
Malam ini berakhir pada kesalah pahaman. Rangga memilih mengantarkan pulang Puspa ke kost -nya. Rasanya ingin segera menanyai Rico soal Puspa dan dirinya.
"Kamu yakin gak ada hubungan apapun dengan Mas Rico?" tanya Rangga pelan.
"Gak ada. Mas Rico itu kan dokter Atta di rumah sakit," ucap Puspa pelan.
"Gak mungkin. Tatapan kalian itu kayak sudah biasa dan begitu dalam. Aku rasa, Mas Rico menyuaki kamu, Puspa," ucap Rangga pelan.
"Hah? Gak lah. Kita hanya sebatas dokter dan pasien gak ada yang lain," ucap Puspa perlahan muali terbuka.
Mobil Rangga sudah berada di depan kost Puspa.
"Maaf atas hari ini. Besok gimana?" tanya Puspa pelan.
"Lihat besok saja," jawab Rangga pelan. Tatapannya sama sekali gak lepas dari tempat setirnya. Sedikit pun tak menoleh ke arah Puspa.
"Oke. Selama malam," ucap Puspa pelan dan turun dari mobil Rangga. Ia berjalan masuk ke daam rumah kostnya. Semua itu begitu di perhatikan oleh Rangga hingga punggung Puspa benar -benar menghilang saat menaiki tangga.
'Maafin aku, Puspa,' batin Rangga pelan dalam hatinya.
Rangga menekan gas dan menjalankan kembali mobilnya dengan pelan.
Puspa masuk ke dalam kamar kostnya. Terduduk di tepi ranjang dan melepaskan alas kakinya serta meletakkan tas selempangnya dengan asal.
__ADS_1
Suasana tadi sebelum akhirnya pulang sedikit memanas. Rangga terlihat marah besar kepada Rico.
"Sudah malam. Waktunya aku pergi ke rumah sakit untuk menemani Bening," ucap Puspa pelan.
Puspa hanya mencuci mukanya dan menggosok gigi dan mengganti pakaiannya, lalu memakai tas slempang lagi.
Tidak lupa ia mampir ke supermarket untuk membeli beberapa cemilan kesukaan Bening seblum ke rumah sakit.
Tak sampai setengah jam, dengan jasa ojek online, Puspa sudah sampai di kamar rawat inap khusus di mana Bening berada.
Bening sudah duduk bersandar pada tumpukan bantal sambil membaca novel kesukaannya. Puspa masuk ke dalam kamar itu dengan mengucap salam lalu tersenyum ke arah Bening. Rambut Puspa sedikit basah, begitu juga dnegan bajunya yang terlihat basah.
"Hujan Mbak?" tanay Bening dengan senyum melebar.
"Sedikit," jawab Puspa pelan.
Ia juga meletakkan belanjaan untuk kebutuhan di ruang rawat inap itu dan merapikan di nakas samping ranjang rawat inap Bening.
"Pesanan Bening ada?" tanya Bening pelan.
"Ada dong. Ini kan? Sosis bakar dengan saos mayo," ucap Puspa pelan sambil memberikan sebungkus kotak mika yang berisi sekitar lima sosis jumbo untuk Bening adiknya.
"Makasih ya, Mbak," ucap Bening lirih sambil menerima kotak mika itu. Perlahan ia buka dan mulai mengambil satu tusuk sosis jumbo yang masih hangat dan wangi seklai.
__ADS_1
"Makasih untuk apa?" tanya Puspa pelan dn duudk di tepi ranjang menghadap ke arah Bening.
"Beliin ini," ucap Bneing dengan senyum lebar. Wajahnya masih terlihat sedikit pucat.
"Bening ... Mbak itu akan tetap berusaha melakukan apapun demi kesembuhan kamu. Kalau kamu ingin sesuatu, bilang sama Mbak, dan akan Mbak kabulkan," ucap Puspa pelan sambil mengusap pelan kepala Bening dengan penuh kasih sayang.
Puspa menemani bening makan sosis jumbo bakar itu. Memang terlihat sangat enak dan Bening begitu menikmati sekali.
'Enak? Besok mau apalagi?" tanya Puspa pelan.
"Seblak makaroni seafood, boleh kan? Gak pedes kok," cicit Bening manja.
Masa hidupnya hanya di habiskan di rumah sakit saja. Bening ahnaya bisa menonton televisi, beramin ponsel dan membaca komik serta novel kesukaannya.
"Nanti kita tanya dulu sama dokter Atta, boleh apa gak?" ucap Puspa pelan.
ceklek ...
"Ada apa? Panggil -panggil nama saya, jai datang kesini kan," ucap dokter Atta tertawa.
"Dokter Atta ... Sini, sesuai janji Bening, satu tusuk sosis jumbo bakar untuk dokter kesayangan," ucap Bening pelan.
Bening memang jujur mengagumi sosok dokter Atta. Ia suka dengan keramahan, kebaikan, ketulusan dan perhatian dokter Atta pada dirinya. Niat Bening memang ingin menjodohkan Puspa, Kakaknya dnegan dokter Atta yang sepertinya juga mengagumi Puspa.
__ADS_1
"Wahh ... Tahu aja. Saya lapar, Bening. Terima kasih," ucap dokter Atta pelan dan mengambil satu tusuk sosis pemberian Bening sambil melirik ke arah Puspa.
Tubuh Puspa seperti kedinginan dan mulai menggigil.