
"Apa-apaan sih? Jangan kurang ajar Lo ya!" Cindy mengusap kasar dagunya lalu berdiri dengan garang dan membuat teman-teman perempuan lainnya ikut berdiri
Laki-laki itu tertawa "Ngga usah sok jual mahal. Lo datang kesini aja pasti udah sering ngenakin Om-Om kan?" kembali ia mencolek dagu Cindy
Satu pukulan tepat mengenai wajah laki-laki itu hingga membuatnya terjatuh ke lantai dan membuat Cindy terkejut
"Kak Arsya...."
Lutut Cindy serasa kaku. Ingin rasanya ia menarik tangan Arsya namun tidak bisa bergeming dari tempatnya
Laki-laki yang dipukul oleh Arsya pun menyeka sudut bibirnya yang mengeluarkan sedikit darah segar. Ia melihat Arsya lalu bangkit
"Siapa Lo? Beraninya Lo mukul gue"
Arsya menyeringai tipis "Pecundang kayak Lo, memang pantasnya dipukul" ucapnya dengan menantang
"Sialan Lo" laki-laki tersebut melayangkan tinju kepada Arsya namun berhasil ditangkisnya
Cindy dan 3 perempuan lainnya berteriak. Bahkan beberapa pengunjung pun hanya melihat keributan tersebut tanpa berniat melerai
"Sya, udah Sya!" Kenta berusaha menghalau tinjuan Arsya
"Ngga bisa Ken. Dia harus diberi pelajaran" darah Arsya seperti mendidih dibuatnya
Perkelahian keduanya pun kembali berlangsung. Tidak tinggal diam, teman-teman Arsya lainnya berusaha menghalangi keduanya hingga satpam datang melerai
"Kalau kalian cuma buat keributan, lebih baik kalian keluar dari sini"
Akhirnya mereka semua keluar dari Club tersebut. Ketiga perempuan lainnya memegang bahu Cindy dan membantunya berjalan. Sepertinya wanita itu masih shock dibuatnya
"Lo tunggu pembalasan gue!" laki-laki itu berucap sambil menunjuk Arsya lalu berlalu dari sana
Cindy menelan salivanya mendengar ancaman tersebut. Sedangkan Arsya tampak santai saja bahkan balik menantang
"Gue siap tunggu Lo"
Cindy masih mematung di tempatnya. Bahkan sekujur tubuhnya susah untuk ia gerakkan
"Cindy? Lo ngga apa-apa?" Karina memegang bahu Cindy
Cindy menelan salivanya lalu menoleh ke arah Karina. Mengangguk kaku untuk membuat wanita itu tidak khawatir padanya
"Sebaiknya Lo bawa pulang Cindy sekarang. Gue yakin dia pasti shock" Kenta menepuk-nepuk bahu Arsya
"Ia. Kasian Cindy Sya. Sebaiknya Lo bawa dia pulang sekarang" timpal Erlan
"Cindy pasti trauma. Udah pertama kalinya ke tempat ini, malah dapat perlakuan ngga baik" Jendris mendekati Cindy yang masih terdiam
"Ayo pulang" ajak Arsya hingga membuat Cindy menoleh padanya dengan tatapan kosong
"Ayo" ajak kembali Arsya, namun kali ini ia menarik tangan wanita itu "Gue duluan yah" pamitnya pada yang lain
"Hati-hati bro"
Arsya membawa Cindy ke parkiran. Setelah menemukan mobilnya, ia membukakan pintu untuk Cindy. Setelahnya ia membawa wanita itu pulang. Teman-teman yang lainnya kembali masuk ke dalam Club
Sepanjang jalan, Cindy diam saja. Menatap ke luar jendela dengan tatapan kosong. Arsya mencuri-curi pandang pada wanita itu yang diam saja sejak kejadian tadi di Club
Bahkan saat sampai di rumah, Cindy turun lebih dulu, tanpa menunggu Arsya ia masuk ke dalam rumah. Beruntung Bi Imah tidak menampakkan diri, jadi ia langsung naik ke kamarnya
__ADS_1
Saat Arsya masuk ke dalam kamar, ia sudah melihat Cindy berbaring membelakanginya. Menghadap ke arah Jendela
