Rindu Dan Harga Diri

Rindu Dan Harga Diri
Pacarnya Kars (Arin)


__ADS_3

Dada Cindy terbentur begitu keras hingga membuatnya mengaduh kesakitan. Arsya ingin sekali keluar dari mobil dan memaki mobil yang membuatnya mendadak menginjak rem. Namun mobil tersebut sudah melaju kencang


"Cindy? Lo ngga apa-apa?" Arsya membantu Cindy menyandarkan punggungnya


Sejenak Cindy menoleh ke arah Arsya. Karna untuk pertama kalinya pria itu memanggil namanya. Cindy merasakan dadanya begitu sesak. Berulang kali ia mengusap pelan dadanya


"Harusnya lo pake seatbelt" Arsya membantu Cindy memasangkan sabuk pengaman


Dengan jarak yang begitu dekat. Cindy memejamkan matanya. Namun Arsya tidak mempedulikannya. Ia hanya merasa bahwa gadis itu tengah menahan rasa sakit di dadanya hingga memejamkan matanya


"Apa perlu ke rumah sakit?" pertanyaan Arsya seketika membuat kedua bola mata Cindy terbuka


Cindy menggeleng dengan cepat "Ngga usah Kak. Antar aku pulang aja" ia sekuat tenaga menahan perih di dadanya


Arsya tidak bertanya lagi. Ia melajukan kendaraannya dengan kecepatan sedang. Sesekali melirik Cindy yang memperhatikan jalan dengan fokus. Tiba-tiba dari kejauhan ada begitu banyak kendaraan yang berhenti. Dan hal itu pun membuat Arsya menghentikan kendaraannya


Cindy mencoba melihat "Di depan ada apa?"


Namun Arsya hanya diam saja hingga membuat Cindy melirik sejenak "Gue berasa lagi ngomong sama batu ini" ketusnya dengan membatin


Cindy hendak turun dari mobil namun Arsya menahannya "Mau kemana?"


"Mau turun. Mau liat di depan ada apa sampai macet"


Ngga usah. Tunggu disini" perintah Arsya lalu ia turun dari mobilnya


"Tadi kek" ketus Cindy setelah Arsya pergi


Karna merasa bosan, Cindy meraih ponselnya dan memainkannya. Namun semakin lama Arsya tak kunjung muncul. Cindy sudah merasa semakin gusar. Ditambah kemacetan semakin padat


"Kenapa ngeliat kemacetan aja lama banget?" gerutunya lalu menghela napas. Ia menghidupkan musik dan terdengar lagu Perfect "Lumayan lah selera musiknya"


Cindy terus mengikuti alunan demi alunan musik yang terdengar. Hingga akhirnya kantuk menyerangnya. Namun sekuat tenaga ia tahan. Namun sudah hampir sejam Arsya belum juga kembali


"Kemana sih dia?"


Cindy sudah tidak bisa menahan kantuknya. Akhirnya ia tertidur disana dengan alunan musik yang masih menyala. Ponselnya sudah tergeletak di sampingnya. Pintu mobil pun terbuka dan Arsya langsung masuk


"Sorry lama. Di depan ada o........" ucapannya tiba-tiba terhenti tatkala melihat Cindy sudah tertidur. Ia menghela napas


Ponsel milik Cindy terus berdering. Arsya sebenarnya tidak ingin menjawabnya. Namun deringan ponsel itu berkali-kali berbunyi. Diraihnya ponsel Cindy dan tertera kontak 'Telpon rumah'


"Telpon rumah?" Arsya mengerutkan keningnya lalu menjawab telepon tersebut dengan ragu "Halo?"


"Halo? Ini nomornya Neng Cindy kan?"


"Oh. Ia. Saya Arsya" Arsya sudah tau jika yang berada dibalik telepon itu adalah ART Cindy


"Oh Mas Arsya? Bibi mau minta tolong. Neng Cindy menginap di rumah Mas Arsya malam ini. Karna Bibi harus menginap di luar dan baru akan kembali besok lusa Mas. Bibi juga sudah menghubungi Ibunya Mas tadi"


Arsya melihat ke arah Cindy yang masih tertidur "Ia bi" jawabnya karna tidak mau banyak berkata


"Terima kasih Mas. Tolong nanti sampaikan ke Neng Cindy ya Mas?"

