Rindu Dan Harga Diri

Rindu Dan Harga Diri
Perkara lagu


__ADS_3

Cindy merebahkan tubuhnya di atas kasur setelah keluarga Arsya sudah pulang. Ia berguling kesana dan kemari untuk mencari alasan agar besok tidak perlu di jemput oleh Arsya


"Apa gue telpon Kak Jendris aja minta nomornya Kak Arsya?"


Cindy pun meraih ponselnya di atas nakas "Tapi kalau Kak Jendris nanya-nanya gimana? Aaaaaaahhhhh, kenapa jadi gini sih?"


Cindy melupakan perkara merindukan orangtuanya yang sejak tadi membuatnya mengurung diri di kamar. Karna lelah berpikir, Cindy terlelap dengan sendirinya


***


Tok tok tok


"Neng?" suara Bi Imah tengah mengetuk pintu kamar Cindy


Cindy yang terkejut langsung terbangun. Menguap dan meraih ponselnya yang menunjukkan pukul setengah 6 pagi. Kedua bola matanya membulat sempurna. Ia mengingat, kegiatan Fakultasnya akan dimulai pukul 7 pagi. Namun mereka semua harus datang sebelum jam 7


"Neng sudah bangun?" kembali terdengar suara Bi Imah mengetuk pintu


"Ia Bi. Aku mandi dulu" Cindy berteriak dan langsung lari ke kamar mandi


Sementara di luar kamar Bi Imah hanya menggelengkan kepalanya dengan tersenyum. Ia kembali menuruni tangga dan menemui Arsya yang ternyata sudah ada disana


"Tunggu sebentar ya Mas? Neng sedang mandi"


Arsya hanya mengangguk tanpa ekspresi "Menyusahkan"


Setelah beberapa menit menunggu. Terdengar suara langkah yang tergesa-gesa menuruni tangga. Ternyata Cindy sedang berlari kecil menuruni tangga tersebut dengan menentang tas miliknya


"Bi Imah? Aku mau berangkat" Cindy berteriak menoleh ke arah dapur tanpa memperhatikan orang yang sedang duduk menatapnya


Bi Imah pun tergesa-gesa keluar dari dapur membawa bekal makanan "Ia Neng. Ini bekalnya. Hati-hati di jalan Neng" ia menyerahkan bekal tersebut


"Makasih ya Bi. Aku buru-buru. Nanti telat" Cindy memasukkan bekal tersebut ke tasnya "Dimana kunci mobilku?" ia meraba-raba tasnya mencari kunci mobil


"Kunci mobil? Untuk apa Neng?"


"Ya untuk aku pakelah Bi. Masa aku harus naik taksi?" Cindy terus mencari kunci mobilnya dan belum menyadari Arsya disana


Bi Imah tersenyum lalu menoleh ke arah Arsya "Neng? Untuk apa cari kunci mobil? Mas itu dari tadi nunggu Neng" ucapan Bi Imah membuat Cindy tersentak dan mengikuti arah pandangan Bi Imah


Kedua bola mata Cindy membulat sempurna dan nyaris terjatuh ke belakang karna terkejut "Kak...... Kak Arsya?"


Arsya pun berdiri dengan tatapan yang masih sama pada yang selalu Cindy rasakan "Gue disuruh Papa gue jemput lo"


Cindy menelan kuat salivanya "Hmmm. Ia"

__ADS_1


"Ayo Neng berangkat. Mas ini sudah dari tadi menunggu" Bi Imah membuat keduanya tersadar


Arsya tanpa berkata keluar dari rumah terlebih dahulu "Hmm. Bi, aku pamit ya?" pamit Cindy


"Ayo Neng Bibi antar keluar" Bi Imah memegang tangan majikan yang sudah ia anggap anaknya itu


Cindy benar-benar bingung dan tidak tau harus melakukan apa. Bi Imah pun membukakan pintu mobil untuk Cindy setelah Arsya sudah berada di dalam mobil itu "Ayo Neng"


Cindy dengan ragu-ragu masuk "Terima kasih Bi. Cindy berangkat dulu" ia memeluk sejenak Bi Imah lalu masuk ke dalam mobil


"Hati-hati bawa mobilnya ya Mas?"


