
"Terus apa? Ngebujuk dia buat apa? Ingat! Lo udah nikah. Ngga usah ngasih dia harapan lagi"
Ucapan Dita barusan membuat Cindy tersadar akan statusnya saat ini yang sudah berbeda. Dita menarik tangan Cindy untuk kembali duduk
"Udahlah. Ngga usah nyusul-nyusulin lagi. Ntar kalau Kak Arsya sampai liat Lo berduaan sama Jeffri, gue yakin kalian bakal ribut"
Cindy menimbang-nimbang kembali perkataan Dita. Memang ada benarnya juga. Bisa-bisa Jeffri akan berpikir semakin diberi harapan. Dan dia sendiri akan ribut dengan Arsya lagi padahal baru kemarin mereka berbaikan
"Oh ia. Jadi gimana malam pertama Lo sama Kak Arsya? Cerita dong?!" Dita dengan antusias menghadap ke arah Cindy namun dengan suara yang pelan
Cindy seketika membulatkan kedua matanya dan mengedarkan pandangannya takut teman-temannya yang lain mendengar pertanyaan konyol sahabatnya itu
"Bisa ngga bicara Lo itu dikontrol dulu?" ketus Cindy yang merenggut kesal
Dita pun terkekeh "Namanya juga penasaran. Jadi gimana?" Ia masih penasaran dan menaik turunkan alisnya
Cindy memutar malas bola matanya "Ya ngga gimana-gimanalah"
"Alah. Alasan. Lo pasti...." sejenak Dita berhenti dan mendekatkan bibirnya ke telinga "Udah peluk-pelukan kan?"
Cindy benar-benar terkejut dengan perkataan Dita dan langsung mendorong tubuh sahabatnya itu "Jangan ngomong sembarangan Lo"
Dita pun langsung menghamburkan tawanya yang membuat seisi ruangan tersebut menatap ke arah mereka
"Sorry guys" Cindy mengacungkan jari telunjuk dan tengah jarinya dengan kikuk "Diam ih" ia menutup mulut Dita yang masih tertawa "Lama-lama gue sumpel mulut Lo pakai kaos kaki gue yah!" ancamnya
Seketika Dita mengulum bibirnya "Ia ia. Nih gue dah berhenti. Ngga bisa diajak bercanda banget sih" ketusnya
"Bercanda sih bercanda. Tapi jangan keterlaluan lah" Cindy mencebikkan bibirnya
"Cieee ngambek sih yang udah ngga jomblo lagi" ledek Dita yang menyenggol bahu Cindy
Cindy diam saja dengan bibir yang terus dimanyungkan ke depan. Benar-benar tidak habis pikir dengan sahabatnya itu
***
Cindy melirik Arsya yang tengah merapikan pakaiannya di depan cermin malam itu. Ia ingin bertanya namun diurungkan karna perjanjian yang sudah mereka sepakati sebelumnya. Tidak saling mencampuri urusan masing-masing
Cindy duduk di tepi tempat tidur sambil memainkan ponselnya. Arsya pun meraih kunci mobilnya di atas meja samping Cindy berada
"Gue keluar dulu" Cindy seketika mendongak mendengar Arsya berbicara padanya
"Mau kemana?" refleks Cindy pun bertanya
"Nongkrong bareng teman" Arsya masih berdiri di tempatnya
Cindy mengangguk-angguk mengerti dan mengembungkan pipinya
"Kenapa?" Arsya memperhatikan wajah Cindy
Cindy mendongak kembali lalu menggeleng "Ngga apa-apa. Ya udah berangkat aja. Nanti telat lagi"
Arsya menaikkan sebelah alisnya "Ini cuma nongkrong biasa. Ngapain takut telat"
Cindy menyengir "Ia ia aku tau"
"Mau ikut ngga?" tawar Arsya
Mata Cindy berbinar dan langsung mengangguk sempurna "Di rumah bosan juga sih"
"Ya udah. Cepat siap-siap. Gue tunggu di mobil" Arsya berlalu setelah mengucapkannya
Cindy dengan cepat mengganti pakaiannya. Berdandan senatural mungkin. Hanya memoles sedikit bedak dan lipstik lalu meraih tasnya dan cepat-cepat turun agar Arsya tidak lama menunggu dirinya
"Sudah. Ayo" Cindy begitu semangat karna akan keluar menghirup udara segar kembali
__ADS_1
Arsya memperhatikan sejenak wajah Cindy "Dandan cantik gini mau kemana emang?"
