RENTAL ISTRI

RENTAL ISTRI
TAK BISA MELUPAKAN


__ADS_3

Malam ini Dewi masih saja berada di rumah sakit. Bening masih dalam keadaan koma dan Dewi tidak tega meninggalkannya.


Pukul tujuh malam tadi, dokter Atta kembali menemui Dewi. Kali ini sikapnya jauh lebih dingin san sedikit cuek. Tidak seperti biasanya yang selalu hangat dan perhatian. Tatapannya juga sedikit terlihat masam dan masa bodoh.


"Kamu masih di sini?" tanya dokter Atta pelan dan menatap ke arah kaca besar itu.


Rasanya memang tidak tega meninggalkan gadis yang sudah satu tahun terakhir ini ia temani dalam kesembuhannya. Bening banyak berharap kepada dokter Atta. Gadis itu ingin sembuh. Namun malam ini adalah malam terakhir dokter Atta bekerja di rumah sakit ini. Ia harus bekerja di negara orang sekaligus menimba ilmu dan pengalaman baru.


Dewi yang sedang termenung dan melamun menatap kedua kakinya yang terasa bengkak karena terlalu banyak duduk hingga aliran darahnya semua berkumpul di kaki bagian betis. Pegel dan keram rasanya. Suara dokter Atta yang pelan sedikit membuat Dewi terkejut.


Wajah Dewi menoleh ke arah asal suara yang tak jauh dari tempatnya duduk.


"Pak dokter. Ya, aku harus menemani Bening. Aku tidak mungkin meninggalkannya sendiri. Aku tidak mau kehilangan moment yang nantinya akan membuat aku menyesal seumur hidup aku. Aku yakin Bening pasti akan sembuh," jawab Dewi dengan penuh keyakinan.


Dokter Atta berjalan lebih mendekat pada kaca besar tembus pandang yang ada di depannya. Kedua tangannya di masukka ke dalam jas dokter yang masih melekat pada tubuhnya. Sejak siang, dokter Atta sudah tak lagi memegang pasien khusus termasuk Bening. Semua tugasnya sudah di serah tetimakan pada dokter penggantinya yang bernama dokter Puji.


Tadi siang dokter Puji juga sudah melakukan visit mendatangi satu per satu pasien yang harus di tangani oleh dirinya karena peralihan tugas dari dokter Atta. Dokter Puji mulai menyelami penyakit pasiennya dan melihat riwayat penyakit pasien dari awal hingga akhir termasuk Bening.


"Jaga Bening baik -baik. Aku pamit pulang ya. Aku pamit pergi juga, mungkin aku harus pergi pagi pagi sekali. Aku takutnya tak bisa berpamitan kepada kamu. Kamu juga jaga kesehatan. Baik -baik dengan Rangga," pamit dokter Atta kepada Dewi.


"Iya," jawab Dewi singkat. Rasanya ada yang berat tapi bukan beban beratnya seperti batu besar yang sengaja di jatuhkan tepat di dadanya.


Dewi pasti akan merasa kehilangan dokter Atta. Sudah satu tahun ini ia menemani Bening dan Dewi. Tak hanya itu mereka benar benar dekat dan saling bercanda satu sama lain tanpa ada jarak. Tapi ... semenjak Dewi menikah dengan Rangga dan rahasianya terkuak tentang pernikahan kontraknya karena sebuah pekerjaan. Dokter Atta memang seperti sengaja menjauhi Dewi.

__ADS_1


"Aku pergi. Kamu gak pulang. Kalau Mama dan Papa tanya gimana?" tanya dokter Atta pada Dewi.


"Biar nanti aku yang bilang pada mereka," jawab Dewi se -kenanya.


"Oke. Aku pulang ya," jawab dokter Atta pelan.


Dokter Atta membalikkan tubuhnya dan berjalan santai di koridor sepi itu. Dewi hanya bisa menatap dokter Atta yang memang sudah berbeda kepada dirinya.


Dewi masih menatap dokter Atta sampai punggung lelaki baik itu menghilang dari pion tangguh yang menyangga rumah sakit.