Arsya membuka jaketnya dan menggantungnya di belakang pintu. Lalu meletakkan kunci mobilnya di atas meja. Ia ingin menyentuh Cindy namun diurungkan mengingat wanita itu sepertinya masih shock
Arsya pun ikut membaringkan tubuhnya di samping Cindy. Sejenak memperhatikan punggung wanita itu sebelum akhirnya ia ikut membelakanginya
Setelah beberapa jam, Cindy membuka kedua matanya. Membalikkan setengah badannya dan mendapati laki-laki di sampingnya itu sudah tertidur. Ia bangkit dari tempat tidur menuju jendela
Bayangan laki-laki di Club tadi masih menyita pikirannya. Terlebih saat laki-laki asing itu mengancam Arsya untuk membalas dendam. Sekejap bayangan menyakitkan itu menari di kepalanya hingga membuat air matanya mengalir deras
Arsya yang sudah tertidur, terbangun karna mendengar suara tangisan yang tertahan. Membalikkan tubuhnya namun tak mendapati Cindy disana. Perhatiannya langsung tersita dengan sosok yang berdiri menghadap keluar jendela
"Cindy?" Arsya menghampiri wanita itu
Cindy yang terkejut buru-buru menghapus air matanya. Namun Arsya sudah tau jika wanita itu sedang menangis. Cindy membalikkan tubuhnya menghadap Arsya
"Kamu kenapa bangun?" suara parau Cindy terdengar memecah kuping Arsya
"Lo sendiri ngapain bangun?" Arsya balik bertanya
Cindy menggeleng "Aku ganggu tidur kamu ya?" setengah mati ia berusaha menatap mata milik Arsya
Arsya pun mengangguk "Ngapain tengah malam nangis?"
Cindy menunduk. Tidak berani menjawab pertanyaan Arsya. Tidak mungkin ia jujur. Yang ada akan membuat laki-laki itu khawatir padanya
"Butuh pelukan?" tawaran Arsya sukses membuat Cindy mendongak
Cindy tidak menjawab. Hanya air matanya yang kembali mengalir. Arsya yang paham hanya menarik tubuh wanita itu masuk ke dalam pelukannya
"Jangan dipendam. Kalau mau nangis, nangis aja"
Seketika tangisan Cindy yang tertahan sejak tadi akhirnya ia keluarkan. Rasanya dadanya begitu sesak karna harus menahan rasa sakit itu sendirian. Ia melingkarkan kedua tangannya ke punggung Arsya dengan tangisan yang pilu
"Udah cukup tenang?"
Cindy mengangguk. Keduanya duduk di tepi tempat tidur setelah cukup lama berdiri di depan jendela
"Sekarang jelasin. Apa yang Lo pikirin sekarang?" tanya Arsya dengan lembut sambil memegang tangan Cindy
Sedikit ragu, Cindy menggigit bibir bawahnya. Tidak tau harus memulai dari mana ia harus bercerita
"Cindy?" panggil Arsya kembali
Cindy menghela napas lalu menghembuskannya "Aku ngga tau harus mulai dari mana" jawabnya dengan lemah
"Pelan-pelan aja"
Cindy berpikir sejenak "Kamu ngga takut sama ancaman orang tadi?" tanyanya dengan hati-hati
Kening Arsya berkerut "Orang yang mana?"
"Yang di Club tadi" jawab Cindy dengan menunduk
Arsya memiringkan bibirnya "Lo nangis cuma mikirin perkataan pecundang tadi itu? Ngga penting"
"Itu menurut kamu. Tapi menurut aku itu penting" Cindy menatap Arsya dengan wajah sendu
"Ngga usah mikirin itu. Dia ngga akan berani datangin gue"
__ADS_1
"Tapi gimana kalau beneran dia datang lagi?" Cindy menoleh ke arah Arsya dengan cemas
"Tenang aja. Kalau dia datang lagi, biar gue yang hadepin dia" Arsya berusaha menenangkan Cindy
"Bukan itu masalahnya kak. Gimana kalau sampai kamu kenapa-kenapa? Kalau sampai dia datang nyari masalah lagi? Mukulin kamu lagi gimana?"
