RENTAL ISTRI

RENTAL ISTRI
TEKA TEKI KELUARGA HANDOKO


__ADS_3

Suasana di kantor susah mulai ramai. Acara perpinsahan hak pemilik perusahaan akan segera di mulai. Rangga sejak tadi sudah datang bersama Dewi dan Acha.


Dewi duduk sendirian di meja tanpa ada yang menemani. Kehadirannya hanya untuk menemami Rangga, sang suami sekaligus perayaan syukuran atas pernikahan mereka.


Dari kejauhan Dewi hanya menatap seluruh orang yang hadir di tempat ini dan semua terlihat berkelas. Pandangannya kini tertuju pada Rangga dan Acha yang terlihat semakin akrab. Dewi hanya tersenyum penuh arti.


"Dewi ...." panggil Nenek Aini pelan menatap Dewi yang sedang melamun.


"Nenek ... Apa kabar? Baru datang?" tanya Dewi pelan.


Nenek Aini memgangguk kecil. Lalu mengenalkan seseorang kepada Dewi.


"Ini Pak Dodik. Beliau adalah pengacara sekalugus notaris. Kenalkan. Pak Dodik, dia ini istri Rangga. Dia yang akan menerima semua harta kekayaan termasuk perusahaan ini," ucap Nenek Aini lantang.


Deg ...

__ADS_1


Dada Dewi begitu sesak dan napasnya seolah berhenti sejenak hingga detak jantung pun ikut tak berdetak beberapa detik karena kaget dengan ucapan Nenek Aini.


Dewi melongo dan bibirnya membuka pasrah.


"Dewi ... Kamu kenapa?" tanya Nenek Aini bingung melihat raut wajah Dewi.


"Nek. Jantung Dewi berhenti. Dewi masih hidup apa sudah mati? Dewi kayak jantungan. Nenek pintar sekali bikin jantung Dewi lompat," ucap Dewi pelan. Ia mulai mengatur napasnya agar tetap tenang dan terlihat santai sepeeti tak terjadi apa -apa.


Nenek Aini menatap Dewi dengan wajah bingung. Kini perempuan tua itu malah mengernyitkan dahinya karena bingung.


"Kok malah bikin jantungan? Nenek tak melakukan apapun. Nenek malah mengatakan yang sejujurnya," ucap Nenek pelan.


Ia terbiasa hidup sederhana. Itulah ajaran Ayah dab Ibunya.


Nenek Aini hanya tersenyum lebar. Beliau paham dan Dewi sangat menuruni sifat Ayahandanya.

__ADS_1


Acara segera di mulai. Semua orang dan klien penting yang bekerja sama dengan perusahaan ini sudah duduk di meja dan kursi masing -masing sesuai dengan nama -nama yang tertulis di sana.


Semua mata memandang ke arah panggung. Nenek Aini dan Pak Dodik sudah berada di depan panggung dan akan mulai membacakan wasiat yang begitu penting.


"Selamat siang. Selamat datang di acara yang begitu penting bagi keluarga besar sebagai penerus. Perusahaan ini di bangun oleh dua orang sahabat yang begitu kental. Suatu hari beliau menitipkan perusahaan ini untuk di berikan kepada salah satu cucunya dengan ciri -ciri yang jelas. Dan kini, gadis itu ada bersama kita. Kita persilahkan Puspa Dewi Puspita ... Silahkan naik ke panggung," ucap Nenek Aini dengan senyim merekah.


Semua orang yang ada di ruangan itu pun langsung menileh kenarah Dewi, karena lampu sorot langsung menyorot ke arah Dewi.


Dewi menatap kaku dan bingung kenarah Nenek Aini yang ada di depan panggung. Ia sedamg bermimpi atau ia sedang di pemainkan hiduonya oleh semesta.


Acha yang juga kaget mendengar penjelasan Nenek Aini ikut benci melihat Dewi.


'Seberuntung itu nasib loe, Dew?' batin Acha di dalam hatinya.


Rangga juga menatap tak percaya. Wanita yang ia cintai, namun ia ingin membalaskan dendamnya karena sakut hati memiliki saham yang sama banyak dengan kakek buyutnya.

__ADS_1


"Dewi ... Kemari Nak. Naiklah," pinta Nenek Aini dengan lembut dan tersenyum bahagia.


Semua teka teki sudah terbuka. Siapa cucu buyut dari keluarga Handoko. Makanya saat Nenek Ainj melihat Dewi untuk pertama kalinya ia sangat bahagia sekali.


__ADS_2