
Dewi dan Rangga saling bertatap. Rangga yang nampak biasa saja justru di dalam hatinyaa begitu senang dengan lwtidak sengajaan barusan. Kalau bisa semua terulang lagi dan lagi. Dewi yang terkejut dengan keadaan ini. Saat Dewi tersadar.
Dewi langsung melepaskan pegangannya pada Rangga. Ia langsung masuk begitu saja ke dalam villa untuk menghilangkan rasa gugupnya.
Rasa di dalam dada Dewi berkecamuk. Ada rasa malu, canggung, gugup, senang dan arghhh ... tak bisa lagi di ungkapkan dengan kata -kata.
Ini pertama kalinya lagi mereka bermesraan seperti itu lagi setelah tadi kejadian cium pipi yang tanpa sengaja karena kegirangan.
Dewi langsung masuk ke dapur merapikan semua belanjaan ke dalam lemari pendingin dan sebagian di rapikan di rak makanan.
Karena memang tadi tak membeli makanan cepat saji dan makanan matang, Dewi langsung berinisiatif menggoreng cemilan seperti kentang goreng, nugget, dan sosis.
Hari mulai menggelap, Dewi masih sibuk di dapur dan belum sempat membersihkan diri.
Rangga sudah menutup pintu kamar villa dan menyalakan lampu di beberapa ruangan.
__ADS_1
Villa itu mungil sekali, mirip seperti rumah kontrakan tiga petak dengan kamar utama yang luas dan ada balkonnya untuk menatap indahnya pemandangan.
"Wi ... aku mandi dulu ya," ucap Rangga pelan.
"Iya Ngga," ucap Dewi pelan.
Rangga kembali ke kamar dan merapikan semua pakaian ke lemari dan meletakkan koper kosong di atas lemari. Beberapa alat make up milik Dewi di rapikan di meja rias.
Semua sudah rapi dan lebih enak di pandang kalau sudah di letakkan di temlat yang seharusnya.
"Kamu gak mau mandi dulu? Aku udah siapkan air hangatnya di bathup," ucap Rangga yang sudah selesai mandi.
Dewi menoleh ke arah Rangga yang terlihat sangat tamoan sekali. Tubuhnya bersih dan wangi. Rambutnya masih basah dan sudah rapi tersisir. Lihat, alisnya hang tebal membuat wajahnya semakin terlihat macho. Arghh ... memang semlurna sekali Rangga. Sejak dulu dan sekarang masih tetap tamlan dan mempesona dan membuat aku selalu jatuh hati dan jatuh cinta.
Dewi tanpa sadar tersenyum ke arah Rangga. Senyum penuh damba dan rasa tertarik.
__ADS_1
"Wi ... Kamu kenapa? Semyum -senyum sendiri?" tanya Rangga binggung.
"Arghh ... gak senyum kok. Kamu salah lihat," ucap Dewi mengelak.
Dewi langsung masuk ke dalam kamar dan mengambil handuk kering lalu masuk ke dalam kamar mandi.
Saat Dewi menutup pintu kamar mandi, Dewi bersandar di belakang pintu itu dan memegang dadanya yang terus bergemuruh dan berdetak keras jantungnya. Degup jantungnya sabgat cepat sekali membuat nalasnya agak tersengal.
"Argh ... Rangga, ternyata sampai saat ini aku tidak bisa melupakan kamu. Rasa itu masih tersimpan rapi di hati aku. Kenapa ini harus terjadi lagi," lirih Dewi berucap.
Ia mulai mennggantungkan handuk dan melepas pakaian kotornya di keranjang khusus untuk menyimpan pakaian kotor.
Rangga berjalan ke ujung balkon. Pemandangan itu indah.
"Ini waktu yang tepat bagiku untuk mengungkapkan rasa cintaku ladamu, Wi. Rasa yang aku pendam karena rasa penasaranku. Mungkin aku salah aki pernah dendam tapi setelah aku tahu kebenarannya rasa benci itu hilang dan yang ada adalah rasa benar -benar cinta dan selalu cinta kepada kamu."
__ADS_1