Wajah Cindy begitu cemas di mata Arsya hingga membuatnya harus mencari alasan lain untuk tidak semakin membuatnya khawatir
"Dia ngga akan berani. Serius. Kalaupun dia berani datang, gue jamin dia ngga akan berani gangguin Lo"
Mata Cindy kembali mengeluarkan butiran kristal miliknya "Aku ngga cuma mikirin diri aku sendiri. Tapi aku juga mikirin kamu! Gimana kalau sampai dia balas dendam dan ... Dan.... Dan dia berbuat jahat ke kamu"
"Itu ngga akan terjadi"
"Semua hal bisa aja terjadi. Mami Papi aku juga janji ngga akan ninggalin aku. Tapi pada akhirnya mereka tetap ninggalin aku. Semua hal bisa terjadi kak. Ngga ada yang ngga mungkin"
Arsya terdiam mendengar penuturan Cindy. Air mata wanita itu semakin deras mengalir di pipinya. Arsya pun menuntun wanita itu untuk bersandar di pundaknya
"Aku ngga mau itu sampai terjadi. Saat ini aku cuma punya kamu disini. Aku ngga mau kamu sampai kenapa-kenapa. Kamu punya musuh sekarang cuma karna ngebelain aku. Aku ngga mau kamu bernasib sama kayak Mami Papi. Aku belum siap untuk semuanya. Aku belum siap untuk ditinggalkan kedua kalinya"
Arsya semakin terdiam mendengar racuan Cindy. Ia tidak menyangka jika Cindy ternyata serapuh itu. Bahkan ia lebih tidak menyangka jika wanita itu ternyata takut kehilangan dirinya, yang padahal hanya selalu membuat dirinya tersiksa dengan ucapannya
"Aku belum siap untuk menerima semuanya kembali kak" racuan Cindy semakin terdengar pilu
Arsya mengangguk "Gue janji, ngga akan ninggalin Lo. Jangan khawatir. Gue akan tetap disini sampai kapanpun"
Cindy bangun dan menoleh ke arah Arsya "Janji?"
Arsya kembali mengangguk "Janji. Udah, jangan nangis lagi" ia menghapus air mata Cindy "Sekarang ayo tidur"
Cindy menggeleng "Aku ngga bisa tidur"
"Bisa! Ayo" Arsya sedikit memaksa
"Beneran Kak. Aku ngga bisa tidur. Kamu duluan aja"
"Ngga. Ayo cepat" dengan paksaan, Arsya membaringkan tubuh Cindy lalu menyelimutinya "Sekarang tutup mata"
Cindy menggeleng "Ngga ada bantahan" Arsya pun ikut membaringkan tubuhnya dan memegang tangan Cindy "Sekarang cepat tidur"
Cindy menghela napas "Aku ngga akan kabur"
Arsya menggeleng "Ngga yakin. Cepat tutup mata"
"Beneran Kak. Aku susah tidur kalau udah kayak gini" Cindy hampir frustasi menjelaskannya
"Terus maunya gimana? Peluk?" tawar Arsya yang hanya main-main
Cindy diam dan mencebikkan bibirnya. Namun tanpa disangka Arsya malah menarik tangannya hingga masuk ke dalam pelukannya
"Sekarang sudah bisa tidur kan?"
Cindy yang terkejut membulatkan kedua matanya "Aku bisa tidur sendiri kak" ia berusaha melepaskan diri
"Ngga. Sekarang cepat tidur. Mau ngebantah perkataan suami?" ia menatap wajah Cindy
Cindy menggeleng "Ya udah. Aku tidur" ia mengalah dan meringsut meletakkan kepalanya di dada milik Arsya
Tak butuh waktu lama. Cindy benar-benar sudah terlelap. Arsya menoleh ke bawah dan mendapati Cindy sudah tertidur dengan nyenyak. Ia mengelus pipi wanita itu
__ADS_1
"Gue janji ngga akan ninggalin Lo"
......TERIMA KASIH ATAS PENANTIANNYA. JANGAN LUPA LIKE DAN KOMENNYA YAH 😍😍😍......