__ADS_1


"Ia bi"


Sambungan telepon itu sudah berakhir. Arsya menarik keras napasnya. Menginjak pedal gas dan menuju ke rumahnya. Setidaknya ia tidak harus berhenti di rumah gadis itu dan menurunkannya disana. Bahkan Mamanya pun menelpon setelah itu, dan menyuruhnya membawa Cindy untuk pulang ke rumah


Setelah hampir 20 menit perjalanan karna ketiban macet, mobil Arsya kini sudah masuk ke pekarangan rumah. Dan tentu saja disana sudah ada Mamanya yang menunggu kedatangannya. Arsya turun dari mobilnya dan menyalami tangan Mamanya


"Cindy mana?" tanya Mama Vanya


"Dia tidur di mobil Ma"


"Tidur?" Mama Kanya sedikit terkejut


Arsya mengangguk malas "Ia Mah"


Mama Kanya mendekati mobil Arsya dan membukanya perlahan. Ia melihat Cindy tampak tidur dengan nyaman disana. Dan tidak ada tanda-tanda gadis itu akan terbangun. Sepertinya gadis itu kelelahan setelah seharian penuh harus mengurus acara Fakultas mereka


"Arsya? Tolong bawa Cindy masuk nak" perintah Mama Kanya dengan lembut


"Aku?" Arsya menunjuk dirinya sendiri


"Memangnya siapa lagi? Apa Mama yang harus menggendong Cindy masuk? Mama ngga cukup kuat nak"


Arsya mendesah kesal. Namun mau tidak mau ia harus mengangkat gadis itu. Karna jika tidak, Mamanya yang pasti akan mengangkatnya. Mama Kanya menggeser ke belakang dan Arsya perlahan mengangkat tubuh Cindy yang tidak bergerak sama sekali


"Nyusahin aja kerjaanya. Tidur atau mati sih nih orang?" Arsya terus menggerutu dalam benaknya


"Ayo bawa ke kamar tamu nak. Karna Arin sudah tidur dan mengunci pintu kamarnya" Mama Kanya mendahului Arsya


Arsya perlahan membaringkan tubuh Cindy di atas tempat tidur dengan hati-hati sesuai arahan Mama Kanya. Cindy benar-benar tidak terbangun. Meskipun ia sempat bergerak, namun ia tidak berniat untuk membuka kedua bola matanya


"Sepertinya dia kelelahan" Mama Kanya mengusap kepala Cindy dengan lembut "Bi Imah bilang, dia ngga pernah tidur nyenyak setelah orangtuanya meninggal. Dia akan bangun di tengah malam dan menangis sendirian. Bi Imah tau, tapi Bi Imah pura-pura ngga tau supaya paginya Cindy masih bisa tetap ceria" lanjutnya dengan suara yang mengiba


Arsya menundukkan pandangannya. Meskipun ia masih tetap kasar pada gadis itu, namun jauh di lubuk hatinya, ia benar-benar menyesal telah menghilangkan nyawa kedua orangtua gadis itu tanpa sengaja


"Nak" Mama Kanya mendongak ke arah Arsya dan memegang tangan putranya "Tolong kamu jaga Cindy. Meskipun dia sudah memaafkan kesalahanmu, tapi dia tetap menjadi tanggung jawab kita sekarang. Dia sendirian. Melewati rasa sakitnya sendirian. Mama mungkin ngga tau bagaimana perasaan dia selama ini. Tapi Mama tau dia merasa kesepian. Dia gadis yang baik" pintanya pada putra semata wayangnya


Arsya mengangguk "Ia Ma. Mama tenang aja. Aku akan pantau dia selama di kampus. Aku tau Ma, aku salah. Dan aku merasa lebih bersalah karna dia memaafkan aku tanpa tuntutan" ia menggenggam kuat-kuat tangan Mamanya


Mama Kanya tersenyum bangga penuh haru "Mama percaya sama kamu nak. Ayo kita keluar. Biarkan dia sendiri dan tidur dengan tenang. Semoga saja malam ini dia tidak terbangun karna mengingat orangtuanya" ajaknya keluar dari kamar


***


Mata Cindy terbuka perlahan. Ia meraba-raba sesuatu di sampingnya namun tidak menemukannya. Keningnya berkerut. Ia mencoba kembali meraba ke meja, namun yang ia dapati hanya sebuah jam kecil yang menunjukkan pukul 7 pagi setelah matanya perlahan terbuka walau belum sepenuhnya


Perlahan ia mengamati kamar tersebut dengan mata setengah terpejam. Kemudian membulat sempurna ketika ia yakin ia tidak berada di kamarnya. Ia langsung bangkit dan mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut kamar tersebut


"Dimana gue? Kenapa? Kenapa gue bisa ada disini?" paniknya dengan memegang kepala hingga pandangannya turun ke tubuhnya, ia menghela napas setelah pakaiannya masih terlihat lengkap


"Hp? Hp gue mana?" ia mencari-cari ponselnya. Ia menemukan tasnya di sudut tempat tidur. Dengan cepat merogoh ponselnya


Tiba-tiba pintu kamar terbuka perlahan membuat Cindy gemetar dan menelan paksa salivanya. Ia meringsut ke belakang karna begitu takut. Apakah ia sedang diculik saat ini? Tapi bagaimana bisa? Bukannya semalam ia sedang bersama Arsya? Oh, Arsya? Dimana lelaki itu sekarang? pikiran Cindy berkelana kemana-mana


