
Selesai juga acara hari ini. Tubuh Rangga dan Dewi sudah lelah danlemas karena seharian harus berdiri di atas panggung pelaminan dan menyalami semua para tamu undangan yang datang silih berganti.
Dewi duduk di tepi ranjang kamar pengantinnya. Dei sudah melepas semua pakaian pengantinnya dan kini ia hanya memakai daster yang ada di keranjang seserahan. Dewi lupa membawa pakaian ganti.
Agak gugup juga, tinggal satu kamar dengan pria yang menikahinya dengan syarat dan ketentuan berlaku. Kmaar tidur itu memang sudah di matikan lampunya sehingga gelap. Lampu tidur pun tak dinyalakan oleh Dewi karena Dewi lebih senang dengan gelap. Hnaya ada cahaya pantulan dari lampu -lampu yang berhasil masuk ke dalam kmaar melalui celah -celah kaca jendela yang tak sempurna tertutup hordeng.
ceklek ...
Rangga masuk ke dalam kamar dan melepas jas hitamnya yang di lempar asal di atas sofa yag ada di dalam kamar. Ia lupa kalau statusnya mulai hari ini sudah berubah, dan ia lupa kalau saat ini ada sepasang mata yang sedang menatapnya.
Rangga masih tak menyadari kehadiran Dewi dan melepas kemeja putihnya yang juga hanya di lempar asal ke sofa yang sama. Begitu juga dengan celana panjang hitam berbahan kain. Saat Rangga menurunkan celananya dan terdengar suara Dewi berteriak dengan keras.
"Arghhh ...." teriak Dewi keras hingga suara lengkingannya menggema di seluruh penjuru sudut kamar yang tersembunyi.
Dewi langsung menutup kedua matanya dengan telapak tangan dan menyalakan lamputidur hingga Rangga membalikkan tubuhnya dan ikut berteriak keras.
"Kamu ngapain di sini?" teriak Rangga denagn suara keras yang kaget melihat wujud Dewi sedikit berbeda dari biasanya. Dewi terlihat lebih seksi berada di tempat tidurnya. Jiwa kelaki -lakiannya ikut meronta -ronta.
Rangga menaikkan kembali celana panjangnya dan mengancingkan rapat.
Dewi menurunkan tangannya dan berdiri.
"Kamu aneh deh? Ya, aku tidur dimana? kalau bukan di kamar ini?" teriak Dewi tak kalah keras.
__ADS_1
Ini baru hari pertma saja, sudah membuat emosi. Gimana perjalanan kontrak pernikahan mereka satu tahun ke depan? Berhasil atau tidak?
"Hufftt ... Oke, aku yang salah. Aku minta maaf. Sekarang kita kalau ganti baju harus di kamar mandi tidak boleh lupa. Kalau lupa, ya itu resiko sendiri," ucap Rangga pelan dengan wajah pasrah.
"Oke," jawab Dewi lantang.
Rangga langsung menuju lemari pakaiannya dan mengambil celama boxer serta kaos oblong tanpa lengan seperti biasanya.
Ia bergegas mengambil handuk dan masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.
Dewi menggigit bibir bawahnya. Hampir saja, ia melihat hal yang tak seharusnya ia lihat.
Dewi mengambil bantal, guling dan selimut. Ia sadar, ia adalah orang baru dan hanya menumpang. Lebih baik, Dewi yang tidur di sofa.
'Arghh ... Jangan sampai tergiur yang beginian. Ini hanya sementara dan hanya satu tahun lamanya. Aku pasti bisa melewati ini semua. Tapi, aku bakal setiap hai lihat yang beginian, roti sobek, lengan berotot, paha yang kekar dan punggung tegap macam bodyguard di film -film luar negeri. Uhh meleleh aku,' batin Dewi di dalam hatinya.
"Kenapa lihatnya begitu? Gak pernah lihat cowok ganteng?" tebak Rangga dnegan sinis. Rangga masih mengusap rambutnya yang basah degan handuk hingga airnya tak lagi menetes di kaos oblongnya. Memang keren, ciptaanmu ini.
Dewi yang memang nebikmati keindahan hingga melamun itu pun terkejut dan membenarkan letak bantalnya lalu merebakan tubuhnyadi sofa lalu di tutup dnegan selimut hingga menutupi dadanya.
"Nyesel ya? Dulu mutusin aku? Ternyata aku lebih keren dari tua bangka itu," ucap Rangga dengan sombong.
Dewi memutar kedua bola matanya dengan malas. Sikap Rangga makin kesini makin sombong dan terlalu banyak gaya.
__ADS_1
Dewi memilih diam dan memejamkan kedua matanya. Pikirannya malah kini tertuju pada Bening.
Rangga melirik ke arah Dewi dan tersenyum puas membuat mantan kekasihnya itu kesal.
"Besok pagi ikut aku ke kantor. Bareng Papah," titah Rangga tegas.
Dewi membuka matanya. Besok jadwal Bening hemodialisa pagi hari. Ia berjanji akn datang dan menemani Bening. Tapi ... Pekerjaan inii juga sama pentingnya. Aku harus bagaimana?
"Ada Nenek Aini juga/" tanya Dewi sedikit rau.
"Ada dong. Beliau yang menyuruh kita datang untuk serah terima perusahaan keluarga agar aku yang mengelola karen Mas Atta lebih memilih profesinya," ucap Rangga pelan.
"Dewi menghembuskan napasnya kasar. tak ada pilihan lain selain ikut ke kantor. Saat ini status mereka sudah berubah suami istri. Apa kata orang, jika ia lebih memilih kehidupannnya sendiri yang tidak jelas jluntrungannya.
Ada baiknya Dewi akan meminta tolong dokter Atta menemani Bening adiknya.
"Kamu kenapa? Ada yang kamu pikirkan? Atau besok pagi kamu sudah ada acara dengan lelaki lain?" tanya Rangga muli terbakasr cemburu. Selama ini, Dewi agak sulit di ajak pergi bersama. Tapi, kontrak pernikahan ini jelas, aktu Dewi dua puluh empat jam untuk Rangga sesuai dengan aturan yang berlaku, keculi memag ada hal lain yang sekiranya penting, itu juga harus seijin Rangga.
"Gak kok. Gak ada. Kalau aku sudah ambil satu pekerjaan, tentu aku fokus. Kalau kemarin, aku masih puny kehidupan sendiri, tapi mulai sekarang hidup aku di sini untuk setahu ke depan. Tapi ... kau boleh aku meminta sesuatu," ucap Dewi ragu sambil menatap sendu ke arah Rangga.
"Apa? Katakan saja. Kita bisa bicarakan semuanya dengan baik," ucap Rangga pelan.
"Aku ingin kita pindah dari sini atau setiap malam, ijinkan aku tidur di kost saja," ucap Dewi pelan sambil menunduk
__ADS_1
ia tahu, permintaannya tidak akan mungkin di kabulkan oleh Rangga.