
Setelah selesai makan siang mereka meninggalkan Saung Abah. Cukup lama beristirahat di Saung Abah tadi, ada mungkin sekitar dua jam.
Perjalanan menuju villa sudah tidak lama lagi paling sekitar dua jam saja dari tempat makan siang tadi.
"Mau belanja dulu gak? Mimpung masih ada banyak minu market. Takutnya di villa nanti malah susah cari cemilan," ucap Rangga pelan.
Laju mobilnya juga ikut di pelankan agar ia tidak perlu mendadak mengerem mobilnya dan berhenti tidak tepat pada tempat yang di inginkan.
"Masak sendiri memang? Gak ada restaurant gitu?" tanya Dewi.
"Iya. Ini villa kosong, jadi kita persiapkan semua sendiri," jawab Rangga sambil memilih mini market yang agak besar agar pilihan barang -barangnya juga lengkap.
"Ya udah. Kita mau berapa hari di sana? Harus beli air galon dong buat minum dan masak," tanya Dewi kemudian.
"Iya Dewi sayang. Kita seminggu di sana. Mau di habiskan waktu liburannya untuk kita," ucap Rangga tertawa.
"Udah ah. Mulai gak bener nanti obrolannya. Mulai ngelantur. Inget kita ini menikah pura -pura," tegas Dewi mengingatkan.
Rangga hanya bisa mengangguk pasrah dan tersenyum kecut. Masih saja bilang ini hanya suatu permainan saja.
Mobil Rangga sudah parkir di depan mini market. Dewi dan Rangga mulai memilih makanan dan minuman yang mereka sukai dan yang akan mereka masak nantinya.
"Mau masak apa, Ngga? Bikin nasi juga gitu? Harus beli beras juga kah?" tanya Dewi kepada Rangga.
Tangan Dewi mulai memilih sosis di lemari pendingin atau di sebut freezer itu.
Tak hanya sosis saja, kentang juga serta nugget dan bakso.
Tak lupa memilih bumbu sebagai teman cemilan seperti saos, sambal, kecap, keju, mayonise dan cabe bubuk kering yang biasa di sebut aida.
"Cemilan kayak gini aja. Gak usah nasi lah, tapi kalau mau beli yang sekilo aja buat stok aja. Mie jangan lupa, minyak dan ...."
"Kerupuk," sahut Dewi cepat. Ia tahu makanan favorit Rangga. Rangga itu paling tidak bisa makan tanpa kerupuk atau jenis keripik apapun bentuknya.
"Istri cerdas. Tahu aja kesukaan suaminya," cicit Rangga senang.
"Suami bohongan," tawa Dewi menggelegar sambil mendorong kereta belanjanya yang mulai penuh dengan segala macam makanan dan minuman.
Apa yang mereka suka ya, mereka ambil.
Rangga hanya berdecak kesal.
"Selalu jawab begitu. Memang gak ada harapan untuk menjadi suami betulan? Apa hati kamu masih belum bisa terbuka untuk mengembalikan hubungan kita seperti dulu?" tanya Rangga.
Dewi hanya menyimak dan tak peduli. Obrolan itu baginya hanya sebuah pengharapan saja. Nanti jika di ebri kesempatan dan Dewi terjebak pada cinta Rangga ternyata lelaki itu gantian mempermainkannya dengan alasan balas dendam.
Lebih baik pilihannya tidak menggubris dan sama sekali tak perlu di jawab. Mau Rangga kesal sendiri. Mau Rangga marah lada Dewi. Itu resiko, dari pada makan hati mending makan ayam bakar.
__ADS_1
Dewi langsung menuju kasir dan mengeluarkan semua barang -barang yang ia ambil untuk di letakkan di meja dan di hitung oleh kasir.
Wajahnya terkesan datar dan tak peduli sampai kasir itu selesai menghitung dan menyebutkan jumlah angka yang harus di bayar.
Rangga mengeluarkan kartu debit berwarna hitam kepada kasir.
"Silahkan nomor pinnya," ucap Kasir itu menyodorkan kembi alat gesek pembayaran itu kepada Dewi dan Rangga.
"Pin Ngga," titah Dewi kepada Rangga yang sengaja menjauh.
"Ngga pinnya," teriak Dewi kemudian.
"180222," ucap Rangga santai sambil melihat -lihat sandal jepit couple yang lucu.
Tanpa banyak tanya lagi, Dewi memijit angka yang di sebutkan Rey tersebut sebagai nomor pin kartu debit tersebut.