Wanita paru baya tersenyum hangat pada Cindy setelah masuk ke dalam kamar "Non sudah bangun?" ucapnya dengan penuh kelembutan

__ADS_1


Cindy hanya tersenyum hambar, tidak tau harus merespon apa "Ayo Non ke bawah sarapan bersama Bapak dan Ibu"


Cindy mengerutkan keningnya. Namun ia mengangguk. Ia tetap meraih tasnya dan mengikuti wanita paru baya itu yang sepertinya bekerja sebagai ART. Cindy dengan ragu-ragu melangkahkan kakinya turun dan mendapati wajah yang tidak asing sedang berkumpul di meja makan


Arin memutar malas bola matanya ketika Cindy semakin mendekat. Sedangkan senyuman tulus terbit dari wajah Mama Kanya serta Papa Rasyad. Dan nampak wajah Arsya terlihat datar-datar saja


"Ayo duduk dulu. Kita sarapan bersama" seru Mama Kanya yang mempersilakan Cindy duduk diantara dirinya dan Arsya hingga membuat pria itu menggeser sedikit kursinya


"Ayo nak duduk" cetus Papa Rasyad yang juga terlihat senang ada Cindy disana


"Apa-apaan sih semua orang jadi perhatian ke dia? Ngga jelas banget" batin Arin yang menatap tidak suka pada Cindy


Cindy menggigit bibirnya. Ragu-ragu ingin bertanya namun Mama Kanya sepertinya tau "Sarapan dulu nak. Setelah ini akan Tante ceritakan kenapa kamu bisa ada disini"


Cindy sedikit tersentak namun memaksakan senyumnya lalu mengangguk "Ia Tante. Terima kasih" ucapnya dengan begitu sopan


Sarapan pagi itu terasa berbeda kali ini. Mama Kanya yang paling terlihat senang disana. Ia seperti punya satu anak putra, dan dua putri. Di tengah-tengah sarapan mereka, ada yang membunyikan bel pintu.


"Bi, tolong buka pintunya. Di depan ada tamu" teriak Mama Kanya


"Ia Bu" wanita paru baya yang tadi memanggil Cindy pun buru-buru keluar, beberapa detik kemudian, wanita itu pun masuk dan diikuti oleh seorang wanita yang sebaya dengan Cindy dan Arin


"Oh, Kania?" Mama Kanya berdiri setelah gadis itu datang


"Pagi Tante. Maaf ya, ganggu sarapan kalian" gadis itu meminta maaf sebelumnya


"Ngga apa-apa. Ayo duduk ikut sarapan" sahut Papa Rasyad


Tentu saja hal itu membuat gadis bernama Kania senang. Gadis itu adalah sepupu Arsya dan Arin yang rumahnya tidak jauh dari rumah Mama Kanya. Hanya berkisar seratus meter. Arin memutar malas bola matanya


"Benar-benar pengganggu"


Kania langsung mengambil posisi di dekat Arsya. Papa dan Mama Arsya hanya menggeleng tersenyum dengan tingkah keponakannya itu yang memang menyukai putra mereka sejak masih remaja. Namun Arsya? tentu saja ia enggan. Bahkan selalu risih dengannya


Arsya menggeser kembali kursinya ke dekat Cindy, namun ketika matanya bersitatap dengan gadis itu, ia pun berniat kembali, namun melihat Kania yang tersenyum lebar padanya, membuatnya merasa risih hingga ia lebih memilih untuk berdekatan dengan Cindy yang setidaknya, tidak akan berbicara padanya, daripada harus mendengarkan ocehan panjang lebar sepupunya yang membuatnya ingin kabur saat itu juga


Kania terlihat cemberut ketika melihat Arsya begitu dengan gadis di sebelahnya yang tidak ia ketahui "Siapa dia?" tunjuknya pada Cindy


"Oh. Dia ini Cindy" jawab Mama Kanya


"Kok dia bisa ada disini?" Kania menatap tidak suka pada Cindy


"Niat lo kesini apa? Ngga usah banyak omong" cercah Arsya hingga membuat Kania terdiam


"Ayo sarapan" seru Papa Rasyad


"Nih cewek siapa sih? Kok Kak Arsya mau dekat-dekat sama dia? Apa jangan-jangan ............ "


Kania menatap Arin dan memberi kode 'Siapa gadis itu?'. Arin yang juga Tidak terlalu menyukai sepupunya itu pun berniat mengerjainya, ia mengucap kata 'Pacarnya Kars' tanpa suara hingga membuat Kania membulatkan kedua matanya dan langsung berdiri hingga membuat kursinya terjatuh


"Apa?" teriak Kania dan membuat yang lainnya menatap terkejut padanya


...TERIMA KASIH YANG MASIH STAY DISINI. LOPE SEKEBON FOR U ALL 🌹🌹🌹...

__ADS_1


__ADS_2