
"Cindy" teriak Dita sambil menangis sesegukan setelah baru saja masuk ke ruangan kamar Cindy yang masih berbaring lemah disana
"Cindy ......." Dita terduduk dan menangis setelah mendapat kabar dari Jeffri jika orangtua Cindy mengalami kecelakaan dan meninggal
Bahkan Mama Kanya yang berada disana pun ikut menangis "Ya Tuhan. Apa yang harus kulakukan untuk menebus dosa putraku?" batinnya dengan begitu sesak
Cindy perlahan membuka matanya. Dita langsung berada tepat di depan wajah Cindy tanpa berhenti menangis sedetik pun. Bagaimana pun juga, gadis itu sudah menganggap orangtua Cindy seperti orangtuanya juga. Terlebih karna sekarang Cindy benar-benar akan hidup sendiri
"Dita" ucap Cindy dengan pelan. Bahkan air matanya tidak berhenti mengalir
Cindy kemudian teringat akan kedua orangtuanya "Dimana? Dimana mereka? Papi? Mami?" ia bangun dengan cepat dan menengok ke kiri dan ke kanan "Dita, dimana Mami Papi gue? Dimana?" ia menggoyang-goyangkan lengan Dita
Dita benar-benar tidak kuasa menahan air matanya hingga tangisnya langsung tumpah sambil memeluk tubuh sahabatnya yang baru saja kehilangan kedua orangtuanya yang sudah lama ia tunggu kedatangannya
"Cindy ...... Papi sama Mami udah ngga ada" Dita berucap dengan tangis yang begitu pilu "Mereka udah pergi Cin. Mereka udah pergi"
Tubuh Cindy langsung terlemas mendengarnya. Padahal tadinya, ia berharap itu semua hanyalah mimpi baginya. Bagaimana bisa ia harus benar-benar kehilangan orangtuanya? Ia bahkan tidak punya banyak waktu bersama orangtuanya selama ia duduk di bangku SMP
"Ngga Dit. Mereka ngga akan pergi. Mereka ngga akan ninggalin gue sebelum mereka pamit" Cindy masih meyakinkan dirinya "Mereka belum pulang dari Kanada Dit. Lo dengar sendiri kan kemarin Mami bilang apa? Mami sama Papi akan pulang besok Dit. Mereka baru pulang besok. Bukan malam ini"
Cindy memberontak dan lari keluar dari ruangan. Ia mencari ruang IGD, tempat dimana tadi ia melihat kedua orangtuanya. Perlahan ia menghampiri ruangan tersebut dan membukanya. Namun ia tidak menemukan siapapun di ruangan itu. Karna jazad kedua orangtuanya sudah dipindahkan ke kamar mayat. Sedangkan Arsya sendiri sudah dipindahkan ke kamar inap
"Cindy" Dita akhirnya bisa menggapai Cindy bersama Mama Kanya selama tadi ia terus mengejar Cindy
"Di ...... Dimana mereka Dit? Ta ..... Tadi gue liat mereka ada disini" Cindy dengan gelagap menunjuk tempat tidur yang sempat dipakai oleh orangtuanya
__ADS_1
Karna tak kuasa menjawab. Dita memeluk tubuh sahabatnya sambil menangis sesegukan. Ia bingung bagaimana harus menjelaskannya pada Cindy. Gadis itu benar-benar sangat kehilangan
"Nak" Mama Kanya memegang bahu Cindy "Sekarang orangtua kamu ada di kamar mayat" ia mengucapkannya dengan berat hati
Tubuh Cindy langsung lunglai ke lantai "Cindy" teriak Dita dan menahan tubuh gadis itu "Cindy. Tolong jangan kek gini Cin" ia semakin menangis sejadi-jadinya melihat tatapan kosong sahabatnya
Mama Kanya pun tidak henti-hentinya ikut menangis melihat keduanya. Terlebih melihat raut wajah Cindy yang sangat memprihatinkan. Sejak tadi ia menyuruh suaminya untuk menjaga putranya, dan ia akan menjaga gadis malang yang nyawa kedua orangtuanya sudah direnggut oleh putranya dalam kecelakaan malam itu
***
Cindy terduduk diam menatap jazad kedua orangtuanya saat jazad itu sudah tiba di rumahnya. Dita dan Jeffri setia menemani Cindy saat itu. Bahkan Mama Kanya pun turut hadir di rumah itu. Pagi itu, semua tetangga datang melayat ke rumah kediaman Cindy dan keluarganya
"Cindy?" Dita tidak henti-hentinya menangis. Terlebih saat melihat Cindy yang diam saja
