
Rangga dan Dewi sudah duduk saling berhadapan di meja itu. Baru saja mau menikmati makanan malam itu. Hujan pun turun dengan sangat deras secara tiba -tiba.
Dewi langsung bangkit berdiri dan membawa beberapa piring ke dalam. Begitu juga dengan Rangga yang langsung gerak cepat mengangkat beberapa piring dan minuman bolak balik sampai semua makanan dan minuman itu pindah ke dalam ruangan.
Dewi mengambil handuk kering, kepala dan tubuh Rangga basah. Perlahan Dewi mengusap semua bagian yang basah dnegan handuk yang ia bawa untuk Rangga tadi.
"Basah, Ngga. Ganti baju sana. Nanti sakit. Kita mau liburan, bukan jagain orang sakit," tawa Dewi renyah menggoda.
"Iya sudah. Aku ganti baju dulu," jawab Rangga lembut.
Rangga masuk kembali ke kamar mandi untuk melepaskan pakaian basahnya dan mengganti dengan piyama denngan corak bergaris. Dewi menutup pintu kaca balkon dan menutup hordeng. Lalu menyalakan penghangat ruangan dan menyalakan televisi serta aromaterapy mint agar terasa segar.
Dewi sudah duduk santai dengan kedua kaki bersila di atas sofa dan di tutupi bantal sofa. Bajunya yang pendek dan sedikit ketat membuat paha mulusnya terlihat jelas terpampang. Tapi, Dewi malas bergerak untuk mengganti pakaian.
Sambil serius menonton drama korea kesukaannya. Dewi juga melahap makanan yang ada di depannya dengan santai sekali.
"Hemm enak banget," ucap Rangga pelan.
"Enak dong. Sini nonton sambil makan," pinta Dewi memanggil Rangga.
Rangga menurut dan duduk di samping Dewi sambil ikut menonton film kesukaan Dewi. Tangannya juga cepat sekali mencocol sambal dan menyuapkan kendalam mulutnya.
Suara gemuruh geluduk dan hujan deras makin terdengar jelas. Sepertinya hujan semakin lebat.
"Sudah minum obat belum?" tanya Rangga mengingatkan.
Dewi menatap Rangga dan tertawa lepas.
"Belum. Lupa. Dari siang juga gak minum," ucap Dewi lembut.
"Kebiasaan!! Mau sembuh gak sih," gerutu Rangga sambil mengambil obat yang ada di meja rias.
Rangga mengambil tiga botol obat khusus untuk Dewi dan salah satunya adalah vitamin untuk Dewi agar nafsu makannya tinggi. Karena sepeninggal Bening, Dewi susah sekali untuk di suruh makan, walaupun itu adalah makanan kesukaan Dewi.
"Ini minum dulu. Biar cepet sehat," titqj Rangga.
"Makasih abang Rangga yang paling guanteng suaminya siapa sih," cicit Fewi menggoda.
Rangga membuka satu per satu botol obat dan mengeluarkan satu kapsul di tiap botolnya. Rangga melirik ke arah Dewi yang masih tersenyum menggoda Rangga.
"Suaminya Dewi," jawab Rangga tegas.
"Kan udah," goda Dewi lagi.
Rangga menatap lekat Dewi.
"Kalau udah boleh dong?" ucap Rangga sengaja mendekatkan wajahnya pada Dewi seperti ingin menciumnya.
__ADS_1
Tangan Dewi langsung menutup wajah Rangga.
"Gak usah macem -macem deh," ucap Dewi tegang.
Ha ... ha ... ha ... suara tawa Rangga terdengar renyah. Ia berhasil menggoda Dewi hjngga gadis itu marah.
"Makanya gak usah mancing -mancing kalau gak mau. Paksa juga nanti," ucap Rangga tertawa keras.
Dewi memutar kedua bola matanya dengan kesal.
"Namanya juga bercanda. Gak humoris banget sih kamu, Ngga. Hidup itu gak usah terlalu serius. Di buat santai," ucap Dewi kesal.
Rangga memberikan tiga butir kapsul kepada Dewi
"Gak usah berisik. Minum obatnya sana," ucap Rangga.
Rangga mengembalikan tiga botol obat ke tempat asal. Lalu kembali duduk di samping Dewi kembali sambil memainkan ponselnya.
