RENTAL ISTRI

RENTAL ISTRI
TIDAK BOLEH PERGI


__ADS_3

Dengan cepat Rangga berbalik dan pergi dari hadapan Dewi. Dewi masih menatap Rangga denagn lekat.


Dulu semasa mereka masih menjalankan hubungan sebagai sepasang kekasih. Rangga tak seberani ini. Jangankan untuk mencium Dewi memegang tangannya saja, ia butuh waktu berpikir takut kalau Dewi menolak atau mengira ia bukan lelaki baik.


Saat itu Rangga memang sangat menjaga kehormatan Dewi. Rangga sangat sayang dan menyukai Dewi hingga ia tak berani macam macam seperti yang ia lakukan pada pacar pacarnya yang terdahulu.


Dewi berjalan menuju kamarnya. Hari ini ia akan menemani Bening cuci darah di pagi hari. Siangnya Dewi akan menemui Nenek Aini yang sejak kemarin sudah merencanakan akan bertemu.


Ceklek ...


Lagi -lagi timing selalu tak tepat. Dewi harus melihat tubuh Rangga yang polos hanya memakai pakaian dalam saja. Ia sedang memiliih kemeja kerjanya yang akan di pakai pagi ini.


Mulai hari ini, Rangga telah resmi di angkat sebagai CEO. Ia mau merubah imagenya sebagai CEO baru setelah sebelumnya ia hanya karyawan biasa di perusahaan raksasa milik keluarganya itu.


"Arghhh ... Bisa gak sih pakai sarung atau apa?" ucap Dewi kesal yang masuk ke dalam lalu mengunci pintu kamar itu. Takutnya akan terjadi hal sama lagi. Ada yang masuk tanpa mengetuk pintu dan melihat hal yang indah.


Rangga cuek dan hanya menjawab singkat


"Salah siapa? Siapa yang suruh main masuk masuk saja? Ketuk pintu dulu. Sudah tahu kamar orang," ucap Rangga santai.


"Dih ... Nyalahin orang," jawab Dewi kesal.


Rangga tak peduli. Ia memilih


satu kemeja yang menurutnya paling bagus saat ini di mata Rangga.


Kemeja salur dengan warna biru tua variasi list merah maroon dan sedikit gold.

__ADS_1


Dewi sendiri langsung bersiap memasukkan dompet dan beberapa perlengkapannya sebagai perempuan seperti tissue, lipstik, bedak, parfum dan sisir.


Dewi membuka ponselnya dan mulai membaca satu per satu pesan singkat yang masuk ke dalam ponselnya. Ia tak sempat membuka ponselnya sejak malam karena sudah kelelahan. Ada beberapa telepon masuk yang juga tak terangkat oleh Dewi termasuk dari Biro Jasa tempat ia bekerja. Hampir dua puluh kali panggilan.


Dewi menelepon balik kantor biro jasanya itu tepat di depan Rangga.


"Gimana? Ada apa?" tanya Dewi cepat sambil menatap ke arah luar jendela. Cuaca hari ini begitu cerah dan terlihat berawan. Bakalan panas terik nanti siang.


Pihak biro jasa rental itu memberikan informasi ada pekerjaan baru yang harus ia lakukan di hari ini. Pekerjaan ini memang untuk Dewi karena kliennya hanya ingin bersama Dewi dan tidak mau orang lain.


"Mana bisa begitu? Aku sudah terima pekerjaan ini. Gak mungkin aku terima pekerjaan lain walaupun hanya sekedar makan malam. Aku gak mau. Aku harus profesional. Kalau mau tunggu tahun depan. Kalau gak mau ya sudah," ucap Dewi kesal.


Perjanjian bekerja di Biro Jasa itu jelas. Satu orang hanya bisa menerima satu pekerjaan saja sampai pekerjaan sebelumnya benar benar telah selesai misinya.


"Sudahlah aku gak bisa. Mau tawaran itu semahal apapun," ucqp Dewi kesal.


Seharusnya Biro Jasa itu paham dan mengerti arti kata profesional. Bukan hanya finansial saja yang di kejar tapi juga kualitas pekerjaan dan hasil pekerjaan yang memuaskan kliennya.


