
Rangga sengaja bersembunyi di balik pilar besar dan kokoh di balik ruangan besar yang ada di depan ruangan rawat milik Bening.
Ia hanya bisa melihat Dewi dan Atta bercengkerama tanpa batas.
"Rasanya sudah malam. Aku harus pulang," ucap Atta pelan menatap Dewi.
Dewi juga melirik ke arah jam tangannya. Hari memang sudah sangat larut malam. Tidak mungkin ia setiap malam bepergian meninggalkan Rangga di rumah. Lalu, apa kata kedua mertuanya.
"Dokter Atta mau pulang? Sepertinya kita sejalan. Boleh ikut?" tanya Dewi pelan menatap dokter Atta.
"Dengan senang hati," jawab Atta tersenyum penuh arti lalu menatap Bening yang juga tersenyum ke arah dokter Atta.
Mulai malam ini, Dewi sengaja membayar perawat untuk menemani Bening. Semua keputusan sudah di bicarakan baik -baik dengan Bening sebelum Dewi mencari perawat untuk mengurus Bening. Dewi juga harus memberikan alasan yang tepat untuk Bening, kenapa mulai saat ini setiap malam ia tidak bisa menginap dan menemani Bening. Itu semua di karenakan kesibukannya selama satu tahun ini mendapatkan proyek. Jadi Dewi harus berangkat pagi -pagi sejali menuju lokasi pekerjaan.
Dewi hanya tersenyum menatap Atta dan kemudian memegang tangan Bening denagn erat.
"Nanti ada suster Risa dan suster Ana yang menjaga kamu. Mereka akan berjaga bergantian. Anggap mereka kakakmu juga. Semua keluhan kamu utarakan saja. Apapun yang terasa tidak baik dari dalam tubuhmu. Mbak Dewi harus kerja, karena Mbak Dewi mau lihat kamu sembuh dan kita bisa bersama lagi," ucap Dewi lembut memberi pengertian kepada Bening, adik semata wayangnya.
Senyum Bening begitu ikhlas. Ketulusan hatinya dan kesabaran Bening menghadapi semuanya.
"Mbak Dewi harus tetap sehat. Biar tetap bisa menemani Bening. Bening janji gak akan merengek lagi, gak manja lagi. Bening akan menuruti semua kata -kata mbak Bening. Terima kasih sudah menjaga Bening dan sudah mengibati Bening," ucap Bening pelan sambil mengeratkan genggaman tangan Dewi di tangannya.
Bening hanya punya Dewi. Ucapan Bening malam ini membuat Dewi takjub dan tersentuh. Ia merasa takut kehilangan Bening. Hanya Bening, satu -satunya keluarga yang di miliki.
Tak lama suster Risa masuk ke dalam membawa beberapa perlengkapan pribadi untuk menemani Bening.
"Suster Risa. Tepat sekali datanganya. Baru aku mau panggil. Titip Bening," ucap Dewi lirih. Rasanya tak kuasa meninggalkan Bening sendirian di sana.
Tatapan Dewi kini berpindah menatap Bening. Kedua mata Bening begitu indah dan bulat. Iaebih kuat di banding Dewi yang sudah basah di kedua matanya.
__ADS_1
Rasanya tak kuasa menahan tangisnya lagi. Dewi sebenarnya tidak tega meninggalkan Bening dan harus di temani suster tanpa ada dirinya di sana seperti hari biasanya. Tapi, mau bagaimana lagi. Tugasnya menjadi istri rentalan hanya satu tahun dan ini semua demi Bening.
Dewi dan Atta sudah berjalan di koridor menuju arah depan rumah sakit ke arah parkiran mobil.
Rangga sejak tadi mengikuti Dewi dan Atta dari belakang tanoa di curigai. Ia ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi.
"Kamu mau ikut sampai rumah kan?" tanya dokter Atta pelan sambil membuka pintu mobil yang terkunci dan membukakan pintu samping untuk Dewi masuk ke dalam mobilnya.
Degub jantung Atta terasa seperti berlomba dan terus berdetak kencang. Mungkin kalau saja Dewi saat ini tak menikah dengan Rangga, Atta sudah bisa mendekatinya dengan caranya sendiri aray bahkan hubungannya saat ini bukan hanya sekedar antara pasien dengan dokternya.
