Ada Acha, Ngga." jawab Dewi lirih.


"Memang kamu gak mau memperrahankan aku, Wi. Lagi pula Acha itu hanya sekertarisku saja. Gak lebih," ucap Rangga menjelaskan jujur hubungannya dengan Acha pada Dewi.


"Tapi Acha berharap lebih dari sekedar sekertaris, bukan?" ucap Dewi kemudian.


"Aku maunya kamu, Wi. Bukan dia," ucap Rangga tegas.

__ADS_1


Dewi menarik napas dalam. Ia tak tahu harus bagaimana. Perasaannya kembali larut pada cinta yang lama. Pesona Rangga memang mampu membuat Dewi kembali jatuh hati dan jatuh cinta seperti dulu.


Dewi memang begitu mendamba Rangga. Rangga adalah lelaki impiannya sejak lama. Harapan untuk menikah dan hidup bahagia memang harus ia korbankan demi keluarganya saat itu.


Tangan kiri Rangga menyentuh tangan Dewi dengan lembut.


"Aku pastikan hanya kamu dan cuma kamu yang akan terus mengisi hati ku yang selalu sendiri. Bukan orang lain. Aku gak mau jadi gila lagi karena kehilangan kamu lagi, Wi. Cukup sekali aku merasakan sakit hatibdan kecewa itu," ucap Rangga menyakinkan Dewi.


"Tapi Ngga. Aku masih terikat dengan pekerjaan. Setelah ini, sepertinya sudah ada yang meminta aku menjadi teman semalam," ucap Dewi pelan dengan wajah serius.


"Hah? Teman semalam? Gak salah dengar?" tanya Rangga mulai cemburu.


"Ya. Teman semalam. Hemm ... Gak ada adegan gituannya. Jangan ngeres. Aku gak pernah menerima itu," ucap Dewi langsung menyanggah ucapannya. Ia tahu Rangga pasti akan berpikir macam -macam tentang dirinya.


"Ya bisa aja Wi. Dia menjebak kamu," ucal Rangga mengingatkan.


"Hah ... Kamu malah menakuti aku, Ngga," jawab Dewi ma bergidik ngeri.


"Bukan menakuti. Setiap orang punua misi, Wi. Perkerjaan kamu ini beresiko besar. Sudah lah, lupakan tentang pekerjaan kamu. Kita kan lagi bulan madi," ucap Rangga smabil mengedipka satu matanya pada Dewi.


Dewi mengangguk pelan. Dewi tak sadar dengan ucapan Rangga tentang bulan madu.


"Lah ... Ini maunya Nenek Aini dan Bunda. Kamu mau mengelak," ucap Rangga berpura -pura.


"Ya kan kita gak mungkin tidur bersama," ucap Dewi pelan.


"Biasanya juga kita tidur bersama. Dalam kamar yang sama, dalam satu kasur yang sama dan dalam selimut yang sama. Kamu lupa?" tanya Rangga mengingatkan.


"Hah ... Iya juga sih," ucap Dewi pasrah.


"Pernah aku kurang ajar sama kamu? Pernah aku melanggar kontrak itu?" tanya Rangga berusaha meyakinkan Dewi kalau Rangga itu benar -benar menjaga dirinya dengan baik.


Dewi menggelengkan kepalanya pelan. Semua yang di ucapkan oleh Rangga adalah benar. Tidaknada yang salah satu patah kata pun.


Selama ini sudah beberapa bulan, Dewi dan Rangga memang cukup baik dan rapi menjalani pernikahan kontraknya. Dewi, sebagai istri rentalan Rangga pun lebih paham dengan posisinya.


Tapi, baik Rangga dan Dewi tidak pernah tahu jika sebenarnya satu keluarganya sudah mengetahui drama mereka.

__ADS_1


"Aku gak pernah macem -macem sama kamu, Wi. Bukan aku gak normal. Bulan aku gak nafsu lihat kamu pakai daster atau hanya pakai handuk. Aku laki -laki, aku punya hasrat, aku punya birahi dan aku punya nafsu. Tapi, aku harus bisa memendam itu semua demi tak di langgarnya perjanjian itu. Aku juga gak mau di katakan lelaki mesum, mencari kesempatan dalam kesempitan, ataunaku paksa aja kamu. Benar kan?" ucap Rangga trrus menjelaskan.


"Iya. Terima kasih. Sudah jagain Dewi dengan baik," jawab Dewi singkat.


"Hanya itu jawaban kamu?" tanya Rangga pelan.


"Ya. Lalu aku harus jawab apalagi?" tanya Dewi bingung.


"Perasaanmu padaku gimana?" tanya Rangga serius.


Dewi memutar kedua bola matanya malas. Pertanyaan Rangga membuat Dewi jengah.


"Sudah selesai? Yuk lanjut jalan lagi. Masih jauh gak tempatnya?" tanya Dewi mengalihkan pembicaraan agar semua yang sedang di bahas terhenti di sini.


"Baiklah Nyonya Rangga. Kita lanjutkan kembali jalan menuju villa," ucap Rangga sambil tertawa terbahak -bahak melihat mimik wajah Dewi yang langsung cemberut.


"Kenapa harus Nyonya Rangga?" tanya Dewi pura -pura kesal.


"Memang kamu gak mau jadi Nyonya Rangga?" tanya Rangga menuduh sambil berjalan ke arah luar menuju parkiran setelah membayar semua makanan yang di pesannya tadi.


Dewi diam saja dan pergi lebih dulu menuju larkiran mobil dan meinggalkan Rangga yang masih bertransaksi di kasir.


Angin kencang menerpa tubuh Dewi dan mengangkat rok pendeknya ke atas dan ....


Hap ...


Rangga langsung memeluk Dewi dari belakang dan menurunkan rok pendeknya yang tersibak ke atas dengan kedua tangannya.


Tubuh mereka sangat dekat dan membuat jantung Dewi terus berdegub keras.


Saat angin itu menghilang. Dewi langsung melepaskan tubuhnya dari dekapan Rangga dan berdiri agak berjarak.


Getaran itu benar -benar bagaikan seyrim di tubuhnya.


"Maaf Wi," ucap Rangga singkat.


Keduanya sudah masuk ke dalam mobil. Sedikit canggung memang. Dewi sudah duduk dengan tenang dan ...

__ADS_1


"Kalau pergi -pergi jangan lupa sabuk pengamannya di pakai. Biar aman," ucap Rangga memasangkan sabuk pengaman di tubuh Dewi.


Wajah mereka begitu dekat dan membuat Dewi berhenti bernapas. Degup jantungnya kembali berdetak kencang. Bisa jadi penyakit kalau begink terus berlama -lama dengan Rangga.


__ADS_2