Rangga iseng mencari artikel. Cara menaklukkan hati seorang perempuan. Siapa tahu saja cara menurut "mbah google' itu ampuh dan sakti bisa membuat Dewi termehek -mehek kepada Rangga.
Dewi sudah selesai meminum tiga kapsul ke dalam mulutnya satu per satu lalu di dorong dengan air mineral yang ada di meja.
Dewi melirik ke arah Rangga yang fokus melihat ponselnya dan sesekali tersenyum.
"Lihat apa sih? Serius amat? Pakai cekakak cekikik gak jelas," ucap Dewi yang kesla karena sejak tadi di abaikan.
Rangga melirik ke arah Dewi.
"Dih ... gitu amat. Masa iya istri pura -pura gak boleh tahu apa yang sedang di lakukan oleh suami pura -puranya?" ucap Dewi kesal.
"Memang istri pura -pura itu berhak tahu? Namanya juga cuma pura -pura," ucap Rangga santai.
"Arghh ... Nyebeli gak asik," ucap Dewi kesal.
Dewi mematikan televisinya dan naik ke atas ranjang empuk milik villa mungil. Rangga hanya menatap Dewi sambil mengulum senyum. Itu pertanda Dewi sedang kesal karena cemburu.
"Mau tidur?" tanya Rangga pelan dan mematikan ponselnya dan di letakkan begitu saja di meja.
Selama ini, Rangga tidak main rahasia pada Dewi. Semua hal terbuka dan bisa di akses oleh Dewi. Ponsel juga tidak di sandi. Kalau Dewi mau, kapan saja bisa di buka. Termasuk semua rekening Rangga dengan jumlah milyaran itu. Semua bisa di akses oleh Dewi.
Rangga ikut naik ke atas kasur empuk. Saat tubuh bersentuhan dengan kasur itu rasanya nyaman sekali.
Dewi sudah merebahkan tubuhnya dan menghadap ke samling ke arah Rangga dan begitu pun sebaliknya.
Keduanya saling bertatapan. Teringat ciuman tadi membuat Dewi tersenyum
"Kenapa senyum -senyum sendiri? Masih sehat kan?" tanya Rangga tertawa.
__ADS_1
"Asem kamu, Ngga," cicit Dewi kesal.
Rangga tertawa keras. Lucu juga hubungan nya saat ini dengan Dewi. Penuh tawa, candaan dan senyim penuh ketulusan.
"Main truth or dare? Mau?" tanya Dewi cepat.
"Boleh. Siapa takut. Ayo," ucap Rangga penuh semangat.
Rangga langsung duduk di atas kasur. Begitu juga dengan Dewi. Mereka main dengan suit jepang.
Truth or dare ...
Dewi menang ...
"Aku pilih truth," ucap Rangga.
"Saat ini kamu sedang mencintai siapa?" tanya Dewi penasaran.
Rangga menatap Dewi. Ini pertanyaan atau jebakan betmen.
"Dewi Puspa Puspita," suara Rangga lantang.
Dewi terdiam. Ini sebuah permainan. Tidak perlu Baper, Dewi. Dewi mencoba menenangkan hatinya sendiri. Padahal hatinya senang sekali. Nama panjnagnya bisa terucap jelas di bibir Rangga.
"Kita mulai lagi ...." Dewi mengalihkan kembali ke permainan yang sedang mereka mainkan itu.
Truth or dare ...
Rangga menang ...
"Dare," ucap Dewi pelan.
Dewi tidak mau pertanyaan yang sama tadi balik kepada dirinya. Malu pastinya.
"Kamu masih sayang sayang aku? Atau pilih cium bibir aku?" ucap Rangga.
Pilihan yang sulit ternyata. Dua -duanya keuntungan bagi Rangga.
"Aku pilih dare,"
Dewi langsung mendekatkan bibirnya ke arah bibir Rangga. Mau tidak mau, Dewi harus nyosor duluan.
Cup ...
Hanya kecupan singkat di bibir Rangga yang penuh arti.
Keduanya saling berpandangan dan saling bertatap sendu. Rangga menginginkan lebih dari sebuah kecupan dan ...
__ADS_1
Tag ...
Listrik padam bertepatan dengan suara petir yang amat kencang seperti masuk ke dalam vulla di ikuti dengan kilatan cahaya yang membuat hati terkejut bukan main.