
Rangga menatap Dewi dengan tatapan curiga. Jangan -jangan apa yang Rangga khawatirkan selam ini benar. Dewi seorang penipu, pemeras, matrealistis dan ....
"Gak bisa ya?" tanya Dewi kemudian saat Rangga belum bisa menjawab pertanyaannya tadi.
"Kamu butuh uang berapa lagi?" tanya Rangga ketus dan seperti menghina Dewi.
Mata Dewi terbelalak dan membola menatap Rangga. Jawaban yang sama sekali tak pernah di bayangkan oleh Dewi. Dewi merasa di hina dan di jatuhkan harga diri dan martabtnya sebagai perempuan pekerja keras.
"Apa maksud kamu, Rangga? Aku minta baik -baik, kalau kamu gak bisa menyanggupinya? gak apa -apa, aku sama sekali gak pernah memaksa, tapi jangan seolah -olah kamu bisa membayarku dengan uang kamu yang banyak," ucap Dewi dengan nada tinggi dan rasa kecewa yang begitu mendalam.
Sikap dan sifat Rangga begitu berbeda sekali dnegan Rangga yang ia kenal tiga tahun lalu. Rangga yang manis, ramah, penuh semangat, selalu tersenyum, perhatian, tulus dan tak pernah merendahkan orang lain. Tapi kini, roda berputar dan membuat Rangga semakin sombong dengan semua yang ia miliki.
"Aku gak bisa mewujudkan keinginan kamu," ucap Rangga tegas.
Rangga mematikan lampu tidurnya dan merebahkan tubuhnya di kasur empuk itu.
__ADS_1
Kamar itu sudah di dekorasi sebagai kamar pengantin. Sprei berwarna putih dengan aksen emas serta kelambu yang tak di tutup untuk menyempurnakan malam pertama mereka.
Kembali lagi dengan syarat ketentuan itu hanyalah status di atas kertas saja dengan batas waktu yang telah di tentukan.
Rangga belum memejamkan kedua matanya. Ia terbiasa tidur malam. Sesekali ia menatap ke arah sofa empuk itu dan metapa Dewi yang juga terlihat gelisah tak tenang mungkin karena tidak bisa tertidur juga.
Rangga bangun dan bangkit berdiri dn membangunkan Dewi.
"Dew ... Tukeran aja. Kamu tidur di kasur, aku di sofa. Aku mau nonton TV atau mau main PS," ucap Rangga pelan.
Malam pertama itu hanya di laui dengan biasa saja. Memang karena hubungan mereka yang biasa juga.
Pagi -pagi sekali, Dewi sudah bangun dan turun ke dapur lalu memasak untuk sarapan pagi.
Dewi memilih membuat roti bakar dengan berbagai macam isian dan membuat susu putih.
__ADS_1
"pagi Sayang. Masak apa?" tanya Mama Rania pelan.
"Roti bakar Ma. Apa mau bikin menu lain?" tanya Dewi pelan.
"Nasi goreng? Papah tadi malam pesan di buatkan nasi goreng dengan telor mata sapi setengah matang," pinta Mama Rania pelan.
"Iya Ma," jawab Dewi pelan.
Dewi langsng meracik bumbu nasi goreng dan mulai memasak nasi goreng spesial.
"Gimana malam pertamanya?"t tanya Mama Rania pelan sambil menatap Dewi dari atas hingga bawah untuk melihat cara berdiri dan cara berjalan Dewi yang berbeda dari biasanya atau tidak.
"Malam pertama? Mas Rangga kelelahan Ma. Seharian terima tamu,"jawab Dewi lembut dan masuk akal.
"Ohh ... Iya juga sih. Bener kata kamu, Dewi. Mama dulu juga gak pas malam pertama kebobolannya, sudah di malam ketiga," ucp Mama Rania sambil tertawa mengingat saat itu.
__ADS_1
Pengalaman malam pertama tentu akan berbeda -beda dan memiliki cerita unik dan lucu tersendiri. Tentungan menjadi kenangan manis yang tak akan pernah terlupakan sepanjang masa. Saat tubuh ini mulai bercampur dengan pasanga yang kita cintai.