
Malam ini, Rangga mengajak Dewi makan di kantin. Melihat tubuh Dewi yang kuyu membuat Rangga tak tega.
"Mau apa Wi? Biar aku pesenin," ucap Rangga pelan saat duduk di salah satu meja.
"Bubur ayam aja sama teh manis panas," ucap Dewi memesan makanan jntuk malam itu.
Perut Dewi ingin yang hangat -hangat. Tak lama pesanan mereka datang.
Rangga mulai mencampur nasi gorengnya dengan telur setengah matang.
Satu sendok nasi goreng itu sudah masuk ke dalam mulut Rangga.
"Gimana Acha?" tanya Dewi basa basi. Sambil bertanya Dewi mulai menikmati bubur ayam yang masih panas.
"Kenapa harus tanya soal Acha? Bagus kita urusi hubungan kita. Gimana ke depannya? Gimana kelanjutannya? Gimana memperbaikinya?" tegas Rangga kepada Dewi.
"Aku mau fokus sama Bening," ucap Dewi pelan
"Ya," jawab Rangga pelan.
Bening saat ini membutuhkan perhatian Dewi. Walaupun Bening sedang tidak sadar, Bening bisa merasakan kasih sayang Dewi.
"Wi ... Aku mau bicara jujur sama mama dan papa, soal ini," ucap Rangga pelan.
"Jangan Rangga. Aku belum bisa jawab soal tadi," ucap Dewi pelan.
"Kenapa? Kamu gak yakin hidup sama aku? Atau kamu ragu? Atau ada hal lain?" tanya Rangga pelan.
"Jangan bahas hal ini ya, Ngga," pinta Dewi pelan.
Skip ...
Pagi ini, Atta sudah berangkat ke bandara. Ia menjalankan tugas dari rumah sakit.
Mulai hari ini, ia berusaha melepaskan rasa sayang kepada Dewi untuk selamanya. Atta harus pergi agar sayang dan cinta Atta kepada Dewi tidak terus tumbuh kembang di hatinya.
"Kamu hati -hati di sana, sayang," ucap mama pelan.
"Siap Ma," jawab Atta tegas.
"Bawa calon mantu jangan di tunda -tunda lagi," ucap Mama pelan.
__ADS_1
"Hemm ... Belum pengen," jawab Atta singkat.
"Belum pengen? Apa masih patah hati sama Dewi?" tanya Mama pelan
Deg ...
Ucapan Mama membuat Atta terkejut. Kenapa sang Mama bisa tahu soal ini.
"Gak Ma. Mana ada Atta suka sama Dewi? Atta gak kenal sebelumnya," ucap Atta pelan menutupi sesuatu.
"Mama sudah tahu semua. Makanya Mama dan Nenek Aini punya cara sendiri biar mereka berdua menyatu. Soal warisan itu juga, memang sudah di setting begitu agar keduanya tidak berpisah sampai punya anak," ucap Mama Atta sambil tertawa lepas.
"Mama tahu semuanya?" tanya Atta pelan.
"Tahu. Waktu itu Mama ikutin Rangga. Mama cuma mau tahu alasan dia gak mau di jodohin," ucap Mama pelan.
"Terus?" tanya Atta penasaran.
"Ya. Mama jadi tahu semuanya. Mama tahu rahasia Rangga. Mama minta dong, obat perangsang biar Rangga kalau bareng Dewi pengen gituan," ucap Mama pelan.
"Gak ada," jawab Atta singkat.
"Masa sih? Gak ada obat kuat dan bikin kepengen?" tanya Mama pelan dengan tatapan lekat ke arah Atta.
"Gak ada Ma. Udahlah gak usah macem -macem Ma. Punya anak itu bukan soal mudah. Harus ada kesiapan keduanya," ucap Atta memberitahu.
Mama menatap lekat ke arah Atta dan tertawa.
"Belum rela? Mendapati ternyata Dewi itu mantan kekasih Rangga dan kini ia benar -benar menjadi istri Rangga walaupun dengan cara yang salah?" ucap Mama Atta pelan.
