
"Tapi saran gue. Sekarang Lo harus lebih berhati-hati Sya. Ngga menutup kemungkinan mereka bakal datang nyerang Lo lagi" Erlan memegang bahu Arsya
Perkataan Erlan membuat Arsya terdiam dan menatap Cindy yang masih tampak shock setelah kejadian itu
"Apa perlu gue serang mereka duluan?"
Perkataan Arsya membuat yang lainnya menoleh dan terkejut. Bahkan Cindy sendiri tampak tidak percaya
"Jangan gila deh kak"
Cindy sudah mulai pusing memikirkan kejadian tadi. Beberapa kali ia memijit keningnya
"Lo butuh istirahat dulu ngga? Di dalam ada kamar kok. Lo bisa istirahat disana kalau Lo mau" Kenta tau Cindy tampak kelelahan
"Hmm?" Cindy menoleh ke arah Kenta dan tersenyum kikuk "Ngga apa-apa kok kak"
"Sya, bawa aja dia ke kamar buat istirahat" perintah Kenta
Arsya mengangguk "Ayo" ia mengajak Cindy yang sudah berdiri
"Habis ini Lo kesini Sya! Awas Lo ngapa-ngapain anak gadis orang" sergah Erlan yang membuat Kenta tertawa dan Jendris mendengus
"Kayak Lo ngga pernah aja" ledek Dino
"Sialan Lo" sahut Erlan yang tertawa "Soalnya Cindy ini kayaknya anaknya baik-baik. Masih polos"
"Terus Lo pikir gue ngga baik?" Arsya mendengus kesal
Keempat laki-laki itu tertawa melihat raut masam wajah Arsya. Bahkan lelaki itu lebih memilih kembali mengajak Cindy untuk beristirahat
"Lo berdua pasti tau sesuatu kan tentang mereka?" ucap Erlan kepada Kenta dan Jendris setelah Arsya dan Cindy sudah terlihat disana
"Udah pasti ia. Gue yakin Kenta sama Jendris nyembunyiin sesuatu" timpal Dino
Untung saja di tempat itu hanya ada mereka berempat selain Arsya dan Cindy. Teman-temannya yang lain belum datang bahkan sudah ada yang pulang sejak tadi. Dan yang tertinggal hanya keempatnya saja
"Sesuatu apa?" Kenta terlihat biasa saja sambil meneguk minuman kalengnya
"Alah. Lo ngga usah bohong Ken. Gue tau Lo pasti nyembunyiin sesuatu kan dari kita?" Erlan tetap bersikeras
"Emangnya apa yang pengen Lo tau?" kening Jendris berkerut dalam
"Apa hubungan Arsya sama Cindy?" pertanyaan Erlan tepat sasaran
"Asli. Gue juga penasaran banget hubungan mereka apa!" sahut Dino
"Seperti yang Lo lihat sekarang? Dan beberapa hari yang lalu. Menurut Lo hubungan mereka sejauh ini apa setelah Lo analisis?" Kenta menaik turunkan alisnya
Erlan menggeleng "Lo pasti ngerti maksud gue. Kita semua tau! Arsya bukan orang yang mudah suka sama cewek. Apalagi sampai dekat gini. Selama ini kita juga tau, Arsya paling risih kalau dekat sama cewek. Tapi sama Cindy? Kok tiba-tiba bisa berubah? Itu yang ngga masuk di akal gue" tutur Erlan
Sejenak Kenta dan Jendris saling melempar pandangan satu sama lain sebelum keduanya kembali bersikap normal seperti biasa
"Karna emang Cindy anaknya baik" tukas Jendris
"Dan cuma Cindy yang bisa mengubah kebiasaan buruk Arsya ini. Suatu saat nanti kalian juga akan paham dengan sendirinya. Yang jelas, Cindy adalah orang yang paling tepat untuk Arsya saat ini. Dan gue harap kalian mau bantu Arsya buat jagain Cindy. Sebagai teman, kita harus saling melindungi. Apalagi sekarang Arsya sama Cindy ada yang ngincer buat dicelakai" papar Kenta dengan sangat jelas
"Gue setuju sih. Ya... Meskipun gue juga penasaran tentang hubungan mereka. Tapi itu adalah privasi keduanya. Yang paling penting sekarang yah memang kita harus saling menjaga. Kita ngga tau kedepannya akan seperti apa" cetus Dino yang setuju
Erlan pun menggeleng "Ok. Gue nyerah deh nyari tau hubungan mereka"
***
"Mau istirahat atau ngga? Ngapain bengong disitu?" tegur Arsya saat melihat Cindy berdiri di depan sebuah lukisan di dalam kamar tersebut
Cindy akhirnya membalikkan badannya "Tempat ini tuh keren yah di dalamnya? Tapi luarnya serem" ia mendudukkan bokongnya di tepi tempat tidur
__ADS_1
Arsya melirik sekilas "Ngga semua hal bisa Lo nilai dari luarnya aja" sahutnya
Cindy menggeleng "Aku ngga nilai buruk kok. Aku kan cuma ngomongin faktanya aja"
"Kadang fakta yang terlihat pun belum tentu benar" sahut Arsya yang menggeser sofa untuk ia jadikan tempat tidur
Cindy sejenak mencerna perkataan Arsya "Ia sih. Tapi kalau diliat sama mata kepala sendiri kan udah jadi bukti yang kuat? Jadi perlu apa lagi buat nentuin semuanya?"
