
Dewi tetap masuk ke dalam kamar mandi dan mengabaikan panggilan Rangga yang terus memanggilnya dengan suara keras. Sesampai di kamar mandi, Dewi menginci rapat pintu kamar mandi dan menatap wajahnya di depan wastafel.
Air keran di wastafel itu di nyalankan dan di gunakan untuk mencuci wajahnya yang terlihat kuyu dan sedikit pucat.
"Arghhh ...." teriak Dewi kesal sambil menghentakkan tangannya di wastafel dengan sangat kesal sekali.
Dewi membuka lilitan handuknya yang ada di tubuhnya. Lalu berjalan menuju bathup untuk menyalakan air panas dan air dingin agar menyatu di dalamnya menjadi hangat.
Ia terus menatapi tubuhnya yang sudah tidak suci lagi. Ada beberapa tanda merah di sekitar dadanya dan bagian kuncupnya pun terasa sakit dan sediki perih. Mungkin Rangga terlalu gemas saat memilin bagian kuncup yang terasa enak dalam genggaman jarinya.
Air di bathup sudah mulai penuh kedua kaiknya mulai masuk ke dalamnya satu per satu. Tidak lupa, Dewi menambahkan aroma terapi mint di dalamnya. Ia paling suka dengan aroma terapi mint.
Tubuh Dewi mulai di tenggelamkan di dalam air hangat itu sambil bersandar di ujung bathup dan itu sungguh sangat menyenangkan sekali. Rasanya sangat santai dan begitu rileks hingga ke ubun -ubun. Kedua mata Dewi terus terpejam merasakan air hangat yang menutupi seluruh tubuh polosnya. Di tambaj aroma terapi yang melegakan indera penciumannya. Rasanya Dewi ingin melupakan kejadian malam tadi.
__ADS_1
Dewi kembali ingat dan masih teringat jelas saat ia merengek pada Rangga untuk di sentuh. Saat itu tubuhnya seperti mengeluarkan rasa panas dan tiba -tiba saja seluruh tubuh Dewi terangsang dan ingin melakukan hubungan terlarang itu. Gairahnya bergelora malam itu hingga napasnya memburu.
"Kenapa bisa begitu? Masa iya? Aku yang ingin?" ucap Dewi pada dirinya sendiri.
Dewi memijat bagian pahanya yang terasa pegal dan nyeri saat di buat berjalan tadi. Ia pegang bagian intimnya untuk di bersihkan perlahan. Bagian itu pun juga terasa perih dan sakit.
Tak terasa kedua air matanya turun. Dewi takut sesuatu bakal terjadi padanya. Ia tak percaya pada Rangga. Ia selalu menganggap Rangga pasti punya dendam tersendiri dengan Dewi karena masa lalu mereka.
Di dalam kamar Rangga termenung. Ia kembali melihat obat yang ia berikan kepada Dewi kemarin. Ia mencium satu per satu namun ia tak menemukan hal yang aneh di sana. Maklum Rangga bukan dokter. Jadi ia tidak bisa menganalisis apapun juga.
Rangga membiarkan Dewi do kamar mandi dulu. Ia tahu, gadis itu pasti marah dan berujung menangis. Rangga mengambil ponsel dan menelepon Bunda Rania lalu berjalan memjauhi kamar menuju dapur sambil menyiapkan sarapan pagi yang belum selesai tadi.
Sambungan telepon itu tersambung pada Bunda Rania.
__ADS_1
"Hallo ... Selamat pagi, Rangga. Bagaimana malam tadi? Honeymoonnya sukses dong?" ucap Bunda Rania sambil terkekeh keras.
Pagi itu nampaknya Bunda Rania tetlihat senang sekali dan bahagia luar biasa. Ia yakin sekali rencananya bakal sukses besar.
"Itu kerjaan Bunda? Jadu benar? Itu obat perangsang bukan vitamin?" tanya Rangga lirih.
Rangga berusaha sabar dan tidak mau marah -marah. Bakalan menguras energi saja dengan tanpa solusi. Bagus ia cari cara untuk mendiamkan Dewi. Deri pada marah dan berteruak kepada Bunda Rania.
"Tepat. Bunda itu hanya pengem cucu. Kalian menikah sudah lama lhi. Susah hampir enam bulan tapi kok yidak ada tanda -tanda. Mungkin kalian kurang gencar, kurang berhairah dan kurang panas dalam bermain. Makanya Bunda kasih obat itu biar kalian benar -benar merasakan sensasi yang sangat berbeda lain dari pada yang lain. Dan ternyata?" tanya Bunda Rania pada Rangga.
"Ya ... Bunda sukses membuat kami berdua berdebat," ucap Rangga kesal lalu menutup sambungan teleponnya dan mematikan ponselnya agar tidak ada yang mengganggu.
Rangga masuk kembali ke dalam kamar sambil membawa sarapan pagi untuk dirinya dan Dewi. Lalu meletakkan ponsel di meja rias dengan sembarang.
__ADS_1