Dewi sudah duduk manis di samping Atta yang sedang menyetir mobilnya dengan kecepatan normal.
"Kenapa kamu tak cerita soal Bening pada Rangga. Pada Papah dan Mama juga? Bukankah itu malah melegakan hati dan pikiranmu?" tanya Atta pelan. Ia sengaja mencari celah untuk mengetahui apa yang sebenarnya Dewi sembunyikan.
"Aku tak mau membebani keluarga dokter Atta dengan kehadiran aku dan Bening," ucap Dewi santai dan tenang.
"Kamu lupa? Kamu sudah menikah dengan Rangga, adikku. Semua kebutuhan kamu, keperluan kamu, termasuk apapun tentang keluarga kamu adalah tanggung jawab Rangga atau kami sebagai keluarga baru kamu," ucap Atta pelan dengan nada tegas.
Dewi menggelengkan kepalanya pelan.
"Tidak ada yang tahu soal pernikahan. Ke depannya sepeeti apa? Kamu lihat, Rangga saat ini dekat dengan Acha, yang notabene bukan hanya sekertarisnya saja tapi juga perempuan yang seharusnya di sandingkan dengan Rangga," ucap Dewi pelan tanpa memberikan alasan lain.
"Kamu cemburu sama Acha?" tanya Atta sambil tertawa.
"Gak. Sama sekali gak." jawab Dewi singkat, padat dan jelas.
"Tapi kamu pewaris setengah harta kekayaan yang di pegang oleh Nenek Aini," ucap Atta pelan.
Ha ... ha ... ha ... suara tawa Dewi begitu renyah dan keras.
__ADS_1
"Kamu percaya soal harta itu? Aku gak percaya sama sekali. Itu mungkin hanya keinginan Nenek Aini agar Rangga lebih fokus lagi mengurus perusahaan," ucap Dewi dengan santai.
"Nenek Aini bukan irang seperti itu." jawab Atta membela Nenek Aini.
"Tapi ... soal keluarga Dewi tidak seperti itu. Memang ada kemiripan cerita tapi gak semuanya benar," ucap Dewi pelan.
"Kamu aneh Dew," ucap Atta makin lama makin kesal sendiri.
"Suatu hari kamu akan tahu sendiri kebenaran apa yang sebenarnya terjadi," ucap Dewi pelan.
"Iya. Kamu hanya istri yang di rental oleh adikku Rangga. Kamu bekerja di salah satu biro jasa rental pasangan, dan kamu menerima kontrak Rangga menjadi istri rentalan selama satu tahun? Benar begitu?" tanya Atta tegas dengan nada suara meninggi serta lantang.
Deg ...
Dada Dewi rasanya sesak. Jantungnya terus terpacu terpompa berdetak dengan sangat keras.
Dewi menoleh ke arah Atta dan tersenyum kecut. Identitas dirinya terbuka masih dini sekali. Siapa yang mencari tahu dan mengorek soal pribadinya.
"Sok tahu. Aku dan Rangga sudah pacaran lama. Pernah tak berkomunikasi dan akhirnya bertemu lagi dan memutuskan untuk menikah," ucqp Dewi mencari alasan.
"Oh ya? Aku tunggu kabar baiknya selama tiga bulan. Seharusnya kamu hamil dalam jangka waktu itu. Kalau tidak? Apa yang aku ucapkan hari ini adalah suatu kebenaran. Makanya kamu tak pernah mengenalkan Bening pada Papa dan Mama, karena alasan ini," tegas Atta tanpa basa basi.
Leher Dewi rasanya tercekat. Skak Mat untuk dirinya saat ini. Berkilah seperti apapun, ucapan Atta semuanya benar.
"Jangan mengadukan sesuatu hal yang belum tentu kebenarannya," jawab Dewi singkat.
"Tidak. Aku hanya ingin kamu jujur padaku saja. Aku akan membelamu, menjagamu dan tetap mencintaimu hingga pekerjaanmu selesai," ucap Atta pelan.
"Apa maksud kamu? Aku gak paham," tanya Dewi menatap tajam ke arah Atta.
__ADS_1