Atta sendiri menarik napas dalam. Sekilas tadi saat membalikkan tubuhnya ia melirik ke arah Dewi yang jelas sedang menatap dirinya.


Atta tak kuasa menahan rasa kecewanya hingga ia harus mengalah dan pergi dari kehidupan Dewi dan Bening.


Rasanya seperti di tusuk jarum kecil yang cukup banyak. Nyeri sekali.


"Dokter Atta," panggil dokter Puji pelan.


Atta membalikkan tubuhnya dan menatap dokter Puji yang berdiri di belakangnya.


"Ya? Ada yang masih mau di tanyakan lagi? Sebelum saya pulang dan pergi besok?" tanya Atta pelan menatap Puji dengan tatapan aneh.


Dokter Puji adalah adik didiknya dulu semasa kuliah. Ia betada dua tahun lebih muda dari dokter Atta. Kebetulan dokter Puji memang mencari kabar tentang Atta dan ia memperoleh data dokter Atta dari rekannya. Niatnya ingin bekerja bersama dalam rumah sakit tapi malah ia menjadi penggantu dokter Atta yang harus bertugas di negeri orang.

__ADS_1


"Ekhemm ini tidak ada kaitannya dengan pekerjaan. Tapi ... ini sebagai penyemangat kerja dokter di sana selama musin dingin," ucap Puji pelan.


Puji memberikan satu kotak kecil yang di dalamnya berisi syal rajut buatan tangannya sendiri. Ia membuatnya sejak kuliah dulu. Saat acara wisuda dokter Atta, ia terlambat datang dan tak berhasil menemui dokter Atta dan akhurnya ia simlan bertahun tahun. Lalu sekarang syal rajut itu benar benar bisa ia berikan kepada orang yang telah lama ia kagumi.


"Ini untukku?" tanya dokter Atta pelan sambil menerima kotak itu dengan senyim lebar.


Jujur, ia tak oernah merasakan di beri sesuatu oleh perempuan. Dan baru kali ini, ia menerima hadiah dari seorang wanita. Rasanya ternyata biasa saja. Tidak ada yang bergetar dan berdesir seperti kata orang. Malahan kalau dokter Atta membelikan makanan atau minuman untuk Dewi dan Dewi menerimanya dengan senyuman maka dirinya merasakan getaran yang aneh di sekujur tubuhnya. Apa karena ia memang mencintai Dewi? Dan ia sama sekali tak ada perasaan pada Puji? Makanya semua nampak biasa saja.


"Terima kasih atas kadonya. Akan saya simpan dengan baik," ucap Atta pelan dan tersenyum.


"Di pakai dok. Jangan hanya di simpan," pinta dokter Puji sambil memberikan senyum terbaiknya.


Dokter Atta mengangguk cepat.


"Iya akan saya simpan di koper saya. Saya bawa ke amerika dan nanti saya pakai," ucap Atta pelan.


Dokter Puji hanya mengangguk kecil. Kadonya di terima saja sudah senang rasanya. Apalagi ia bisa melihat Atta memakainya tentu akan semakin membuatnya senang dan bahagia luar biasa.


Atta segera pergi dari hadapan Puji dan membali pulang ke rumahnya untuk membereskan semua barang barangnya. Tadi Atta sudah mengabari Mama Rania dan meminta tolong Mama Rania untuk membantunya merapikan semua pakaiannya ke dalam koper.


Dalam perjalanan pulang. Pikirannya terus tertuju pada Dewi yang sendirian di sana. Tentu ia akan merasa kesepian dan kedinginan berada di luar seperti itu.


"Argghh aku ini kenapa?! Kenapa aku harus memperdulikan dia. Dia sudah SAH menjadi istri adikku," teriak Atta sambil memukul setir mobilnya dengan sangat keras.

__ADS_1


Pikirannya terus di penuhi Dewi dan Bening.


"Tolong aku, Tuhan. Aku ingin melupakan dia dari pikiran dan hatiku. Jangan sampai diriku ini di butakan oleh cinta terlarang," teriak Atta sambil menarik nalas dalam dan menghembuskan nalas itu dengan kasar.


__ADS_2