
Atta dan Dewi sudah sampai di rumah. Tadi Dewi akan turun di jalan dan melanjutkan naik kendaraan umum. Tapi ... ini sudah larut malam. Atta tidak tega menurunkan Dewi di jalan raya sendirian. Walaupun ia akan tetap mengikuti dari belakang.
"Selamat malam," sapa Dewi pelan melihat ruangan yang kosong. Mungkin Mama mertuanya sudah istirahat. Begitu juga dengan Papah Roki yang tentunya sudah lelap dalam tidur malam.
Pantas saja. Ini sudah hampir tengah malam.
Atta menutup pintu depan dan akan mengunci pintu rumah itu.
Tok ... tok ... tok ...
"Hei ... Jangan di kunci!!" teriak Rangga keras sambil mengetuk pintu ruang tamu.
Dewi tertegun mendengar suara Rangga dan membalikkan tubuhnya.
Benar saja, Rangga masuk ke dalam rumah dan terlihat sangat marah menatap Atta dan Dewi bergantian.
"Kalian selingkuh?" tanya Rangga emosi.
Dewi menatap Rangga dan menatap Atta secara bergantian.
"Kamu bicara apa Rangga?" tanya Dewu bingung.
"Hah ... Kalian pintar berakting di belakangku!!" ucap Rangga menggila.
Ia kini menunjuk ke arah Atta, sang Kakak.
"Loe gak bisa cari istri sendiri? Harus mendekati istri adik loe sendiri?" ucap Rangga kasar.
Atta hanya tertawa dan mwnurunkan telunjuk tangan Rangga yang menunjukknya denagn kasar dan tak sopan.
"Turunkan jari telunjuk kamu, Rangga!! Aku kakakmu. Mana mungkin aku merebut kebahagiaan adikku sendiri. Mana pernah aku iri dengan kamu? Apa lernah aku komplain dengan apa yang di berikan Papa dan Mama kepada kamu? Sedikit pun aku gak pernah iri, kecuali apa yang kamu miliki itu semu dan tak nyata," ucap Atta tegas lalu meninggalkan Rangga yang terpana berdiri menatap kepergian Atta.
"Apa katamu Kak? Semu? Tak nyata? Apa yang sedang kau bicarakan? Apa yang sedang aku bahas? Aku tak paham," teriak Rangga keras.
__ADS_1
Atta menghentikan langkahnya tepat di samping Dewi. Dewi hanya menatap Atta dan Rangga bergatian. Kakak adik itu malah terlibat adu mulut hingga Atta melakukan hal di luar kendalinya sendiri.
Atta langsung memeluk Dewi dan mencium kedua pipi Dewi secara paksa. Dewi memberontak dan mendorong Atta dengan keras hingga tubuh Atta terhuyung ke belakang mundur menjauh dari tubuh Dewi.
Dewi langsung berlaru ke atas dan menangis di dalam kamar tidur.
Rangga mengepalkan keduat tangannya dan mengejar Atta yang tanpa rasa bersalah dan memukul punggung lelaki itu dengan sekuat tenaganya yang masih tersisa di malam ini.
Bugh ....
Pukulan Rangga telak dan membuat Atta merintih kesakitan tanpa bisa membalas.
"Arghh ... kau gila? Ingin membunih kakakmu sendiri? Atau kau senang aku cacat seumur hidup?" teriak Atta dengan suara keras dan ketus.
Hanya itu yang bisa ia keluarkan dari mulutnya. Sejak dulu Atta tak pernah mengumpat dan tak pernah melukai adiknya sendiri baik secara fisik atau mental. Bahkan Atta selalu mengalah dengan Rangga. Ia selalu menjaga adiknya dengan baik karena rasa sayangnya. Ia teringat saat Mama Rania akan melahirkan Rangga denagn susah payah. Menegeluh rasa sakit tujuh hari tujuh malam sampai akhirnya Rangga lahir dengan selamat.
Rangga menatap tajam ke arah Atta yang sudah membalikkan tubuhnya dan kini terlentang merasakan sakit punggung yang benar -benar terasa tulang belikatnya linu.
"Apa niatanmu kak? Kau ingin menghancurkan rumah tanggaku?" tanya Rangga ketus.
