
Sudah dua hari Dewi hanya mengurung diri di kamar tidurnya setelah pemakaman Bening. Tatapannya selalu kosong lurus ke depan. Makan tidak mau, minum pun jarang. Badannya sudah bertambahbkurus dengan wajah kuyu dan sedikit kusut.
Dewi berulang kali tak sadarkan diri saat melihat jenazah Bening di masukkan ke dalam liang kubur.
Air mata Dewi sudah tak tertakar lagi ratusan liter mungkin sudah ia keluarakan dari dua bola matanya yang begitu indah.
Pagi ini, Rannga memang meliburkan diri. Ia ingin mengajak Dewi pergi ke puncak. Berjalan -jalan ke kebun strawberry, kebun teh dan naik ke puncak pegunungan.
Rangga sudah memesan villa yang tidak besar namun tetap nyaman untuk di huni oleh keduanya.
Sejak malam, Rangga sudah bersiap untuk pergi dan berkemas barang -barang milik pribadinya dan milik Dewi.
Dewi tak banyak bicara. Ia jhga jarang turun ke bawah seperti dulu menyiapkan sarapan atau makan malam dengan masakan hasil karya tangannya sendiri.
Dua koper kecil sudah di persiapkan Rangga. Rencananya, Rangga ingin satu minggu berada di sana. Ia sudah ijin dengan Nenek Aini juga. Hitung -hitung ini adalah waktu bulan madu mereka.
__ADS_1
Tanpa sepengetahuan Dewi. Kemarin Ranga datang ke biro di mana Dewi bekerja. Ia menyerahkan surat kematian Bening dan meminta agar Dewi bisa mengundurkan diri dari pekerjaannya. Saat ini Dewi butuh pengobatan khusus. Ia trauma dan jiwanya sedikit terganggu karena kehilangan adik kandungnya, Bening.
Awalnya kantor Biro jasa itu tidak mau. Ia hanya ingin memproses jika Dewi sendiri yang datang dan mengajukan resign lada kantor biro itu.
Tapi dengan perdebatan alot dan Rangga bisa membuktikan dengan foto dan secara nyata kondisi Dewi yang sedang tidak baik -baik saja. Akhirnya pihak biro saja percaya dengan satu syarat. Kalau ada sesuatu di kemudian hari, maka Rangga yang akan di tuntut. Rangga mengiyakan dan menyetujui semua syarat yang di ajukan oleh kantor biro jasa itu.
Mama dan Papa Rangga selalu mendukung keinginan Rangga terlebih yang ingin membnatu Dewi agar cepat sembuh.
Mama Rangga sedang menyiapkan kbat yang biasa di minum Dewi lalu di berikan kepada Rangga.
"Siap Ma. Doain saja, pas pulang Dewi sudah sembuh kayak dulu," jawab Rangga pelan meminta doa dan dukungan dari Mamanya.
"Pasti Mama doakan yang terbaik buat kalian tetutama buat kesembuhan Dewi. Jangan lupa ...." ucap Mama mengingatkan.
"Apa Ma? Jangan lupa apa?" tanya Rangga pelan. Ia bingung sekaligus penasaran.
__ADS_1
"Oleh -oleh dong. Masa satu minggu gak bisa kasih oleh -oleh buat Mama," ucap Mama tertawa. Permintaannya begitu ambigu.
"Ohh peuyeum?" jawab Rangga serius.
"Peyeum boleh juga. Ganteng juga bileh," ucap Mama dengan serius kelada Rangga.
"Peyeum? Ganteng? Apa sih? Gak ngerti," ucap Rangga bingung.
"Peyeumpuyan dan ganteng sama saja, yang penting cucu," ucap Mama tertawa.
"Ya ampun. Minta cucu? Dewi kan lagi sakut Ma. Lagi pula ...." ucapan Ranga terhenti.
Tidak mungkin kan Rangga bicara jujur saat ini? Ini bukan saat yang tepat. Karena Rangga tidak mau merusak suasana liburan yang sudah di jadwalkan Rangga.
Rangga hanya berharap kebersamaannya bersama Dewi selama seminggu membuahkan hasil yang baik bagi kesehatan jiwa dan mental Dewi. Syukur -syukur memang Dewi masih mau menerimanya kembali dan mereka tetap bersama dalam ikatan pernikahan yang SAH.
__ADS_1
Keinginan dan harapan yang sederhana tapi sulit di gapai.