Cindy sedikit terkejut "Apa Kak? Dandan cantik gini? Itu barusan muji?" senyumnya mengembang
Arsya memalingkan wajahnya "Udahlah" ucapnya dengan malas lalu menancapkan gasnya membelah jalanan
Cindy tersenyum mengejek "Padahal jujur aja tuh kenapa sih? Orang aku emang cantik kok dari dulu" bangganya
Arsya menghela napas lalu menggelengkan kepalanya "Ngga nyangka ternyata Lo narsis juga"
Cindy langsung tertawa mendengarnya "Ngga apa-apa kali kalau mau muji istri sendiri? Itu dapat pahala lho. Daripada ngehina-hina istri? Dapatnya ya dosa"
Arsya melirik sejenak lalu kembali menggelengkan kepalanya "Sampai disana hati-hati. Banyak orang"
Cindy menoleh "Memangnya dimana?"
Arsya tidak menjawab. Ia hanya menoleh ke arah Cindy sejenak lalu kembali memalingkan wajahnya ke depan dan kembali fokus mengemudi
Cindy tidak bertanya lagi. Ia memilih menikmati saja pemandangan sepanjang jalan itu. Menikmati alunan musik yang membuat kepalanya ikut bergerak kesana-kemari
Arsya memarkirkan mobilnya setelah sampai di tempat tujuan "Ayo turun" ajaknya pada Cindy
Cindy langsung turun dari mobil. Mengedarkan pandangannya ke sekeliling tempat itu. Ia pertama kalinya datang ke tempat seperti itu
"Ini tempat apa sih kak?" Cindy mengerutkan keningnya
"Lo belum pernah kesini?" Arsya menaikkan sebelah alisnya
Cindy menggeleng dengan wajah polosnya hingga membuat Arsya menggaruk pelipisnya sejenak. Ia menyadari wanita di depannya ini bukan wanita yang sering nongkrong di tempat-tempat seperti itu
"Ayo masuk" ajak Arsya dan Cindy mengekorinya
Suara dentuman musik yang cukup keras menyambut keduanya. Bahkan lampu berwarna-warni menyilaukan mata Cindy
Arsya melambatkan jalannya dan menoleh ke belakang. Ia melihat Cindy mengerutkan keningnya yang terus melihat sekelilingnya
"Ayo" Arsya menarik tangan Cindy karna tau wanita itu sepertinya tidak nyaman berada di tempat tersebut
Cindy pun mengangguk walau ragu. Untuk pertama kalinya dirinya berada di tengah-tengah orang berjoget dibawah kelap-kelip lampu dengan pakaian yang serba minim bagi wanita
"Datang juga Lo bro" Erlan merangkul bahu Arsya saat keduanya sudah bertemu dengan teman-temannya "Bawa Cindy lagi?"
Arsya melirik ke arah Cindy yang tersenyum hambar "Duduk disini" ia menarik tangan Cindy untuk duduk di sampingnya yang terlihat agak takut berada di tempat tersebut
"Kak? Ini... Hmm... Tempat apa?" Cindy bertanya dengan ragu
Arsya diam sejenak. Menarik napas lalu menghembuskannya pelan "Sorry. Gue lupa kalau Lo ngga pernah ke tempat seperti ini"
Cindy mengatupkan bibirnya. Ia bingung dan tidak lagi bisa membalas perkataan Arsya. Sejujurnya otaknya saat ini bekerja sangat keras. Dirinya mulai memikirkan hal yang tidak-tidak mengingat banyaknya kejadian yang tidak menyenangkan bagi wanita saat berada di Club Malam
"Sya? Lo bawa Cindy kemari?" Kenta tiba-tiba datang dan menghampiri mereka
Arsya mengangguk "Lo gila?" Kenta menghardik Arsya
Bagaimanapun, Kenta tau jika Cindy bukan wanita yang biasa datang ke tempat-tempat seperti itu. Hal itu membuat Arsya menoleh ke arah Cindy yang tidak mengerti ucapan Kenta
"Gue lupa" hanya itu yang diucapkan Arsya
"Jaga dia baik-baik. Kalau Lo ngga mau liat dia kesasar di tempat ini" Kenta duduk di samping Cindy
Arsya mengangguk "Lo jangan kemana-mana ya? Kalau mau pergi bilang sama gue"
Cindy mengangguk "Aku ngga akan kemana-mana"
"Serius deh. Gue penasaran. Hubungan Arsya sama Cindy apa sih?" Erlan memperhatikan keduanya
__ADS_1
Arsya dan Cindy saling bersitatap sebelum akhirnya Arsya menyudahinya terlebih dahulu. Mereka enggan menjawab pertanyaan Erlan
"Udah jadian" Kenta menyahutinya hingga membuat yang lainnya menoleh padanya
"Jadian?"
