
Hari yang di tunggu oleh seluruh keluarga Rangga. Pernikahan antara Dewi dan Rangga yang sebentar lagi akan di laksanakan dengan khidmat.
Acara ijab kabul di lanjutkan dengan resepsi pernikahan yang sederhana karena itu permintaan kedua mempelai.
Dewi sudah meminta ijin pada Bening untuk tidak hadir dan tidak bermalam malam ini di rumah sakit. Ada kerjaan mendadak yang mengharuskan Dewi pergi ke luar kota.
Dewi menatap wajahnya di depan cermin. Baru kali ini, ia menerima pekerjaan sebagai Istri Rental, biasanya Dewi hanya menerima pekerrjaan sebagai Kekasih Bayaran, atau Pacar Sementara. Kali ini ia berani mengambil resiko besar karena uang.
Uang yang di tawarkan Biro Jasa saat itu sangatlah besar belum termasuk uang bulanan Dewi selama satu bulan dan royalti sebagai tanda terima kasih di akhir masa kerjanya.
"Cantik sekali kamu, Dewi," puji Mama Rania dengan jujur.
Dewi memang sangat cantik sekali. Tubuhnya yang langsing terbalut kebaya putih tulang dengan aksesoris emas di sekitar kancing hidup di depan. Kain panjang yang di gunakan juga mengesankan seperti puteri keraton dengan selop ber -hak tinggi menjadikan kakinya semakin manis.
Riasan wajahnya memang standar MUA masa kini, dengan bibir berwarna merah membuat kulit wajahnya terlihat makin ceria dan semangat.
__ADS_1
"Mama bisa saja," jawab Dewi agak gugup.
Jujur, baru kali ini, Dewi merasa sangat bersalah. tapi, mau gimana lagi.
Di kamar ganti lelaki. Hal serupa juga di rasakan oleh Rangga. Rangga sudah selesai berias dengan beskap putih lengkap. Tak lupa blankon di kepalanya serta selop senada membuat Rangga semakin terlihat sangat gagah dan tampan.
"Gugup?" tanya Papa Roki pelan.
"Iya Pah. Papah dulu juga begini waktu akan akad?" tanya Rangga pelan.
Deg ...
Rasanya ingin mengakhiri semuanya sekarang dan menerima Acha sebagai pilihan trakhir yang di inginkan kedua orang tuanya. Dari pada, hidup Rangga seperti tak tenang. Kalau di anggap arwah maka akan menjadi arwah penasaran.
"Kamu kenapa rangga? Seperti gugup? tak tenang? Ada yang gak lepas? Bukankah menikah itu malah melegakan, kamu bisahalal dnegan pasangan kamu, bahagia mengarungi bahtera rumah tangga dengan Dewi. Dewi, gadis yang baik, buat Papah, dia cukup sempurna untuk di jadikan seorang istri. Bisa di andalkan menjadi ibu ruma tangga yang ghanya mengurusi kamu, dan anak -anakmu nati," ucap Papah Roki menasehati.
__ADS_1
Rangga hanya menarik napas dalam. Jantungnya maah semakin berdegup keras bukannya malah tenang.
"Pah ...." panggil Rangga pelan.
"Iya? Gimana? Ad yang mau kamu tanyakan?" tanya papah Roki sabar.
"Kalau membuat perempuan lebih jatuh cinta lagi dnegan lelaki, bagaimana?" tanya Rangga pelan.
Dalam hati Rangga hanya ada dua pilihan. Benar -benar mengkahiri kontrak pernikahannya dengan Dewi atau ia berusaha membuat Dewi jatuh cinta kembali pada dirinya. Itu juga, jika perasaanya pada Dewi bisa kembali seperti dulu. Ia masih punya dendam, atau memnag cari yang lain saja. Anggap saja ini pernikahan percobaan.
"Dewi sudah terlihat tulus mencintai kamu. Perempuan tulus itu, mau belajar, mau melayani kamu dnegan baik, mau berusaha membuat kamu bahagia, dan terakhir dia pasti nurut sama kamu. Papah lihat, Dewi mencakup kriteria itu semua, apa yang harus kamu khawatirkan?" ucap Papah Roki meyakinkan Ragga.
"Ekhemm ... Papah lihatnya begitu? Dewi sempurna, Dewi sesuai kriteria istri idaman?" tanya Rangga pelan.
"Ya. Persis seperti Mama kamu, serba bisa. Jangan di sia -siakan punya istri yang seperti itu," ucap Papah Roki pelan dan lebih meyakinkan Rangga yang masih takut berumah tangga.
__ADS_1