Dewi dan Rangga memang harus terbiasa dengan keadaan ini. Tiba tiba mereka harus berganti baju di depan. Kentut yang tak dapat di tahan. Sampai sakit yang harus di urus.


Dewi masih sibuk kembali dengan ponsel yang terus berdering. Sampai akhirnya Dewi benar benar mematikan ponselnya karena merasa terganggu.


"Kamu mau kemana pagi ini? Sudah rapi?" tanya Rangga pelan sambil memakai pomade di rambutnya agar terkihat lebih keren.


Dewi merapikan bajunya. Ia memakai rok jeans pendek dengan tank top berdada rendah lalu memakai cardigan tipis untuk menutupi lengannya.


"Ada acara sampai sore. Gak usah menunggu aku. Kalau mau makan malam boleh duluan saja. Aku kayaknya makan malam di luar," jawab Dewi pelan.

__ADS_1


"Kamu itu istriku, Dewi!! Gak usah macam macam!! Kamu mau Papah dan Mamah tahu yang sebenarnya dan mereka benci dengan kelakuan kamu!!" tegas Rangga kesal.


"Apa? Orang tuamu benci sama aku? Aku gak peduli!! Ini bukan keinginan ku!! Kamu yang butuh aku dan mendatangi kantor Biro tempat aku bekerja," ucap Dewi tak mau kalah dan tak mau di salahkan.


Rangga diam. Bwnar kata Dewi. Ia yang butuh. Tapi sekarang ia benar benar cemburu jika Dewi pergi, apalagi dengan pakaian seksi begini.


"Ganti baju kamu!! Aku gak suka!!" titah Rangga tegas sambil memakai jas hitam dan dasi panjang yang tak pernah berhasil dan sama sekali tak presisi.


Dewi menatap Rangga yang sejak tadi hanya mengusel ngesel dasinya tak kunjung beres. Ia berjalan menghampiri Rangga dan langsung memakaikan dasi panjang itu dengan baik dan benar hingga bentuknya sempirna dan presisi.


Rangga menatap Dewi yang berada di depannya. Mereka sangat dekat sekali. Wajah mereka pun hanya berjarak beberapa sentimenter saja sampai deru napas keduanya terdengar halus sekali.


Rangga sedikit gugup. Wajah cantik Dewi benar benar bisa ia nikmati setiap hari dan setiap waktu karena kebersamaan itu.


Tangan Rangga spontan memegang pinggang Dewi dan membuat Dewi langsung menatap Rangga.


Rangga mendekatkan wajahnya pada Dewi seperti ingin menciumnya dan Dewi menutup kedua matanya. Ingin berontak tapi tak bisa. Hatinya menginginkan juga hal ini. Cintanya kepada Rangga terbyata masih sama sepeeti dulu. Tubuhnya selalu bergetar dan berdesir hebat saat Rangga mendekatinya.


"Ganti baju kamu, Dewi. Aku tidak suka, istriku di jadikan tontonan. Tentu itu akan membuat aku cemburu," ucap Rangga berbisik.


Ia mendekati Dewi hanya untuk berbisik bukan untuk melakukan hal aneh.


Suara itu membuat Dewi membuka kedua matanya. Dirinya sudah salah sangka kalau saja Rangga akan melakukan hal yang tak wajar menyalahi aturan kontraknya ternyata ia hanya ingin berbisik.


"Ekhemm ... Baiklah ... aku akan ganti baju," ucap Dewi pelan. Ia langsung sedikit mendorong tubuh Rangga dan berjalan menuju lemari pakaiannya dan memilih baju yang pantas dan tak membuat Rangga menyutuh menggantinya lagi.


"Bisa pilihkan baju untukku?" tanya Dewi pada Rangga.

__ADS_1


Rangga berjalan menghampiri Dewi dan menatap semua pakaian Dewi yang nampak mini dan kekurangan bahan itu.


"Baju kamu gak ada yang masuk kriteria ku. Hari ini kamu gak boleh pergi sebelum kamu buang dan kamu ganti semua baju baju kamu dengan baju yang lebih pantas," ucap Rangga ketus.


__ADS_2