"Serius Lo Ken?"
"Beneran? Arsya jadian sama Cindy?"
"Yang benar Lo Ken? Kalau ia, yang nembak duluan siapa? Secara kita semua tau. Arsya paling susah dekat sama cewek. Kalau Cindy, juga kayaknya bukan tipe cewek yang mudah dekat sama cowok" Erlan masih tidak percaya
"Itu ngga penting. Yang penting mereka berdua sekarang udah jadian" Kenta tidak mau memperpanjang lagi
Cindy menundukkan pandangannya. Sedangkan Arsya terlihat bodo amat dengan semua temannya yang masih penasaran
"Jendris belum datang?" Arsya mencari keberadaan Jendris
"Udah. Tadi izin ke toilet tuh anak" sahut Dika "Panjang umur. Tuh anaknya datang" ia menunjuk Jendris yang baru saja menuju ke arah mereka
"Lho? Cindy? Kok disini?" Jendris terkejut melihat Cindy ada disana. Pasalnya tempat itu tidak cocok dengan wanita itu
Cindy diam tidak menjawab "Wah, pasti Lo yah Sya yang bawa Cindy kemari? Gila Lo yah?"
Arsya menajamkan matanya "Dia sendiri yang pengen ikut" ketusnya
"Tapi tetap aja. Cindy ngga cocok ada di tempat ini. Duh, mantan calon bidadari gue bisa ternodai di tempat ini" Jendris memperhatikan wajah Cindy yang begitu cantik di matanya
Arsya langsung menendang kaki Jendris hingga membuat laki-laki itu mengaduh kesakitan "Kenapa sih Lo?" ketusnya
"Makanya jangan macam-macam sama pacar orang" cetus Dino yang membuat teman-teman lainnya tertawa
"Kak? Ini teman cewek-ceweknya ngga ada yang datang?" Cindy sejujurnya sedikit risih karena hanya dirinya wanita di meja itu
"Yang lain dimana?" Arsya bertanya pada Kenta
Kenta yang paham maksudnya pun memanggil teman-teman perempuannya untuk ikut bergabung bersama mereka
"Eh? Ada Cindy ternyata"
Cindy ingat wanita itu. Dia adalah Syila. Wanita yang semalam ikut bergabung dengan mereka saat berada di pembukaan kafe milik Kakaknya Erlan
"Ia kak" setidaknya Cindy sedikit lega
Cindy asik berbincang bersama perempuan lainnya yang diberi sedikit ruang oleh para lelaki untuk mengobrol bersama. Arsya tidak lepas memperhatikan Cindy pelan-pelan
Tiba-tiba seorang laki-laki datang menghampiri meja para perempuan itu hingga membuat Cindy mengerutkan keningnya
"Hay? Boleh gabung disini ngga?" tanya laki-laki tersebut
"Maaf. Tapi meja ini khusus perempuan" jawab Cindy dengan sopan
Laki-laki itupun tertawa "Tapi boleh gabung kan?" tanyanya lagi
"Gue kan udah bilang. Ini khusus tempat perempuan" Cindy kembali mempertegas dengan kesal
"Cantik-cantik kok galak sih" laki-laki itu mencolek dahi Cindy
Arsya langsung melewati Dika dan Erlan yang terkejut karna laki-laki itu menyambar kakinya tanpa pamit menghampiri meja para perempuan tersebut
"Apa-apaan sih? Jangan kurang ajar Lo ya!" Cindy mengusap kasar dagunya lalu berdiri dengan garang dan membuat teman-teman perempuan lainnya ikut berdiri
Laki-laki itu tertawa "Ngga usah sok jual mahal. Lo datang kesini aja pasti udah sering ngenakin Om-Om kan?" kembali ia mencolek dagu Cindy
Satu pukulan tepat mengenai wajah laki-laki itu hingga membuatnya terjatuh ke lantai dan membuat Cindy terkejut
__ADS_1
"Kak Arsya...."
......MOHON MAAF GUYS. BEBERAPA HARI LALU SEMPAT OPNAME AKU. JADINYA NGGA BISA NULIS DULU. OH IA, MINAL AIDZIN WAL FAIDZIN YAH BAGI YANG MERAYAKANNYA. ......