Cindy memang tidak meraung-raung. Namun dari sorot matanya, sepertinya jiwa gadis itu tidak sedang bersama dengan tubuhnya saat ini. Pikirannya kosong dan tidak merespon apapun dan siapapun. Bahkan hingga proses pemakaman itu selesai sekalipun
Rasa bersalah semakin terpancar dari raut wajah Mama Kanya. Ia menghapus air matanya dan memeluk tubuh Cindy "Maafkan Tante Nak" bisiknya lalu melepas pelukannya "Tante pamit pulang dulu ya? Nanti Tante kemari lagi" pamitnya pada Dita dan Jeffri yang mengangguk
Siang itu, semua orang yang melayat sudah berpamitan pulang. Yang tersisa hanya Bi Imah, Jeffri dan juga Dita. Meski Cindy sudah berulang kali menyuruh keduanya pulang, namun mereka tetap bersikekeh tidak mau pulang dan lebih memilih menemaninya disana
"Kalian pulang aja" pinta Cindy dengan wajah pucat
Dita menolak "Ngga Cin. Gue bakal tetap disini nemenin lo"
"Gue juga. Gue ngga akan pulang. Gue akan tetap disini nemenin lo" Jeffri pun ikut menimpali
__ADS_1
"Terserah kalian. Gue mau ke kamar" Cindy tidak mau berdebat dan memilih hendak masuk ke kamarnya di lantai 2 "Dan gue pengen sendiri" ucapnya lagi sebelum meninggalkan kedua temannya serta Bi Imah disana
Dita dan Jeffri tidak menyahut lagi. Mereka berdua hanya menyaksikan Cindy berlalu meninggalkan mereka. Dan pun mereka sadar, jika saat ini Cindy hanya ingin sendiri. Mungkin untuk melapangkan hatinya atas kepergian mendadak kedua orangtua
Cindy bersandar di belakang pintu kamar setelah menguncinya. Air mata yang semula berusaha keras ia tahan akhirnya tumpah. Ia menangis sejadi-jadinya. Menumpahkan semua rasa sedihnya. Kepergian secara tiba-tiba kedua orangtuanya masih sangat menyisakan luka bekas yang teramat di benaknya
Sudah cukup ia berusaha menahan rasa kesepiannya selama ini ketika kedua orangtuanya akan kembali ke Kanada. Namun ia cukup senang karna masih bisa berkomunikasi lewat ponsel. Atau jika Mami dan Papinya ada waktu senggang, mereka akan datang mengunjungi putri mereka yang ia tinggal di Indonesia bersama asisten rumah tangga, Bi Imah
Namun sekarang? Mereka benar-benar pergi meninggalkan Cindy seorang diri. Dan ia selamanya tidak akan lagi bisa mendengar omelan Maminya jika ia telat makan. Mendengar teguran Papinya jika membawa mobil dengan kecepatan yang tinggi. Ia tidak akan lagi bisa merasakan hal itu. Mengingat itu semua, Cindy semakin menangis
"Mami? Papi? Kenapa kalian ninggalin Cindy sendirian? Cindy ngga kuat"
Cindy melihat ada gelas di atas nakas. Ia menghapus air matanya, lalu menghampiri gelas tersebut. Ia membuang air di dalamnya di jendela. Air matanya kembali tumpah dengan begitu pilu
"Cindy mau ketemu Mami sama Papi" ia memecahkan gelas tersebut ke tembok hingga bunyinya membentur begitu keras
Pecahan gelas tersebut itu pun menyebar kemana-mana. Bahkan pecahan kaca tersebut tidak sedikit mengenai tangan Cindy hingga terluka dan tergores. Namun gadis itu sama sekali tidak merasakan kesakitan sedikit pun
Di lantai bawah. Jeffri dan Dita begitu terkejut mendengar suara benda terbanting yang begitu keras di lantai atas. Keduanya saling memandang "Cindy?" mereka langsung berlari menaiki tangga dan menggedor-gedor kamar Cindy yang terkunci
"Cindy? Buka pintunya Cin" Dita menjadi panik dan terus mengetuk pintu kamar itu
"Cindy? Lo ngapain di dalam? Buka pintunya" Jeffri pun tidak kalah paniknya dengan Dita
"Ya Tuhan, Neng Cindy?" bahkan Bi Imah juga sudah berada di depan kamar Cindy sambil menangis
__ADS_1
Cindy sama sekali tidak menghiraukan teriakan orang-orang yang berada di luar kamarnya "Mami? Papi? Tolong jemput Cindy? Cindy ngga kuat lagi. Tolong jemput Cindy. Cindy mohon" ia memejamkan kedua matanya dan mendekatkan sebagian kaca gelas itu ke pergelangan tangannya. Perlahan tapi pasti, ia menggoreskan kaca itu ke tangannya
" Tolong jemput Cindy. Cindy mohon"