
Dewi tak sedikit pun peduli dengan ucapan Acha yang keras sengaja membuat Dewi kesal.
Ceklek ...
Pintu kamar sudah terbuka terlebih dahulu sebelum Dewi sampai di kamar tidurnya.
"Rangga? Kamu sudah siap?" tanya Dewi pelan menatap Rangga yang sudah rapi dengan setelan jas hitam. Mirip dengan CEO ada di dalam film- film.
Rangga hanya menatap Dewi sekilas. Tubuhnya masih bau keringat di tambah bau aroma masakan yang melekat pada dasternya. Keringatnya masi membasahi kening dan rambutnya nampak lengket dengan kunciran asal.
"Sudahlah. Memang kamu, malah kelayapan gak jelas," ucap Rangga ketus.
"Kelayapan? Aku masak buat sarapan Rangga!! Bisa -bisanya kamu bilang aku kelayapan gak jelas?" ucap Dewi kesal tak terima dengan ucapan Rangga.
"Urusanmu!! Bukan urusanku!!" ucap Rangga kesal.
__ADS_1
Rangga pergi begitu saja dan turun ke bawah menuju ruang makan. Acha adalah sekertaris Rangga yang baru setelah pergantian kepemilikan dan perubahan manajemen yang di lakukan oleh Rangga sebagai gebrakan awal dimana ia memulai karirnya.
Dewi hanya menatap Rangga bingung. Sikapnya semakin hari malah semakin membuat Dewi kesal dan muak. Sikap mau menang sendiri, posesif, dan egois serat sombong. Keempat sifat itu seolah kini sudah mendarah daging di tubuh dan jiwa Rangga.
Dewi masuk ke dalam dan buru -buru membersihkan tubuhnya lalu bergegas berdandan. Hari ini sesuai jadwal yang di berikan Rangga. Dewi ikut datang ke acara di kantor.
Dewi memakai dres pendek bermotif rampel di bawah dengan gambar butterfly berwarna biru hidup. Sepatu yang di pakai Dewi pun berwarna silver dengan permata di atasnya dan pinggirannya list berwarna gold.
Tas slempang berwarna putih senada dengan dressnya. Semua adalah barang -barang dari keranjang seserahan.
Make up Dewi sempurna. Balutan foundation dan bedak menyatu sempurna di tambah blush on serta eyeliner untuk mempertajam bola matanya. Tidak lupa bulu mata palsu anti badai yang sedang viral. Rambut panjangnya di curly dan di beri vitamin agar lebih lembut dan wangi.
Tidak sampai lima belas menit. Dewi twrbiasa berdandan kilat karena efek waktu. Suara hak tinggi sepatu Dewi yang menyentuh lantai ubin hingga memberikan suara khas yang begitu nyaring.
Semua mata memandang ke arah Dewi dan berdecak kagum akan kecantikannya. Atta yang tak berkedip dengan mulut terbuka menatap keindahan dan kesempurnaan ciptaan Tuhan.
__ADS_1
"Biasa aja lihatnya. Bini orang tuh. Dosa nanti lihat yang buka mahramnya," ucap Rangga tertawa lepas sambil melirik ke arah Dewi.
Atta langsung menatap Rangga dan memutar kedua bola matanya malas.
Acha pun tak bisa berkata lagi. Ia mengakui kecantikan Dewi.
"Pagi semuanya," sapa Dewi dengan senyum termanisnya.
"Pagi Sayang. Ya ampun cantik banget menantu Mama," ucap Mama Rania memuji dengan tulus.
Rangga hanya tersenyum simpul dan melanjutkan sarapan paginya tanpa memperdulikan Dewi yang memilih duduk di samping Rangga.
Sebisa mungkin Dewi tetap berperilaku baik, ramah, lembut dan sopan. Ia sedang bekerja, jadi tidak bisa sesuaka hati mencari pilihannya sendiri.
"Kalian mau langsung ke kantor kan?" tanya Mama Rania pelanenatap Rangga da Dewi bergantian.
__ADS_1
Acha pun angkat bicara, "Iya Ma. Acha paham."
"Bukan kamu, Cha yang Mama tabya. Tapi, Dewi," ucap Mama Rania dengan jujur.