Kedua mata Rangga melotot dan menatap ke beberapa bagian rumahnya. Ia takut ada yang mendenagr soal ini.
"Diam!!" teriak Rangga keras. Matanya melotot seperti mau keluar dari kelopak matanya.
"Hei kalian ngapain? Berantem?" tanya Mama Rania yang baru saja keluar dari kamar karena merasa terganggu dengan suara bising kedua anaknya itu.
Rangga menatap Mama Rania yang datnga mendekat dan berpura -pura menolong Atta, kakaknya. Jujur kwduanya kaget setengah mati mendengar ucapan Mama Rania yang dinkira sudah tertidur pulas.
"Mas Atta ini lho ... malah tiduran di lantai. Ngeluh punggungnya sakit," ucap Rangga beralasan.
Atta menerima ukuran tangan Rangga dan tersenyum kecut. Rangga berpura pura membersihkan pakaian Atta yang tidak kotor hanya kusut sedikit.
"Aku mau istirahat Ma. Aku lelah," ucap Atta datar. Tatapan Atta pun terlihat tak wajar seperti biasanya.
__ADS_1
"Selamat istirahat, sayang. Kamu dari mana?" tanya Mama Rania pelan.
"Ekhemmm cari angin Ma," ucap Rangga pelan lalu pergi begitu saja meninggalkan Mama Rania yang terdiam mematung menatap kepergoan Rangga.
Ia tahu, Rangga sedang berbohong.
Rangga masuk ke dalam kamar tidurnya. Dewi sudah mengganti pakaiannya dan tertidur pulas dengan selimut tebal menutupi tubuhnya hingga bagian leher. Posisi tidur Dewi ke arah samping.
Rangga duduk di tepi ranjang di sisi lain sambil melepaskan alas kakinya dan ikut merebahkan tubuhnya tepat di samping Dewi.
Dewi membuka matanya, ia tahu Rangga ada di sebelahnya. Ia juga tidak enak dengan Rangga soal tadi. Biar bagaimana pun juga ini rumah keluarga Rangga sudah seharusnya Dewi menjaga sikap baik.
"Aku tahu ... Kamu belum tidur. Aku hanya berpesan, jaga sikap kamu. Di sini kamu adalah istriku, di luar itu kamu bebas, Dewi. Aku tidak ada hak mencampuri urusan pribadi kamu termasuk kisah cinta kamu pada Mas Atta. Aku baru tahu kalau kalian punya hubungan. Aku harap Mas Atta bisa menjaga rahasia ini. Kamu sudah berapa lama berhubungan dengan Mas Atta?" tanya Rangga pelan sambil menatap ke arah Dewi yang sudahbtak bergerak sama sekali.
"Aku gak ada hubungan apapun dengan Mas Atta atau siapa pun," ucap Dewi lirih.
"Ha ... ha ... ha ..." suara tawa Rangga begitu keras memenuhi ruangan kamar itu.
Dewi memejamkan kedua matanya. Ia tahu, Rangga tidak akan mudah percaya begitu saja pada ucapannya.
"Hebat kamu. Pintar sekali cari muka. Sampai -sampai Nenek Aini pun bisa memberikan opsi lain untukku. Hah!! Gila!!" teriak Rangga makin frustasi.
Dewi diam tak bicara. Ia sama sekali tak menanggapi ucapan Rangga.
"Maafkan aku, Rangga. Apa tidak sebaiknya kita bercerai saja? Bilang tidak cocok," ucap Dewi pelan.
"Gila kamu, Dewi. Aku sudah bayar mahal kamu, Dewi!! Lalu? Kamu bilang kita cerai? Terus kedua orang tuaku akan bilang aku lelaki gak becus!! Gitu? Kalau aku tahu, jodohku itu Acha. Aku gak lari dari kenyataan ini," ucap Rangga ketus.
Dewi memutar tubuhnya dan menatap Rangga.
"Ya sudah. Buat apa kamu pertahankan aku? Lebih baik ceraikan aku, lalu menikah lagi dengan Acha," ucap Dewi memberikan saran.
"Saran gila? Harus di ikuti?" ucap Rangga nyindir.
__ADS_1
Rangga menutup kedua matanya dan berpura -pura tertidur pulas.