Saat tulisan itu tertulis succes ... Dewi baru sadar akan makna nomor pin tadi.
Rangga mendekati Dewi sambil membawa satu paket sandal couple.
"Tambah ini," ucap Rangga meletakkan sandal tersebut di meja kasir.
"Apa ini?" tanya Dewi sambil memegang sandal lucu itu.
"Bakpau," jawab Rangga terkekeh. Lalu merangkul Dewi dari arah samping.
Dewi tak keberatan dengan sikap Rangga yang sering bermanja -manja pada Dewi.
"Ini pakai kartu juga atau mau cash saja?" tanya kasir itu sambil mengulum senyum melihat pasangan lucu di depannya.
"Pakai kartu saja, Mbak," jawab Rangga.
"Baik Pak,"
"Kenapa Mbak? Kok senyum -senyum? Saya ganteng ya?" goda Rangga pada kasir itu.
Kasir itu melirik ke arah Rangga dan menggangguk kecil sambil tersenyum.
"Ganteng Pak. Silahkan no pinnya,"
Dewi langsung memijit kembali dengan cepat dan menerima kartu deit hitam itu setelah struk keluar dari alat lnayaran tersebut.
"Ganteng dong. Makannya istri saya cantik," ucap Rangga menjelaskan dan mencium pipi Dewi spontan.
Dewi langsung mencubit pinggang Rangga dengan keras hingga Rangga berteruak kesakitan.
"Aww ... Sakit sayang. Kalau minta cium bagian lain tinggal bilang gak perlu nyubit begini kan sakit," cicit Rangga lirih smabil mengusap pinggangnya yang terasa panas dan sakit sekali.
__ADS_1
Dewi langsung melotot dan mengambil beberapa kantong plastik di meja kasir sambil berbisik kepada Rangga.
"Gak usah macem -macem!! Jangan cari peluang untuk jiwa mesum kamu!!"
"Siapa yang mesum," jawab Rangga mukai kesal dengan tuduhan Dewi.
Dewi sudah lebih dulu berjalan menuju mobil debgan membawa tinggal kantong plastik belanja besar. Begitu juga dengan Rangga yang membawa sisa empat kantong belanja.
"Gak usah genit sama karyawan mini market," ucap Dewi kesal.
Rangga yang sedang memasukkan barang -barang ke bagasi mobil langsung melirik ke arah Dewi yang terlihat sewot.
"Memang salah? Kan cuma bercanda," bela Rangga pada dirinya sendiri. Ia tak maubdi salahkan.
"Salah dong. Terus kalau gadis itu berharap sama kamu, gimana?" tanya Dewi makin sewot.
"Kamu kenapa sih Wi? Kamu cemburu?" tanya Rangga memastikan. Ciri -cirinya sudah jelas, Dewi cemburu. Tapi kalau Dewi tak jujur untuk mengakuinya ya tidak masalah. Karena buktinya sudah jelas.
"Aku? Cemburu sama kamu, Ngga?" tanya Dewi ketus.
"Gak sama sekali!" imbuh Dewi dengan tatapan geram sendiri.
Dewi langsung masuk ke dalam mobil terlebih dahulu meninggalkan Rangga.
Dalam hati Rangga tertawa. Ia senang melihat Dewi yang bersikap seperti ini.
Rangga sudah masuk ke dalam mobil dan bersiap melajukan mobilnya menuju villa.
"Ini kartu debit kamu," ucap Dewi memberika kartu itu tanpa melirik ke arah Rangga.
"Bawalah. Itu buat kamu. Nafkah dari aku, suami kamu. Toh kamu sudah tahu nomor pinnya kan. Dari pada nanti di ambil diam -diam buat belanja mending sudah bawa saja," titah Rangga tegas.
"Hah? Apa? Mau ambil kartu kamu diam -diam. Ini bawa saja, Dewi gak butuh," tegas Dewi makin kesal di tuduh mengambil diam -diam nantinya.
"Bawa. Kamu kan sudah tahu nomor pinnya," ucap Rangga tetap bersikeras.
"Tinggal ganti tanggal jadian sama Acha," sindir Dewi dengan gemas.
"Memang nomor pin aku, angka apa?" tanya Rangga menyudutkan Dewi.
"Tanggal jadian kita," jawab Dewi spontan.
"Wah tepat sekali. Terus kita mau rayakan anniversary ke berapa besok," tanya Rangga kepada Dewi.
Deg ...
Anniversary ... Rangga sengaja mengajak ke Villa untuk.sebuah acara?
__ADS_1