Arsya hanya mengangguk. Bi Imah pun menutup pintu mobil tersebut dan melambaikan tangan setelah mobil milik Arsya bergerak pelan keluar dari area parkiran dan melaju ke kampus mereka


Selama perjalanan. Cindy maupun Arsya tidak berbicara sedikit pun. Arsya fokus menyetir dan Cindy pun hanya fokus menatap ke depan, dan sesekali melihat keluar jendela


Arsya tiba-tiba menginjak rem karna lampu lalu lintas berwarna merah dan membuat Cindy tersentak yang tadi menatap keluar jendela. Ia menoleh ke depan dan terdiam. Padahal tadinya ia ingin bertanya kenapa Arsya tiba-tiba menghentikan mobilnya. Ia menghela napas lalu menyandarkan punggungnya


Arsya melirik ke arah Cindy. Ia mengarahkan tangannya untuk menyetel musik dan Cindy pun melihatnya. Setidaknya itu bisa mengurangi aura kecanggungan diantara keduanya. Terdengar lagu Night Changes milik One Direction


Cindy menyukai lagu itu. Bahkan ia menghapal liriknya dan mengikutinya tanpa bersuara. Setelah lampu berwarna hijau, Arsya menginjak pedal gas dan kembali melaju


Lagu demi lagu terus mengalung, dan semuanya adalah lagu-lagu yang disukai oleh Cindy. Hingga tiba pada lagu My Love dari Westlife membuat Cindy tertegun. Lirik demi lirik membuatnya mendesah dan menggigit bibir. Ia menatap ke arah Arsya


"Apa lagunya bisa diganti?"


Cindy lagi-lagi mendesah. Ia mengalihkan pandangannya keluar jendela dan memejamkan matanya. Berusaha menahan air matanya untuk tidak tumpah. Perkara lagu, ia kembali mengingat kedua orangtuanya


"Mami...... Papi"


Arsya melirik ke arah Cindy yang tiba-tiba diam. Padahal tadinya gadis itu tampak baik-baik saja mendengarkan lagu-lagu yang sudah terputar selama perjalanan. Setelah sampai di area parkiran, Cindy sejenak menarik napas sebelum akhirnya membuka pintu


"Nanti malam tunggu gue di mobil" perkataan Arsya membuat Cindy mengurungkan niatnya "Kenapa?" tanyanya dengan menoleh ke arah Arsya


Arsya langsung menatapnya dengan tajam hingga membuatnya takut "Hmmm, kalau gue... Hmmm, aku.... nunggu disini? Nanti orang-orang liat" ia meralat panggilannya. Bagaimanapun, Arsya adalah seniornya


"Ngga usah banyak bicara" pungkas Arsya hingga membuat Cindy mendesah


"Terima kasih tumpangannya" ucap Cindy dengan ketus sambil memalingkan wajahnya dan hendak turun namun ia melihat Jeffri dan beberapa teman sekelasnya yang baru saja memarkirkan kendaraannya di sebelahnya. Sontak saja ia kembali menutup pintu hingga membuat Arsya bingung


"Kenapa lo masih disini?" bentaknya


"Tunggu sebentar Kak. Sampai teman-temanku masuk duluan" Cindy memohon pada Arsya


Arsya memicingkan matanya dan melihat Jeffri bersama beberapa anak tim STW sedang berada di luar mobil sambil bercakap. Setelah mereka masuk, Cindy menghela napas lega "Terima kasih" ia buru-buru keluar dari mobil setelah merasa aman

__ADS_1


"Bisanya nyusahin orang" gerutu Arsya yang membatin


Cindy berjalan pelan di belakang Jeffri agar tidak ketahuan. Namun Jeffri berhenti sejenak dan menoleh ke belakang. Ia melihat Cindy disana "Cindy?" ia bisa mengenali gadis itu dari aroma tubuhnya yang khas serta bau parfum nya yang tidak pernah berubah sejak SMA


Cindy menyengir "Pagi Jeff" sapanya


Jeffri tersenyum lalu menghampiri Cindy "Pagi. Gimana keadaan lo?"


