RENTAL ISTRI

RENTAL ISTRI
OBSEBSI ATAU DENDAM


__ADS_3

Kedua mempelai sudah duduk di pelaminan dan berfoto sambil memegang buku nikah yang baru saja mereka terima.


Dewi dan Rangga tampak bahagia dan selalu tersenyum pada setiap tamu undangan yang datang dan memberikan selamat epada kedua mempelai berbahagia itu.


"Akhirnya kita SAH juga," ucap Rangga pelan berbisik tepat di telinga Dewi.


Dewi hanya mengangguk kecil dan tak begitu menggubris ucapan Rangga.


"Dewi Sayang ... Menantu Mama, akhirnya SAH juga. Pokoknya kalian harus tinggal di rumah ini, karena Mama pengen cepet punya cucu," ucap Mama Rania dengan penuh semnagat. Rasa bahagianya begitu tercurah dari dalam hati.


Acha yang berdiri di samping Mama Rania pun hanya tersenyum kecut.


"Tante yakin?" tanya Acha pelan.


"Yakin apa?" tanya Mama Rania bingung dengan ucapan Acha.


Dewi dan Rangga menatap Acha dengan tatapan bingung juga.

__ADS_1


"Yakin, Dewi bisa berikan keturunan dalam waktu dekat," ucap Acha tersenyum penuh arti kepada Rangga dan Dewi.


Rangga menatap tajam ke arah Acha dan mengepalkan tangannya. Dewi menatap Acha semin bingung dan kini tatapannya beralih ke arah Rangga yang terlihat sedang menahan emosi.


"Apa maksud kamu, Acha? Tante gak paham sama sekali. Memang kamu belum periksa kesehatan, Dew? Waktu sebelum menikah?" tanya Mama Rangga menatap lekat kepada Dewi yang meminta jawaban saat ini juga.


"Su -sudah Ma. Semua man kok. Dewi pasti bisa kasih keturunan dan cucu buat Mama," ucap Dewi lantang. Ia tak punya pilihan lain selain menjawab kebohongan demi meyakinkan Mama Rangga.


"Oh ya? Kapan? Kamu memang ke rumah sakit, Dewi. Kamu memang sibuk di rumah sakit, tapi untuk hal lain, bukan? Dan bukan utuk memriksakan diri," ucap Acha ketus.


Melihat sedikit ada ketegangan di atas pelaminan. Atta pun naik ke atas pelaminan dan menarik tangan Acha untuk segera turun ke bawah.


"Apa sih maksud Acha barusan? Dewi gak paham," tanya Dewi plean dengan rasa bingung.


"Hiraukan saa," ucap Rangga dar.


Mama Rania pun menepuk lengan Dewi pelan untuk memberikan semangat dan tidak mudah terkontaminasi dengan omongan orng yang tak bertanggung jawa. Padahal, Acha kalau jadi jug akan menjadi Kakak iparnya beberapa waktu ke depan. Tapi sayang, Atta belum menunjukkan keinginan untuk serius dan mau di jodohkan.

__ADS_1


"Apa -apaan sih, Kak Atta? Sakit tahu!!" teriak Acha denagn suara keras yang lolos begitu saja seperti orang yang sedang di aniaya.


Atta melepas genggaman tangannya di pergelangan tangan Acha dan bersandar di dinding yang menghadap taman di samping. Atta sengaja membawa Acha di tempat yang lebih sepi untuk memberikan somasi dan nasihat yang harus di laksanakan oleh Acha.


Tangan Atta melipat di depan dada. Wajahnya terlihata tak bersahabat.


"Buat apa berbicara seperti itu? Kau ingin mengintimidasi Dewi? Kamu masih mau merusak hubungan keduanya?" tanya Atta mulai emosi.


Acha tertawa sinis. Ia berjalan mendekati bunga mawar yng sedang mekar di sana.


"Aku tidak pernah mengintimidasi. Aku hanya mengambil hak aku!!" ucap Ach kesal. Ia memetik bunga mawar merah yang ada disana dan meremat hingga hancur dan mahkotanya jatuh terlepas dari kelopak bunganya.


"Hak kamu yang mana, Cha? Gila kamu ya?" ucap Atta sengit.


Acha menoleh ke arah Atta.


"Kamu bilang aku apa? Aku gila?" tanya Acha sinis.

__ADS_1


Atta semakin tak respek dengan Acha. Entah obsebsi atau memiliki dendam tersendiri.


__ADS_2