"Mata kepala sendiri ngga bisa jadi acuan. Perlu analisis data" ujar Arsya sambil membaringkan tubuhnya di sofa tersebut
"Kak? Ngapain tidur disitu?" tegur Cindy
"Terus dimana? Dilantai?" tatapan Arsya berubah menjadi sinis
Cindy mendengus dan memalingkan wajahnya "Padahal nanya baik-baik juga" ketusnya lalu membaringkan tubuhnya di atas ranjang tanpa mempedulikan Arsya lagi
Tiba-tiba tubuh Cindy terjungkal. Ia terkejut dan menoleh ke belakangnya. Lebih terkejut karna mendapati Arsya sudah berada disana
"Ngapain disini?" tanya Cindy dengan ketus
"Lo ngga liat?" Arsya menutup matanya dengan lengannya
"Tadi katanya mau di sofa? Kenapa sekarang jadi disini?" sindir Cindy yang menatap sinis
"Diam. Gue mau istirahat!" Arsya tidak lagi ingin berdebat
"Dih" Cindy pun mencebikkan bibirnya lalu kembali membelakangi Arsya
***
"Gue balik duluan yah?" pamit Arsya kepada teman-temannya
Waktu sudah menunjukkan pukul 8 malam. Setelah mereka menikmati makan malam, Arsya dan Cindy pun berpamitan pulang
Arsya mengangguk "Yakin. Kalian tenang aja. Gue balik dulu yah?" pamitnya kembali
"Hati-hati Lo Sya bawa calon mantan bidadari gue" tukas Jendris yang membuat Arsya menggelengkan kepalanya
"Ayo" ajak Arsya pada Cindy
"Makasih yah kak. Gue balik dulu" pamit Cindy pada teman-teman Arsya lainnya
"Hati-hati yah Cin? Lo hubungi gue kalau di jalan sampai kenapa-kenapa. Ok?" lagi-lagi Jendris memberi pesan
Cindy mengangguk "Ia Kak. Makasih. Pamit dulu" ia pun undur diri dan mengikuti langkah Arsya
"Cepat masuk" perintah Arsya kepada Cindy untuk masuk terlebih dahulu ke dalam mobil
Keempat teman Arsya mengantar mereka sampai depan. Berusaha kembali memastikan jika tempat itu masih aman dari musuh baru Arsya
"Gue balik yah" Arsya pun ikut masuk ke dalam mobil
"Hati-hati" seru mereka berempat
Arsya perlahan menginjak pedal gas mobilnya. Membelah jalanan yang mulai padat dengan beberapa kendaraan yang ikut berlalu lalang saat itu
"Kita nginap di rumah Mama malam ini" ucapan Arsya membuat Cindy terkejut
"Ke... Kenapa?" tanya balik Cindy dengan gugup. Takut-takut jika Arsya tengah marah saat itu
"Kenapa apanya? Kita udah lama ngga ke rumah Mama" sahut Arsya yang melirik sekilas
Cindy pun bernapas lega "Ohh... Ya udah kalau gitu. Boleh-boleh aja kok"
"Kasih tau Bi Imah kalau kita malam ini nginap di rumah Mama. Biar dia ngga usah nunggu kita pulang" cetus Arsya yang membuat Cindy meraih ponselnya
__ADS_1
"Ok" hanya itu jawaban dari bibir Cindy
Setelah memberi tahu Bi Imah. Cindy kembali meletakkan ponselnya di dalam tasnya. Ia menoleh ke arah Arsya. Tampak seperti ingin menanyakan sesuatu namun tertahan
"Ada apa?" ternyata Arsya menyadari jika sejak tadi Cindy terus memperhatikannya diam-diam
Cindy menggeleng lalu memalingkan wajahnya ke luar jendela "Ngga apa-apa"
Tiba-tiba saja Arsya memarkirkan mobilnya di pinggir jalan hingga membuat Cindy keheranan dibuatnya
"Kok berenti? Kenapa?"