Cindy mengangguk-angguk "Baik. Coklat gue?" ia menengadah tangannya


Jeffri sangat senang melihat tingkah Cindy yang sudah kembali ceria dan mengusap kepalanya "Ini" ia menyerahkan sebungkus coklat setelah meraihnya dari sakunya


Garis bibir Cindy membentuk senyuman setelah menerima coklat itu "Terima Kasih" ucapnya dengan memiringkan kepalanya


"Sama-sama" mata Jeffri tertuju pada Arsya yang melewati mereka begitu saja bahkan Cindy pun ikut menoleh


"Semakin gue liat dia, semakin gue benci" ucapan Jeffri benar-benar terlihat kebencian di sana


"Jeff?" Cindy memegang lengan Jeffri "Bahkan gue aja udah maafin dia. Ini semua sudah takdir yang harus gue jalani"


Jeffri menatap iba sekaligus takjub pada Cindy "Ini yang buat gue makin suka sama lo"


"Jeff" Cindy menyiku perut Jeffri "Ayo. Nanti kita telat"


***


Kegiatan yang diadakan oleh Fakultas Teknik sangat ramai pengunjung dari Fakultas lain. Mereka mengadakan acara penggalangan dana dengan membuat sebuat bazaar besar-besaran. Bahkan disuguhi dengan beberapa penampilan band, penyanyi solo, dance dan beberapa penampilan lainnya di hari libur


Hingga sore hari, Cindy tampak kewalahan dan duduk sejenak. Dita yang masih meladeni pengunjung memberikan sebotol minuman kepada Cindy dan kembali meladeni beberapa pengunjung


Setelah meneguk air dalam botol tersebut, Cindy menselonjorkan kakinya karna merasa lelah berdiri. Tiba-tiba sebuah tangan mengguncang bahu Cindy dengan keras


"Heh? Enak banget lo ya? Bisa-bisanya lo duduk santai disini sementara yang lain kerja?" ternyata Felly mendatangi Cindy setelah melihat juniornya tengah duduk hingga membuat beberapa orang menoleh padanya


"Dia baru aja duduk. Biarin dia duduk dulu. Dia juga butuh istirahat" Dita datang dan membela Cindy yang berdiri


"Dita" Cindy menegur Dita


"Heh? Siapa lo berani ngomong itu ke gue?" Felly menjadi murka


"Apa yang salah dari istirahat sebentar? Kalau teman gue pingsan, apa lo mau tanggung jawab? Ngga kan?" Dita balik menantang


"Berani lo sama gue?" Felly berteriak hingga membuat beberapa orang berkumpul disana. Ia melayangkan tangannya dan hendak menampar Dita


Namun Cindy menahannya dengan cepat "Jangan sakiti teman gue" ucapnya dengan penuh penekanan "Lo bisa ngomong baik-baik dan nyuruh gue untuk kembali kerja. Tapi lo ngga perlu lo marah-marah" sifat manis polosnya telah menghilang jika itu berhubungan dengan temannya yang sedang diinjak-injak harga dirinya oleh orang lain

__ADS_1


Felly menepis tangannya "Kalian berdua benar-benar nantangin gue ya?" ia tidak terima dan sekali lagi hendak melayangkan tamparan ke wajah Cindy


Arsya datang dan menepis tangan Felly karna tidak ingin menyentuhnya dengan lama "Berhenti berbuat ulah"


__ADS_2