"Sudah Ma. Atta mau pergi. Atta sudah tidaknmau membahas itu," jawab Atta pelan.
Kebetulan sekali bagian informasi juga sudah mengeluarkan informasi terbaru agar semua penumpang bersiap dan mempersiapkan diri menuju pesawat masing -masing.
Atta berpamitan pada Mama dan Papa. Meminta doa restu agar semuanya berjalan dengan lancar.
Atta langsung pergi menuju pesawatnya. Ia membuka ponselnya dan mengetikkan sebuah pesan singkat untuk Dewi.
"Masuk ke kamar aku. Ada surat dan hadiah untuk kamu dan Bening. Berikan untuk Bening saat ia sudah terbangun dari koma. Jaga diri kamu baik -baik dan jaga Bening." Pesan itu memang tidak terlalu singkat. Hanya sebuah pesan yang berisi nasihat saja. Tidak ada yang aneh dan privasi.
Skip ...
__ADS_1
Ponsel Dewi menyala tanpa berbunyi. Sejak tadi Dewi berpamitan untuk istirahat di kursi panjang dengan tas kecil sebagai bantalan kepalanya.
Rangga menutupi tubuh Dewi dengan jaket jeans yang di pakainya. Sikap Rangga mulai kembali seperti dulu lagi. Hangat, perhatian dan penyayang.
Tak pernah sedikit pun ada kata kasar dan keras membentak.
Rangga menatap ke arah ponsel itu dan membukanya. Ia lihat nama dokter Atta, begitu nomor itu tersimpan di dalam kontak Dewi.
Rangga membuka ponsel Dewi yang tidak terkunci dan membaca pesan singkat itu.
Ada rasa cemburu membaca tukisan yang begitu rapi dengan tata bahasa yang behitu lembut.
Rangga cukup mengingat pesan itu dan menghapus semua pesan Atta. Tak hanya itu saja. Rangga juga menghapus semua kontak Atta dan memblokirnya. Rangga tidak ingin ada siapa pun di antara hubungannya antara Rangga dan Dewi. Sekali pun itu Atta.
Dengan cepat Rangga menutup ponsel Dewi sebelum Dewi terbangun.
Benar saja tak sampai dua menit. Kedua mata Dewi membuka lebar dan menatap ke arah Rangga.
"Kamu kenapa? Kelihatan panik?" tanya Dewi pelan menatap Rangga yang sedikit gelisah.
"Aku panik? Gak kok. Cuma ini perut agak mules," ucap Rangga berbohong. Ia takut, apa yang ia lakukan barusan ketahuan oleh Dewi.
"Ke akmar mandi lah. Jangan di tahan malah jadi penyakit," ucap Dewi pelan.
Dewi bangun dan duduk lalu menatap ke arah ruang ICU. Ada seorang yang setiap satu jam memang mengontrol kondisi pasien.
Dewi berdiri dan menatap ke arah dalam. Kedua matanya fokus terhadap semua apa yang di lakukan suster itu. Tak lama, suster itu keluar dengan tergesa -gesa menuju ruang perawat.
"Ada apa Wi?" tanya Rangga pelan. Ia melihat Dewi langsung gelisah menatap suster tadi.
"Kayak ada swsuatu yang terjadi sama Bening," ucap Dewi gugup.
Rangga langsung berdiri dan benar saja. Napas Bening terlihat tersengal -sengal.
Beberapa perawat dan dokter langsung masuk ke dalam ruang ICU dan memeriksa Bening.
Dada Bening langsung di setrum beberapa kali.
"Ngga ... Bening ... kenapa dia?" ucap Dewi lirih. Ia tak sanggup melihat Bneing yang berkali -kali di setrum untuk mengembalikan detak jantungnya yang sempat lemah dan hilang.
Rangga langsung memeluk Dewi dan mengecup pelan pucuk kepala Dewi. Rangga tak tega melihat Dewi yang sedih dan menitikkan air mata.
__ADS_1
"Ada aku, Wi. Kamu harua tenang. Jangan begini. Bening pasti sembuh," ucap Rangga menasehati.