"Cepat! Ada apa?" pertanyaan itu kembali terlontar dari mulut Arsya
"Astagaaaa" geram Cindy "Jadi cuma karna itu kamu berenti?" ia tidak habis pikir
"Gue ngga mau basa basi. Cepat! Ada apa-apa" Arsya tampak tidak sabar
"Beneran Kak. Ngga ada apa-apa. Lagian juga ngga penting kok" Cindy berusaha mengelak
Tatapan Arsya menghunus tajam ke arah Cindy hingga membuat wanita itu tampak kikuk dibuatnya
"Jangan natap gitu ah" Cindy menutup wajahnya dengan kedua tangannya
"Gue ngga suka dibuat penasaran" Arsya melepaskan tangan Cindy dari wajahnya
"Sebenarnya ngga penting sih kak. Ngga apa-apa?" Cindy sedikit takut menanyakannya
Arsya mengangguk pasti. Cindy pun perlahan menarik napas lalu menghembuskannya dengan pelan. Lalu kembali menatap Arsya
"Kaleysha itu siapa?" tanya Cindy dengan ragu, bahkan ia tampak mengigit bibir bawahnya
Tampak Arsya sedikit terkejut sebelum akhirnya ia bisa mengatur kembali raut wajahnya
"Tau dari siapa nama itu?" Arsya meluruskan pandangannya ke depan jalanan
"Aku pernah liat nama itu di belakang bingkai foto di kamar kamu" jawab Cindy dengan ragu
"Bingkai foto kamar gue?" kening Arsya berkerut dalam "Bingkai foto yang mana?"
"Kalau ngga salah, itu foto kamu pas masih MOS di SMA" Cindy berusaha mencari jawaban dari pertanyaannya meski ragu
Arsya tidak langsung menjawab "Lo kenapa bisa liat? Padahal itu ngga terlihat?"
"Hmm" Cindy berdehem "Itu.... Ngga sengaja jatuh pas aku lihat-lihat isi kamar kamu" jawabnya
Arsya diam saja sejenak lalu menghela napas "Nanti fotonya gue buang"
Cindy melototkan kedua matanya "Jangan aneh-aneh deh Kak. Foto itu kan kenang-kenangan terakhir pas masa MOS. Masa mau dibuang gitu aja?"
"Ngga penting" sahut Arsya yang sudah mulai melajukan kembali mobilnya
"Yang harus dibuang itu kenangan pahitnya. Bukan fotonya langsung. Kan bisa aja kalau ngga suka bingkainya, ya bingkainya aja yang dibuang. Ganti bingkai baru. Ngga harus fotonya juga yang ikut dibuang" Cindy memberi saran pada Arsya
"Ia. Nanti gue ganti bingkainya" Arsya memilih mengalah namun memang ada benarnya perkataan Cindy
"Emang Kaleysha itu siapa?" lagi-lagi Cindy kembali bertanya "Pacar kamu?"
Arsya diam saja tanpa menjawab pertanyaan terakhir Cindy. Ia lebih memiliki fokus menyetir
Cindy menghela napas dan memalingkan kembali wajahnya ke luar jendela
"Maaf kalau aku nanya hal yang ngga kamu suka"
Perkataan Cindy membuat Arsya merenung namun tidak bisa berkata-kata apapun
__ADS_1