RENTAL ISTRI

RENTAL ISTRI
AKU TETAP LANJUTKAN


__ADS_3

Pagi ini, Dewi sudah bersiap -siap di kostnya. Satu tas berukuran sedang sudah ia siapkan.


"Sudah siap?" tanya Rangga pelan yang masuk ke dalam kamar Dewi.


"Masuk itu ketuk dulu, untung gak lagi telanjang," ucap Dewi kesal.


"Kalau telanjang juga gak apa-apa. Kita kan mau nikah?" ucap Rangga asal.


"Gak ada dalam perjanjian kontrak yang berisi boleh melihat pasangannya bugil karean mandi atau ganti baju," ucap Dewi tegas.


Dewi mengambil tas selempang dan memasukkan dompet serta ponselnya ke dalam. Ia menyapu pandangannya untuk melihat barang apa lagi yang tertinggal.


"Yuk. Ini cuma tas ini aja? Tas make up gak ada?" goda Rangga tertawa keras.


Dewi hanya memutar kedua bola matanya dengan malas.


Dewi sudah duduk di bagian depan sesuai dengan pintu yang di bukakan oleh Rangga. Sikap Rangga yang manis dan terlihat masih mencintai Dewi pun tak lantas membuat Dewi luluh kembali.

__ADS_1


Ini sebuah pekerjaan, dan Dewi di tuntut untuk tetap profesional dalam menjalankan perannya sebagai istri rental.


"Jemput Mama dulu di toko kue. Tadi belanja kue untuk Nenek," ucap Rangga santai.


Dewi hanya mengangguk pelan tanpa menatap Rangga yang saat ini terlihat tampan dan keren. Rangga memang lebih terlihat macho dan pintar memadu padankan pakaiannya. Rangga terlihat lebih berjiwa muda di bandingkan dengan Rico atau Atta, kakaknya.


"Siapa saja yang ikut?" tanya Dewi pelan.


"Mama, Papa dan kita berdua saja. Mas Atta ada pekerjaan yang tak bisa di tinggalkan. Ia harus menemani pasien khususnya namanya Bening. Aku jadi penasara sama Bening? Dia itu masih kecil atau sudah dewasa? Jangan -jangan, Mas Atta suka lagi sama pasiennya sendiri," ucap Rangga asal.


Uhuk ... Dewi terbatuk mendengar ucapan Rangga. Pikiran Dewi mulai kacau dan tertuju pada Bening. Hari ini adalah jadwal cuci darah Bening di siang hari nanti. Biasanya, Dewi akan sellau ada untuk menemani Bening, dan menguatkan gadis itu yang manja.


"Kamu kenapa?" tanya Rangga pelan melirik ke arah Dewi yang hanya diam.


"Gak apa -apa," jawab Dewi pelan.


"Setelah dari rumah Nenek. AKu ke rumahmu," ucap Rangga tegas.

__ADS_1


"Aku sudah tidak punya orang tu," jawab Dewi lantang.


DEwi menatap ke arah luar jendela mobilnya menahan rasa tangisnya yang sejak tadi sudah meronta -ronta ingin keluar.


Rangga langsung menepikan mobilnya dan mematikan mesin mobilnya.


"Orang tuamu sudah tidak ada?" tanya Rangga memastikan pendenagrannya tadi.


Dewi menoleh ke arah Rangga.


"Iya. Tidak ada. Kamu mau lanjut atau tidak?" tanya Dewi pasrah.


"Lanjut. Aku akan bilang Mama. Terus selama inikamu hanya di kos?" tanya Rangga penasaran.


"Iya. Hanya di kos saja," ucap Dewi singkat. Ia tidak ingin membuka jati diri dan bercerita tentang kepiluan kehidupannya.


Kalau hidupnya berkecukupan, Dewi tentu mencari pekerjaan lain dan bukan pekerjaan dengana resiko tinggi seperti ini.

__ADS_1


"Maafkan aku yang tidak tahu soal keluarga kamu. Aku tetap melanjutkan ini, dan tidak berhenti. Nenek menyukaimu," ucap Rangga pelan.


__ADS_2